4 menit waktu baca

Kalau Saja Aini Jadi Dokter

Oleh: David Efendi

Kalau Aini-Aini di negeri ini berhasil merebut kesempatan jadi dokter, corona barangkali lebih baik ditangani. Ya, saya berharapnya begitu di tengah problem biaya mahal sekolah dokter. Andrea Hirata menuturkan mimpinya dan corona hari ini membela mimpi itu. Guru Aini. Itu judul novelnya. Aini adalah murid dan bu Desi adalah guru matematika juara paling tangguh se Republik Indonesia. Aini punya cita cita masuk fakultas kodektoran, ingin jadi dokter yang bisa menolong orang lain.

Menjadi dokter itu kayak garis nasib orang kaya. hanya pejabat kelas tinggi yang akan mampu memenuhi tagihan biaya biaya itu. Masuk saja sudah ratusan juta, bagaimana keluarnya? Tak heran banyak orang sanksi apakah dokter akan menolong kesengsaraan umum atau hanya memulangkan modal besar yang telah dihabiskan oleh keluarganya? wallahu alam. Mental Aini ini kebayang, akan menjadi sangat militan.

17.05.20 adalah hari buku nasional untuk Bangsa Indonesia. Banyak orang punya cara merayakannya tetapi lebih banyak yang tak punya kesempatan baik untuk memeluk buku dan menyandarkan asa, harapan, dan cita citanya pada keajaiban buku.

Aku membacai guru aini. Novel yang keren bersama novel lainnya “orang orang biasa.” Banyak keganjilan, drama, tapi juga aksara penuh makna. Novel manusiawi, novel yang jujur pada kepahitan hidup dan perjuangan menegakkan cita cita teramat mulia.

Kalau Aini aini di negeri ini berhasil masuk fakultas kedokteran, mungkin penanganan korona jauh lebih baik di negeri ini.

Cita-cita itu tak hanya untuk diceritakan, tetapi harus diperjuangkan. Keyakinan ini adalah kekuatan terbaik yang dimiliki Aini. Selain itu, semesta alam akan punya cara bagaimana mewujudkannya.

Banyak anak Indonesia tak berani mimpi jadi dokter? Aini pengecualian. Anak “bodoh”nya sampai ke tulang sumsum ini nekad bercita cita jadi dokter. Ayahnya sakut sakitan kena virus, Aini ingin mencari cara mengatasi virus dengan jalan menaklukkan matematika terlebih dulu. Upaya yang pelan tapi pasti.

Baca juga:  Kokam Kemanusiaan dan Ainul Yakin

Aini cita cita dokter nama julukannya dan guru Desi yang punya kesabaran tingkat dewa menemani Aini yang bercita cita jadi dokter untuk mengobati ayahnya. Tentu saja juga akan mengobati banyak orang yang memerlukanya. Aini tak punya bayangan menjadi dokter agar kaya raya. Itu bedanya.

Di tengah pragara corona, menjadi dokter adalah kemuliaan karena kekuatan daya menolong sesama. Kegagalan aini adalah cerita penuh makna menjawab teka teki kenapa jumlah rasio dokter di Indonesia begitu timpang. Bahkan ada satu kabupaten hanya punya satu dokter saja. Kalau kita di novel Aini, pastilah tak mencibir cita cita anak yang tak ada kecakapan secuil pun tentang matematika. Bukankah jurusan kedoktoren itu mensyaratkan matematika yang cumlaude? pasti.

Aini tak menyerah. Semakin hari daya belajar bertambah, setiap pekan kemarahan bu desi berbeda tingkatannya. Ukuran itu kemudian jelaskan dalam mukjizat kalkulus yang dipelajari Aini dari guru Desi.

Bagian “ayahku adalah tanggung jawabku” dan “guru Aini” bagian yang sangat menarik karena kemarahan itu diselamatkan oleh buku kalkulus. Ilmu pengetahuan bisa menjadi kompas dalam kehidupan juga dalam tata kelola pandemi. Sedih rasanya, ada berita bahwa pemerintah Indonesia itu tak melibatkan ilmuwan di dalam mengurus covid-19. Kalau tak percaya kepada ilmuwan? bagaimana negara ini nasibnya? akankah kegelapan yang memimpin negeri ini? masuk ke dalam kerajaan sihir adalah kembali kepada abad pertengahan.

Saya ingin menceritakan singkat berita dari ABC news. begini:

Pandu Riono, epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) yang merancang pemodelan COVID-19 di Indonesia adalah salah satu orang yang sejak awal sadar pentingnya sains dalam penanganan wabah corona.

Baca juga:  Menggerakkan buku adalah investasi akhirat

Sejak virus corona di Wuhan merebak, ia sudah mulai mempelajarinya sebagai langkah antisipasi bila virus ini masuk ke Indonesia.

Sikap menganggap enteng virus corona yang dipertontonkan pejabat Indonesia mendorong Pandu untuk giat meneliti wabah corona jika sewaktu-waktu pemerintah memerlukan bantuan.

Pandu dan sejawatnya kemudian membuat pemodelan terkait lonjakan pasien jika kita tidak ada intervensi yang serius, yang akhirnya dipakai oleh BAPPENAS untuk mengestimasi kebutuhan rumah sakit.

Selain itu, ia juga mempresentasikan temuannya ke beberapa pemerintah daerah. Tapi bukan berarti input-input yang diberikan Pandu langsung diterima oleh pemerintah.

Pandu dan tim menyadari: “Memberikan input kepada pemerintah] ini tantangan besar untuk saya, terutama bagaimana menerjemahkan penemuan akademis menjadi sebuah kebijakan,”

Maka di hari buku ini kita renungkan ajaran teladan Aini dan bu guru Desi yang begitu menghargai ilmu pengetahuan dan memperjuangkannya.

“seribu bala tentara tak dapat mencegah Aini, mereka yang ingin belajar tak dapat diusir.” Begitulah gambaran mentalitas si murid Aini. Kekuatan dan daya tahan demikian sangatlah perlu bagi dokter Indonesia yang harus berkorban menolong banyak orang di berbagai pelosok yang sangat karam. Maka diam-diam kita harus mengamini niat Aini yang masih banyak tersebar di berbagai daerah. Kelak Aini harus menjadi dokter. Bangsa ini akan lebih baik diurus dokter-dokter yang bermental baja. Aini punya itu, dan saya kira itu ada di hati banyak anak bangsa.

Selamat hari buku nasional 17 Mei 2020. Semoga negara ini semakin bener diurus panitianya. Kalau ndak ya #Indonesiaterserah.

Komentar Facebook Sobat Taman Pustaka
Kuy, berbagi...