1 menit waktu baca

Kabar Pustaka: Pluralisme Positif

Oleh: Fauzan A Sandiah

Redaktur Muhammadiyah.id

 

Mungkin ini satu-satunya buku yang menegaskan memang ada praktik pluralisme dalam Muhammadiyah. Kajian-kajian sebelumnya lebih banyak membaca kegamangan Muhammadiyah dalam isu keragaman. Contohnya buku Pluralisme dan Liberalisme; Pergolakan dan Pemikiran Anak Muda Muhammadiyah (2005). Buku-buku sebelumnya memotret “kegalauan” anak muda Muhammadiyah dengan isu pluralisme atau liberalisme (misalnya Shofan, 2008: Biyanto, 2009). Tapi itu dulu. Banyak percobaan awal ini karena terlalu fokus pada adaptasi Muhammadiyah terhadap pluralisme justru tidak memperhatikan bahwa pluralisme itu sendiri harus dihadapi tanpa mitos. Maksudnya pengakuan atas keragaman itu sendiri sungguhlah bukan perkara harmonisasi antar umat lintas agama dan suku-bangsa. Buku ini lebih berani mengklaim bahwa “pluralisme” itu sendiri tidak berjalan sebagaimana kebanyakan orang membayangkannya sebagai “kehidupan harmonis, toleran dan saling menghargai.”

Dengan menggunakan studi kasus pada lembaga pendidikan Muhammadiyah di kawasan mayoritas Kristen di luar Jawa, pluralisme ala Muhammadiyah justru dimulai dari praktik langsung. Misalnya menyediakan guru agama Kristen untuk murid atau mahasiswa sekolah/kampus. Meski tak punya konsep utuh tentang apa itu pluralisme, Muhammadiyah ternyata punya karakter bawaan untuk melebur dengan kearifan lokal. Ini mungkin asing bagi kita yang mendiami Jawa dengan realitas “Islam” yang sangat dominan. Singkatnya buku ini menunjukkan bahwa pluralisme yang kita kenal sebagai penemuan Eropa atas etika sosial dari globalisasi nyatanya juga punya akar pada organisasi Islam (bdk. Hefner, 2001). Maka tidak heran orang boleh menolak konsep “pluralisme” tapi menerima dan mengidentifikasi diri menganut “moderatisme” atau wasathiyah bukan?

Komentar Facebook Sobat Taman Pustaka
Kuy, berbagi...
Baca juga:  Perpustakaan negara tutup, Perpustakaan Jalanan buka