Jangan Mengaitkan Agama dengan Teroris 


Haidir Fitra Siagian , Ph.D)*

Awal tahun 2000-an, di negara kita pernah beberapa terjadi peledakan bom, pengrusakan atau pembakaran rumah ibadah dan berbagai bentuk kekerasan yang menelan korban jiwa. Selain menimbulkan hanya korban jiwa, juga menyebabkan penderitaan masyarakat, baik secara psikis maupun mental. Bukan hanya mereka yang terkena bom atau korban yang berada di sekitar lokasi, kita saja yang jauh dari lokasi, menjadi korban juga. Kita ikut panik atau cemas. Menjadi takut jika sewaktu-waktu ada bom meledak di sekitar kita, yang boleh jadi mengorbankan jiwa-raga kita, saudara, rekan atau umat manusia lainya.

Kita sempat sedikit bernafas lega dengan tertangkapnya mereka yang oleh aparat keamanan disebut sebagai pimpinan teroris, yakni Dr. Azhari dan Nurdin M. Top. Saat itu, dikabarkan mereka telah meninggal dunia. Dengan penangkapan tersebut, sebenarnya kita berharap tidak ada lagi yang namanya teroris di negara ini. Justru sebaliknya, beberapa kasus muncul belakangan, peledakan rumah ibadah, tempat keramaian, dan kerusuhan di markas tahanan aparat keamanan.

Peristiwa terakhir yang berada di pelupuk mata adalah peristiwa kemarin di Surabaya, bulan lalu.  Dalam rentang 25 jam terjadi empat kali bom meledak, tiga berada di kompleks  rumah ibadah dan satu lagi di dekat kantor kepolisian setempat. Setiap kali ada peristiwa yang sangat mengenaskan seperti peledakan bom dan sejenisnya, umumnya menyebabkan korban jiwa dari rakyat biasa yang tidak berdosa. Ada yang meninggal dunia dan adapula yang luka-luka, termasuk dari aparat kepolisian.  Kita mendoakan agar korban yang sakit segera sembuh dan korban yang meninggal dunia memeroleh tempat yang layak di sisi Tuhan sesuai dengan keyakinannya masing-masing.

Mengaitkan dengan Agama

Setiap terjadi peristiwa terorisme seperti  yang demikian, sering dikaitkan dengan agama. Baik sebagai ajaran agama maupun sebagai umat beragama tertentu dengan pelaku tindak kekerasan tersebut. Mengingat kejadian ini terjadi di Indonesia yang mayoritasnya beragama Islam,  maka kerap ada selentingan yang mengaitkan terorisme dengan agama Islam. Seolah-olah dalam agama Islam terdapat ajaran atau anjuran berjihad  untuk membunuh orang-orang yang tak berdosa dengan alasan yang hanya mereka sendiri yang tahu. Selentingan seperti ini,  bukan hanya datang dari umat agama lain, tetapi juga datang dari penganut agama Islam itu sendiri, seperti selebriti, dan narasumber lainnya di media massa termasuk postingan pada media sosial.

Bebepara postingan di media sosial patut diduga turut mengaitkan perilaku pelaku teror dengan agama Islam antara lain; “saya khawatir di surga nanti dipenuhi oleh para pembunuh”, “aku nikahkan Siti Annisah dengan Kamaruddin dengan mahar tiga buah bom lillahi ta’ala”. Itu jelas merupakan indikasi kuat coba menghubungkan agama Islam dengan teorisme. Untuk contoh pertama berkaitan dengan seruan jihad yang memang jika dilakukan dengan sungguh-sungguh secara benar, maka balasannya adalah surga, itu benar dalam ajaran Islam.

Tetapi jika dikaitkan dengan pembunuhan secara membabi buta seperti yang dilakukan teroris berkenaan, tentu perlu didiskusikan terlebih dahulu. Demikian juga contoh kedua, berkaitan dengan tata cara pernihakan dalam agama Islam yang mengharuskan adanya mahar dari pihak lelaki kepada perempauan. Dan berbagai contoh kalimat-kalimat lainnya yang bernada negatif kepada agama Islam.

Beberapa sikap para pelaku yang tertangkap sebagai teroris ini, memang sering memiliki hubungan dengan simbol-simbol agama Islam dan memang sebenarnya mereka adalah ada yang merupakan penganut agama Islam. Misalnya, mereka yang tertangkap dan menjadi terdakwah di pengadilan, kerap meneriakkan kalimatullah, takbir, sholawat, memakai songkok hitam yang biasa dipakai ke masjid, memakai baju koko putih,  berjenggot lengkap dengan parfumnya serta celana panjang yang sedikit diperpendek melebihi batas mata kaki.  Bukan hanya terdakwa, para pengunjung di ruang sidang pengadilan juga memakai yang demikian. Walaupun ini masih bisa diperdebatkan, tetapi kesemua itu adalah simbol-simbol yang kerap dekat dengan sebagian kalangan umat Islam. Apakah lantas dengan  dasar itu, maka umat Islam diasosiasikan sebagai agama teroris atau agama yang mendorong umatnya melalukan teror?

Penyebab Konflik

Tokoh sosial-keagamaan dari Malaysia, Wan Mohd Nor Wan Daud, pernah mengungkapkan  bahwa banyak orang mengatakan agama sebagai sumber perpecahan dan konflik antar manusia. Menurutnya ini ada benarnya. Tetapi yang paling benar adalah perbedaan kepentingan politik penguasa, ekonomi, dan etnislah yang banyak menimbulkan persengketaan dan penindasan dalam sejarah manusia.

Wakil Presiden Jusuf Kalla ketika menjadi pembicara dalam World Leader Forum di Columbia University, Amerika Serikat pada 22 September 2017 mengatakan bahwa  agama bukanlah ajaran yang menyebabkan  munculnya konflik. Menurut JK,  sesuai dengan pengalamannnya sebagai juru damai kelompok yang bertikai di Ambon dan Poso tahun 2000-an, penyebab konflik itu lebih kepada ketidakadilan.

Sedangkan beberapa waktu, Presiden Republik Indonesia,  Jokowi Widodo didampingi sejumlah menteri, mengeluarkan pernyataan bahwa tidak ada kaitan antara agama manapun dengan teroris.  Bagi saya, pernyataan ini cukup melegakan sekaligus menyejukkan, karena menjadi momen untuk membersihkan tuduhan terhadap agama manapun, termasuk agama Islam, dari sesuatu yang kerap diasosiasikan sebagai teroris.

Jadi mengapa ada bom atas nama agama? Tidak juga, saya kira itu adalah klaim-klaim sesaat untuk kepentingan politik tertentu. Mengapa sering dalam penangkapan pelaku teror dalam dompetnya terdapat  gambar ISIS, tulisan Al Qur’an, kartu anggota organisasi keagamaan Islam, atau sering pula melakukan perlawanan dengan kalimat takbir? Tentu  hal ini tidak cukup dijadikan barang bukti bahwa mereka itu adalah penganut ajaran Islam yang mendukung gerakan teroris. Bahkan terlalu naif jika ini dikaitkan dengan Islam. Sebab dalam konsepnya, agama Islam sama sekali tidak pernah menganjurkan untuk melakukan segala cara untuk memenuhi keinginannya, termasuk dalam bidang politik, ekonomi dan sosial.

Sekiranya pun dalam penyelidikan pihak keamanan misalnya, terdapat sekelompok umat Islam yang mengaku sebagai pelaku peledakan bom atau tindak kekerasan lainnya, juga tidak cukup untuk mengaitkan agama dengan teroris. Masih perle penyelidikan lebih lanjut terhadap aspek-aspek yang terkait dengan masalah ini. Termasuk diantara yang perlu diperjelas adalah pemahaman agama yang mana yang mereka terapkan untuk melakukan kekerasan? Apakah ini sesuai dengan syariat yang sebenarnya. Apa juga motivasi mereka, dan tentu siapa yang menjadi aktor intelektual di belakang peristiwa tersebut.

Dalam bidang politik atau peperangan misalnya, terdapat etika yang harus dijunjung tinggi. Jika ada pihak yang melanggar etika tersebut, tentu itu adalah satu pelanggaran terhadap agama. Pelanggaran terhadap ajaran agama, tentunya sudah keluar dari nilai-nilai agama itu sendiri. Misalnya, tidak dibenarkan membunuh orang yang tidak terlibat perang, pihak yang sudah menyerah, anak-anak, perempuan, termasuk tidak dibenarkan merusak makhluk hidup lainnya, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Inilah indahnya agama Islam.

Bahwa terdapat pihak-pihak tertentu yang memamfaatkan isu jihad agama untuk kepentingan mereka, itu bisa saja terjadi. Siapa mereka? Ini kita berharap diungkapkan secara transparan oleh aparat hukum di negeri ini, sebagaimana tanggapan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. H. Haedar Nashir, M.Si. Sebab dalam konteks politik dan ekonomi yang tidak memiliki etika atau bagi mereka yang sudah kehilangan nurani, segala cara dapat dilakukan, termasuk memanfaatkan isu-isu keagamaan.

Boleh jadi pihak-pihak tersebut  memelihara para pelaku teror ini, misalnya berbasis sekolah, madrasah, pondok pesantren, organisasi keagamaan, pengajian atau kelompok tarbiyah, dan seterusnya. Kemungkinan itu tentu ada, sebabnya adalah masih ada masyarakat yang tingkat pemahaman keagamaannya masih perlu dibina secara utuh dan berkesinambungan sesuai dengan nilai-nilai Islam yang murni.

Siapa yang harus membina umat tersebut? Tentu secara formal, negara harus berada di garda terdepan dalam membina umat, bukan hanya umat Islam tetapi juga secara merata kepada umat beragama lainnya. Disamping itu, para pimpinan organisasi sosial-politik, para opinion leader dan tokoh potensial lainnya harus turun tangan, sesuai dengan kapasitas masing-masing dalam waktu segera.  ***

 

*Dosen Komunikasi Politik, Fakultas Dakwah dan KomunikasiUIN Alauddin Makasar


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *