Kaos Kaki Bolong


Cerpen Oleh: Endah Sari Dewi)*

                Kokok ayam jantan memecah maya pada diantara merdunya suara jangkrik. Membangunkan sang mentari dari peraduannya nan elok. Embun pagi membasahi dedaunan, angin dingin berhembus menusuk tulang. Hujan semalam meninggalkan tetesan-tetesan, merembes melalui genting yang bocor. Jatuh begitu manis diatas wajah Zainudin yang sedang pulas. Menggangu mimpi indahnya untuk segera pergi meninggalkannya. Syahdu suara azan menyadarkannya, sambil  mengusap wajahnya ia bergegas dari peraduan. Ia terbiasa bangun duluan, semenjak bapaknya meninggal tiga tahun yang lalu.Menjadi anak tunggal ia harus mandiri dan hidup prihatin.  Dilihatnya kamar emaknya masih tertutup dibawah hiasan lampu minyak yang temaram.

               Ia berkata “Emak … Sudah subuh, ayo bangun….”. Emaknya menyahut sambil terbatuk “Iya nak … ini ibu sudah bangun ….”. Zainudin merasa kasihan sudah seminggu batuk emaknya belum sembuh. Sepeninggal bapak, emak menjadi tulang punggung keluarga dengan berjualan kecil-kecilan. Usaha berjualan pecel, dawet dan gorengan, menjadi penyambung hidup mereka. Terkadang Zainudin tidak tega melihat emak berjuang keras demi mencukupi biaya sekolahnya. Tubuhnya tak lagi sekuat dulu, senyumnya tak lagi mengembang. Semakin hari beban hidup terasa berat dipikulnya. Usai sholat subuh berjamaah Zainudin membantu emaknya didapur. Untuk mempersiapkan sarapan dan dagangan yang akan dijual hari ini. 

            Dapur zainudin masih berlantaikan tanah, ukuranyapun tidak seberapa lebar. Emak mulai sibuk menyiapkan perapian untuk memasak. Segera ia mengambil korek api dan daun kelapa yang mengering. Tungku sudah mulai menyala Emak mengambil batang kayu kemudian memasukkannya.  Ia bertanya ” Zainudin … apakah kamu jadi ikut lomba dai/daiyah dikecamatan? …..”. Zainudinpun menjawab “Iya emak …. tolong doakan saya bisa mengikutinya dengan baik. Emaknyapun menyahut ” Emak selalu mendoakan yang terbaik untukmu nak. Emak bangga kepadamu, berjuanglah mewujudkan impian bapakmu meneruskan ilmunya berdakwah. Ingat nak …. Emak hanya ingin kamu menjadi anak yang sholeh. menyekolahkanmu setinggi mungkin, jangan seperti emak hanya lulus SD”.

           Sinar matahari menerobos dinding rumah Zainudin yang terbuat dari bambu. Cahayanya yang terang mulai menghangatkan suasana didapur. Sarapan pagi sudah tersaji diatas bangku yang mulai reot. Nasi liwet, sayur bening, sambal tomat, beberapa potong tempe sudah siap. Aromanya yang sedap membuat perut Zainudin semakin keroncongan. Zainudin segera mandi lalu sarapan pagi bersama emak. Lauk sederhana yang penuh kenikmatan mengisi perutnya. Menjadi bekal menyambut hari ini dengan semangat. Usai sarapan emaknya berkata “Zainudin…… emak lihat sepatumu sudah mulai lusuh. Kaos kakinyapun sudah ada yang mulai terkoyak. Apa kamu ndak malu toh memakainya untuk lomba hari ini….”. Sambil menaruh gelas Zainudin memandangi kaos kakinya. Sebenarnya ia merasa sedih melihat kaos kakinya sudah mulai bolong. Namun ia tidak tega membuat emaknya cemas.  Zainudinpun menjawab “Kenapa  malu emak …. Kaos kaki itu masih bagus. Biarlah saya pakai, emak jangan khawatir, doa emak yang paling utama”.

           Sambil tersenyum emakpun mengantar Zainudin sampai didepan pintu. Segera Ia berpamitan, taklupa mencium tangan emaknya yang mulai mengeriput. Ada rasa haru tak terbendung mengoyak dada emaknya. Saat menatap putra semata wayangnya pergi sekolah. Hari ini dia ikut lomba dan kaos kakinya mulai bolong. Sementara,ia belum bisa membelikannya yang baru. Beberapa hari ini dia tidak berjualan karena kurang sehat. Untaian doa mengiringi kepergian Zainudin menaiki sepeda ontel peninggalan bapaknya. Dipandanginya sampai tak terlihat lagi di ujung jalan depan rumahnya.

           Napas Zainudin mulai ngos-ngosan saat mengayuh sepedanya dijalan yang berkerikil. Papan nama sekolah sudah mulai tampak dengan jelas. Tertulis MI Muhammadiyah Tanjung Inten Purbolinggo yang berdiri tahun 1963. Tepat pukul 06.30 wib Zainudin sampai di depan gerbang sekolah. Bapak dan Ibugurupun sudah siap menyambutnya dengan senyum ceria. Ucapan salam, cium tangan menenteramkan hati, semoga ridho gurunya memudahkannya belajar. Setelah menaruh sepedanya di tempat parkir, segera ia masuk kedalam kelas VI Al-Ghaffar. Buguru Endah sudah menyambutnya didepan pintu kelas. Dengan lembutnya menyapa Zainudin ” Assalamu’alaikum Zainudin, apa kabarmu nak ?…  “. Zainudinpun menjawab “Wa’alaikum salam Buguru, Alhamdulillah zainudin sehat”. 

          Didalam kelas sudah ada beberapa teman Zainudin yang datang bersamanya. Merekapun sibuk mengerjakan dua soalsarapan pagi yang ditulis dipapan tulis. Ia selalu datang lebih pagi agar bisa mengerjakan dengan baik. Nilai seratuspun sering menghampirinya buah dari hasil belajar dan disiplin. Buguru Endah memandanginya, lalu datang menghampirinya. Seraya berkata “Zainudin nanti setelah kita sholat dhuha berjamaah segeralah kekantor. Buguru dan Bapak Kepala Sekolah akan mendampingimu lomba dai/daiyah”. Zainudin menjawab dengan santun ” Iya Buguru,Zainudin sudah siap….”. Waktu sudah menunjukkan kearah pukul 07.00 wib. Buguru memerintahkan agar semua siswa segera kemasjid untuk sholat dhuha.

      Matahari sudah mulai naik sepenggalan tanda sholat dhuha segera dimulai. Semua anak berbaris dengan rapi sesuai dengan shafnya. Bapak M. Arief Kurniawan selaku kepala sekolah segera megimami sholah dhuha dengan penuh kekhusyukkan. Setelah  zikir dan bersalaman dengan Bapak dan Ibu guru semua siswa masuk kelas. Langkah kaki Zainudin menuju kantor untuk bersiap. Bersama Bu Endah dan Bapak M. Arief Kurniawan menaiki mobil abodemen sekolah. Menuju tempat perlombaan Dai/Daiyah dalam rangka memperingati Tahun Baru 1440 H. Bertempat di Masjid Agung Al-Falah Kec. Purbolinggo. Peserta dan pendamping sudah mulai ramai berdatangan. Setelah pendaftaran Zainudin mendapat no urut ke sepuluh. Semua peserta yang mendaftar ada 27 orang dari seluruh utusan Tingkat SD/MI. Perlombaan dimulai pukul 09.00 wib, semua  antusias untuk menyaksikan jalanya perlombaan. Zainudin mulai deg-degan, sambil menata hati dia mempersiapkan materinya. Yang berjudul “Birul Walidain Jalan Membuka Pintu Syurga“.

          Ada sedikit kegalauan saat Zainudin memandang kaos kakinya yang mulai berlubang. Sambil menahan agar jari jempolnya tidak terlalu banyak keluar dia duduk bersila. Walaupun ada rasa tidak percaya diri segera diusirnya. Ia teringat wajah emaknya agar dia bisa berlomba dengan baik. Menghapus rasa gundah dan  minder menjadi percaya diri dan bersemangat. Satu-persatu peserta mulai dipanggil,  nomor satu begitu bersemanga. suaranya melengking bahasa yang digunakan tersusun rapi. Tepuk tangan mengiringi pentas para peserta. Ada rasa kagum melihat peserta yang sudah duluan tampil. Namun Zainudin pantang menyerah, dia harus bisa berceramah dengan baik. 

          Tibalah saat nomor undian sepuluh dipanggil, Saatnya Zainudin pentas. Sambil mengucap Basmallah Zainudin melangkahkan kaki dengan percaya diri. Walaupun jari kakinya yang jempol sudah tampak mulai nongol. Itu tidak menyurutkan langkahnya untuk segera menuju pentas. Mengawali dengan salam dan pembukaan, Zainudin mulai berceramah. Ia menyampaikan besarnya jasa orang tua terutama Ibu. Yang telah mengandung, melahirkan, dan membesarkan. Jasa ayah yang dengan cucuran keringatnya mencari nafkah yang halal. Dengan penuh berjuangan dari matahari terbit hingga tenggelam.

           Dengan suaranya yang merdu, beberapa Ayat suci Al-Quran dan hadis ia bacakan. Sebagai landasan diperintahkanya kewajiban untuk Birrul Walidain.  Terbayang wajah bapaknya yang sudah tiada, saat menemaninya bermain dan belajar. Begitupun wajah ibunya, membelai dengan kasih yang saat ini sedang sakit. Menjadi cambuk semangat untuk menyampaikan materi dari hati, sungguh menyentuh. Bahkan para juri dan penonton ada yang sampai menitikkan air mata. Saat dia membacakan puisi sebagai akhir dari ceramahnya. Diapun menangis mengingat jasa orang tuan dalam memperjuangkannya.Diakhir ceramahnya tepukan yang meriah, dan keharuan bercampur baur. Tampilannya menghipnotis para penonton untuk turut merasakan kepedihannya. Sebagai anak yatim yang hidup dalam keterbatasan. Lomba  dilanjutkan kembali setelah Istirahat sholat dhzuhur. 

          Acara di mulai kembali pukul 13.00 wib. Satu persatu peserta maju ke pentas. Tak terasa semua peserta sudah selesai pentas dihiasi tepukan yang meriah. Ba’da Sholat Ashar acara pamungkas pengumuman pemenang. Saat inilah saat yang dinantikan semua peserta. Suasana hening, ada rasa penasaran siapakah yang akan menjadi pemenang. Tibalah pengumuman pemenang yang dibacakan oleh Bapak Kepala KUA Kec. Purbolinggo. Beliau mulai  membacakan urutan pemenang suasanapun tegang. Dimulai dari juara III yang diraih oleh M. Abdan Syafi’i dari SD I Toto Harjo, juara II diraih oleh Rosyidah Zulaikha dari MI Ma’arif Tujuh Taman Fajar, dan inilah yang dinanti-nantikan sang juara I diraih Zainuddin dari MIM Tanjung Inten Purbolinggo Rasa tidak percaya namanya disebut sebagai juara I Zainuddin hanya terdiam. Kemudian Bu Endah menyentuh pundaknya seraya berkata “Anakku Zainudin selamat kamu mendapatkan juara I. Ayo bergegaslah kedepan kamu sudah ditunggu nak …”. Menyadarkan Zainudin untuk segera bangkit menuju ke mimbar juara. Ungkapan syukur Alhamdulillah ia ucapkan sambil menitikkan air mata. Akhirnya Ia bisa meraih predikat Juara I Dai Terbaik Tingkat Kecamatan. Setelah acara pembagian hadiah banyak ucapan selamat Zainudin dapatkan. Namun dia tetap rendah hati dan bersyukur. Bahwa apa yang ia raih sekarang adalah berkat doa Ibu dan bimbingan gurunya.

         Ada yang istimewa hari ini Zainudin pulang diantar Pak Kepala Sekolah beserta Bu Endah. Sampai di depan rumah, tampak emaknya tergopoh-gopoh menuju halaman. Dilihatnya ada mobil abodemen sekolah datang, siapakah gerangan tamu istimewa yang datang kerumahnya. Ternyata ada Bapak Kepala Sekolah dan Ibu Guru MI Muhammadiyah Tanjung Inten. Mereka turun dari mobil disusul Zainudin yang turun membawa piala yang besar dan tinggi. Segera Zainudin berlari memeluk emaknya sambil menangis memegangi piala. Dengan penuh haru ia berkata “Emak ini piala untuk emak. …. Zainudin tadi berhasil meraih juara I Lomba Dai Terbaik ….”. Emaknyapun berurai air mata sambil berucap “…. Emak dan Bapak bangga denganmu Nak …”. Bersyukurlah kepada Allah atas hasil jerih payahmu ini. Jangan sampai engkau tinggi hati.Jadilah seperti padi, semakin berisi semakin merunduk ….”. 

         Tanpa sadar Pak Arief dan Bu Endahpun merasa haru turut menitikkan air mata. Merasa bangga dengan Zainudin, atas perjuangan yang sudah ia lalui. Walaupun menjadi anak yatim yang hidup dalam kesederhanaan namun mempunyai banyak prestasi. Matahari sudah mulai bergeser menuju peraduaanya, Pak Arief dan Bu Endah segera pamit, tak lupa Emak Zainudin mengucapkan terima kasih yang sangat mendalam atas semua bimbingan yang telah diberikan kepada Zainudin. Hari ini menjadi hari yang sangat Istimewa untuk keluarga Zainudin dan Keluarga besar MIM Tanjung Inten. Sebuah prestasi besar yang akan menghantarkan anak didiknya untuk mengikuti lomba di Tingkat Kabupaten.         Langit mulai gelap, emak Zainudin menutup pintu rumahnya. Gerimis mulai turun, angin dingin berhembus menerobos dinding rumah Zainudin. Nyala lampu minyak menerangi ruang tengah. Rumah geribik yang penuh kesederhanaan, tampak sepeda ontel bersandar di dinding. Emak memandangi wajah Zainudin yang tertidur dipangkuannya. Dipandangi wajahnya yang pulas, tampak sekali ia mirip dengan bapaknya. Sifat dan tanggungjawabnya, menjadi semangat untuk mendampinginya menjalani hidup ini. 

)* Guru MI Muhammadiyah Tanjung Inten kec. Purbolinggo Lampung Timur)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *