Kader Harus Membaca: Muhammadiyah Rekomendasikan Dialog Sunni-Syiah


Berikut adalah materi Tanfidz Muktamar terkait MUHAMMADIYAH DAN ISU-ISU STRATEGIS KEUMATAN, KEBANGSAAN, DAN KEMANUSIAAN UNIVERSAL. Silakan disimak baik-baik dan downlod tanfidz lengkapnya.

Bismillahirrahmanirrahim
Muhammadiyah senantiasa bergerak dalam lingkungan umat, bangsa, dan dunia kemanusiaan universal yang sarat dinamika, masalah, dan tantangan aktual yang kompleks dengan keniscayaan melakukan ikhtiar mencermati, mengantisipasi, dan memberikan solusi strategis dalam bingkai Islam berkemajuan menuju pencerahan peradaban. Melalui Muktamar ke-47 tanggal 18-22 Syawwal 1436 H bertepatan 3-7 Agustus 2015 M di Makassar, setelah mencermati perkembangan aktual dalam berbagai ranah kehidupan maka Muhammadiyah menyampaikan isu-isu strategis keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan universal sebagai berikut:

A. ISU-ISU KEUMATAN

*1. Keberagamaan Yang Moderat *

Perkembangan mutakhir menunjukkan gejala meningkatnya perilaku keberagamaan yang ekstrim antara lain kecenderungan mengkafirkan pihak lain (takfiri). Di kalangan umat Islam terdapat kelompok yang suka menghakimi, menanamkan kebencian, dan melakukan tindakan kekerasan terhadap kelompok lain dengan tuduhan sesat, kafir, dan liberal. Kecenderungan takfiri bertentangan dengan watak Islam yang menekankan kasih sayang, kesantunan, tawasuth, dan toleransi. Sikap mudah mengkafirkan pihak lain disebabkan oleh banyak faktor antara lain cara pandang keagamaan yang sempit, miskin wawasan, kurangnya interaksi keagamaan, pendidikan agama yang eksklusif, politisasi agama, serta pengaruh konflik politik dan keagamaan dari luar negeri, terutama yang terjadi di Timur Tengah.

Mencermati potensi destruktif yang ditimbulkan oleh kelompok takfiri, Muhammadiyah mengajak umat Islam, khususnya warga Persyarikatan, untuk bersikap kritis dengan berusaha membendung perkembangan kelompok takfiri melalui pendekatan dialog, dakwah yang terbuka, mencerahkan, mencerdaskan, serta interkasi sosial yang santun. Muhammadiyah memandang berbagai perbedaan dan keragaman sebagai sunnatullah, rahmat, dan khazanah intelektual yang dapat memperkaya pemikiran dan memperluas wawasan yang mendorong kemajuan. Persatuan bukanlah kesatuan dan penyeragaman tetapi sinergi, saling menghormati dan bekerjasama dengan ikatan iman, semangat ukhuwah, tasamuh, dan fastabiqu al-khairat. Dalam kehidupan masyarakat dan kebangsaan yang terbuka, Muhammadiyah mengajak umat Islam untuk mengembangkan sikap beragama yang tengahan (wasithiyah, moderat), saling mendukung dan memperkuat, serta tidak saling memperlemah dan meniadakan kelompok lain yang berbeda.

2. Membangun Dialog Sunni-Syiah

Akhir-akhir ini energi umat tersedot dalam persoalan pertentangan antara pengikut kelompok Sunni dengan Syiah. Walaupun masih dalam skala yang relatif kecil dan lokal, kekerasan Sunni-Syiah berpotensi meluas dan mengancam sendi-sendi persatuan umat dan bangsa Indonesia. Akar konflik Sunni-Syiah sangat kompleks antara lain karena masalah kesenjangan ekonomi, imbas konflik politik di Irak, Syiria, dan Yaman, serta persaingan pengaruh politik-keagamaan antara Iran dengan Arab Saudi di negara-negara Muslim, termasuk di Indonesia. Pertentangan semakin tajam ketika ditarik ke ranah teologis dan sejarah pertumpahan darah di antara pengikut Sunni-Syiah di masa silam. Untuk mencegah semakin meluasnya konflik antara kelompok Sunni-Syiah di Indonesia, Muhammadiyah mengajak umat Islam untuk mengadakan dialog intra umat Islam. Dialog dimaksudkan untuk meningkatkan saling memahami persamaan dan perbedaan, komitmen untuk memperkuat persamaan dan menghormati perbedaan, serta membangun kesadaran historis bahwa selain konflik, kaum Sunni dan Syiah memiliki sejarah kohabitasi dan kerjasama yang konstruktif dalam membangun peradaban Islam.

Muhammadiyah mengajak umat Islam untuk bersikap arif, menghormati semua sahabat dan keluarga Nabi Muhammad dengan tetap memegang teguh kemurnian akidah sehingga tidak terjebak pada pengkultusan individu. Sebagai kekuatan Muslim terbesar di dunia, umat Islam Indonesia harus tampil sebagai penengah dan inisiator dialog. Membawa konflik negara lain ke Indonesia atas dasar sentimen golongan berpotensi merusak persatuan umat dan bangsa serta lebih jauh dapat melemahkan diri di tengah percaturan politik global. Muhammadiyah menghimbau kepada Pemerintah Indonesia untuk mengambil prakarsa dialog di atas prinsip politik bebas aktif dan perjuangan menciptakan perdamaian dunia.

3. Substansialisasi Agama

Perkembangan teknologi telekomunikasi dan transportasi menciptakan perubahan besar terhadap tradisi, gaya hidup, dan pola keberagamaan dalam masyarakat.

Selengkapnya: http://www.muhammadiyah.or.id/muhfile/download/TANFIDZ%20MUKTAMAR%2047.pdf


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *