10 menit waktu baca

Jalan Temaram Menyalakan Lentera Literasi

Oleh : Isyani

Berangkat dari keprihatinan pemerintah tentang rendahnya minat baca masyarakat Indonesia, pemerintah meluncurkan program Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Gerakan Literasi Sekolah dikembangkan berdasarkan Permendikbud Nomor 21 Tahun 2015 menjadi sebuah gerakan yang wajib dilaksanakan oleh semua sekolah. Atas dasar itu semua sekolah seakan berlomba-lomba mengukuhkan diri sebagai pioner program literasi. Membaca buku non pelajaran selama lima belas menit di awal proses pembelajaran telah menjadi gerakan yang massif di berbagai sekolah.

Tapi apa makna literasi yang sesungguhnya ? Apa hanya sekedar membaca lima belas menit di awal pembelajaran saja ? Pada kenyataannya persepsi tentang makna literasi masing-masing guru belum sama. Masih banyak yang memandang literasi seacara sempit yaitu hanya sekedar membaca dan menulis saja. Lantas apa manfaat yang bisa diambil oleh anak-anak jika literasi hanya dimaknai sedangkal itu. Hanya sekedar membaca lima belas menit diawal pembelajaran saja dan tidak berlanjut pada jam berikutnya ataupun ketika di rumah, sehingga mustahil kegemaran membaca akan menjadi sebuah budaya. Hal ini menimbulkan kesan bahwa membaca bukan karena kebutuhan tapi hanya karena perintah. Jika hanya seperti itu, maka sudah bisa dipastikan program literasi sekolah hanya akan jalan ditempat dan tidak akan membuahkan hasil apapun. Budaya dan minat baca generasi penerus kita tidak akan beranjak dari zona bawah. Lantas bagaimana memaknai literasi yang sebenarnya?

Menilik lebih lanjut makna literasi sangatlah luas tidak hanya sekedar membaca dan menulis saja. Menurut Education Development Center (EDC) menyatakan bahwa literasi adalah kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan keterampilan (skills) yang dimiliki dalam hidupnya. Dengan pemahaman bahwa literasi mencakup kemampuan membaca kata dan membaca dunia. Kemampuan tersebut dapat dicapai dengan kemampuan membaca, sehingga memunculkan keterampilan yang lain, baik kemampuan berkomunikasi, memecahkan masalah dan berpikir kritis.

Bagi masyarakat muslim, pentingnya literasi ini ditekankan dalam wahyu pertama Allah kepada Nabi Muhammad SAW, yakni perintah membaca (iqraa’) yang dilanjutkan dengan mendidik melalui literasi. Jadi meumbuhkan budaya baca sebenarnya sudah menjadi tanggung jawab bersama baik keluarga, pemerintah maupu masyarakat. Jadi langkah pertama dalam menyukseskan Gerakan Literasi Sekolah adalah memberi pembekalan serta pemahaman terhadap guru guna menyamakan persepsi tentang makna, cakupan serta strategi-strategi untuk mengabungkan literasi dalam proses pembelajaran.

Bermula dari berbagai permasalahan tersebut, saya sebagai seorang pendidik ingin menciptakan suasana pembelajaran literasi yang berbeda di sekolah tempat saya mengabdi. SD Banyuripan, sebuah sekolah terpencil di kecamatan Kasihan Bantul dengan letak geografis yang berbukit-bukit. Berlokasi diperbatasan antara kecamatan Kasihan dan Kecamatan Pajangan ini berdirilah sebuah sekolah yang sederhana dengan fasilitas seadanya. Namun dibalik keserhanaan itu terdapat wajah ceria anak-anak polos yang belum terpapar kehidupan kota yang siap menggapai mimpi bersama. Disekolah yang sejuk dengan rindangnya pohon ketepeng serta halaman yang luas, dikelilingi pohon jati disisi kiri dan kanan sekolah mereka siap merajut asa bersama. Jumlah murid yang tak terlalu banyak bahkan jauh dibawah standar yang ditetapkan oleh pemerintah itu membuat guru-gurunya lebih menyanyangi dan mencurahkan perhatian pada mereka. Binar mata cemerlang mereka menampakkan tekad yang membara, sehingga kami menjuluki merekate “Anak-Anak Matahari”. Anak-anak yang selalu riang semangat belajar dengan segala keterbatasan walau di tengah teriknya panas matahari. Mereka yang selalu merindukan terbitnya sang matahari untuk bisa menuntut ilmu dengan bapak ibu guru di SD Banyuripan. Anak-anak yang selalu siap membantu pekerjaan orang tuanya hingga matahari terbenam. Anak-anak ceria yang senantiasa mengejar mimpi seperti halnya matahari yang tak lelah menyinari bumi.

Baca juga:  Suara Muhammadiyah Melawan Arus

Di sekolah itulah saya menempa anak-anak yang masih polos dengan segala keluguannya untuk lebih giat berliterasi. Mengenal dan menaklukkan dunia dengan membaca buku, cakap berliterasi secara luas dengan dibekali kemampuan kolaborasi dan komunikasi. Bermula dari kegiatan workshop literasi yang kala itu kami adakan karena tuntutan akreditasi sekolah. Saya menggandeng teman saya Yeti Kartikasari yang merupakan pegiat literasi dari Pandaan Jawa Timur untuk mengisi acara literasi di sekolah kami sekitar bulan Juli 2017. Dari situ anak-anak mulai dikenalkan tentang makna literasi yang lebih luas. Literasi yang bukan hanya sekedar membaca saja, tapi termasuk kemampuan berbicara di depan umum dengan rasa percaya diri dan bagaimana bersikap untuk menghormati orang lain yang sedang berbicara. Kemampuan berpikir kritis dan mengolah informasi yang mereka terima secara cerdas. Selain itu Yeti Kartikasari juga menyampaikan trik-trik parktis dalam menulis menggunakan rumus menulis 5 W+1H.

Sejak saat itu anak-anak mulai rajin membaca, karena untuk menghasilkan tulisan yang baik mereka harus membekali diri terlebih dahulu untuk membaca. Perlahan-lahan kegemaran membaca mereka mulai saya rawat dan tumbuhkan. Saya selalu memotivasi mereka untuk gemar membaca, sesekali saya juga menyuruh mereka menceritakan inti dari buku yang ia baca. Selain motivasi hal terpenting yang harus saya lakukan adalah memberi teladan. Saya cerita hal-hal menarik saat saya membeli buku, bahkan terkadang saya bawa dan tunjukkan buku yang sedang saya baca ke mereka. Saya ceritakan sedikit inti dari isi buku tersebut untuk menimbulkan rasa keingintahuan mereka.

Membakar semangat membaca ternyata lebih mudah daripada merawatnya. Butuh strategi untuk menumbuhkan semangat supaya tetep terjaga dan tumbuh dengan subur. Berbagai strategi saya coba lakukan untuk tetap menjaga semangat itu. Salah satunya dengan cara motivasi dengan mendatangkan guru tamu yang kompeten dibidangnya. Ini akan menjadi angin segar dan menimbulkan suntikan semangat bagi mereka. Hal ini pula yang mengantarkan saya untuk kembali mengadakan workshop literasi di sekolah kami. Lagi-lagi saya megajak sahabat saya Yeti kartikasi untuk berkenan datang lagi kembali ke sekolah kami. Pada kesempatan kali ini ia tidak datang sendiri, tapi mengajak sera temannya Afik Rahman yang juga seorang penulis buku untuk berbagi cerita menebar virus literasi ke sekolah kami.

Untuk memajukan program tersebut serta merawat semangat anak-anak, saya pun berinisiatif untuk membuat beberapa program literasi guna memajukan sekolah kami. Beruntung kami mempunyai kepala sekolah yang melek literasi yang mempunyai kegemaran menulis ke beberapa surat kabar, sehingga dengan mudah beliau mengijinkan program yang saya ajukan. Beliau adalah bapak Juwanta, S.Pd yang senantiasa menyemanagati kami untuk memajukan sekolah dengan program-program unggulan, salah satunya program literasi.
Program pertama yang kami adakan adalah wisata literasi. Kenapa saya memberi nama wisata literasi ? Karena program ini tidak hanya sekedar piknik dan senang-senang biasa, namun ada banyak kegiatan literasi dalam acara ini, seperti membeli buku, wawancara dengan petugas dan pengunjung serta menulis hasil wawancara dan pengalaman yang mereka alami.

Baca juga:  Mengabarkan Dari Dalam

Berawal dari antusiasme anak-anak untuk membeli buku, kami mengajak mereka berkunjung ke Taman Pintar. Bekerjasama dengan Dinas Perhubungan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta kami memanfaatkan fasilitas umum Trans Jogja. Kami memilih transportasi umum Trans Jogja yang merupakan salah satu ikon Yogyakarta bukan tanpa alasan. Selain harga yang ekonomis, kami juga bermaksud mengedukasi mereka tentang pemanfaatkan kendaraan umum untuk menghemat penggunaan bahan bakar dan mengurai kemacaetan di kota. Tak lupa kami juga mengajari mereka etika berkendaraan umum. Bagaimana tata cara membayar, apa alasan harus turun di shelter dan tidak bisa turun di sembarang tempat, kenapa tidak boleh duduk di lantai bis dan harus tetap menjaga kebersihan di dalam bis dan lain sebagainya. Praktek wawancara dengan petugas dan juga penumpang lainnya merupakan bagian dari pembentukan mental dan berpikir kritis yang kami coba ajarkan.

Selain itu mereka juga kami ajak mampir ke Kantor Pos Besar Yogyakarta. Berlatih korespodensi dengan mengirim surat buat Ibu Yeti kartikasari dan kak Afik Rahman. Mereka merasakan sendiri sensari membeli dan menempel perangko serta memasukkan langsung ke dalam bis surat. Ini adalah pengalaman pertama yang sangat menarik bagi mereka, mengingat kini dengan adanya kemajuan tehnologi kegiatan surat-menyurat sudah jarang dilakukan oleh kebanyakan orang.

Program kedua yang saya ajukan adalah penerbitan buletin sekolah. Ide ini muncul setelah melihat naskah murid-murid saya yang menumpuk di meja. Akhirnya setelah melalui beberapa tahap koordinasi kami sepakat memberi nama buletin sekolah kami dengan nama “Buletin Ceria (Cerita Kreativitas Siswa)”. Setelah melalui proses yang lumayan melelahkan, buletin yang direncanakn terbit dua bulan sekali itu terbit perdana pada bulan April 2018. Buletin tersebut juga diluncurkan tepat pada peringatan hari Kartini yang kala itu dimeriahkan dengan acara Gelar Karya Siswa dan Lomba Mewarnai. Terbitnya buletin tersebut tidak lepas dari bantuan tema saya yang sangat baik hati, padahal saya baru kenal melalui jejaring sosial. Lalu Abdul Fatah, beliau yang berjasa mewujudkan mimpi sekolah untuk menampung tulisan siswa dan memberi wadah untuk berkreativitas. Ditengah-tengah kesibukannya, ia sempatkan mengajari saya yang kemudian saya ajarkan ke murid-murid saya tentang cara membuat artikel-artikel yang layak muat dalam buletin. Melalui tangan terampilnya jadilah layout dan desain buletin yang sangat memuaskan, menarik dan menjadi kebanggaan buat anak-anak dan sekolah kami.

Program selanjutnya adalah Lokakarya menulis. Ini sebenarnya bukan program baru, namun saya mengusulkan untuk diadakan setiap satu semerter sekali. Jadi membuat kegiatan ini lebih terprogram tidak terkesan hanya sebagai program insidental saja. Pada tanggal 21 April 2018 sekolah kami kembali mengadakan lokakarya menulis untuk ketiga kalinya. Tema yang kami usung adalah tentang penulisan kreatif. Berbeda dengan materi sebelumya yang cenderung tulisan non fiksi, kali ini kami memilih penulisan fiksi yaitu puisi dan cerpen untuk memperkaya kemampuan menulis anak-anak. Tak tanggung-tanggung kali ini kami memanggil tiga orang penulis sekaligus dari Surabaya. Sang desainer buletin sekolah kami, Lalu Abdul Fatah yang merupakan pengajar dan penulis buku. Tulisannya sudah diterbitkan kedalam 17 buku, 15 buku antologi dan 2 buku solo. Asril Novian Alifi, penulis buku fenomenal “Rockstar Teacher” yang juga merupakan tim pengajar di Next Edu Surabaya pimpinan bapak Munif Chatib, serta Yeti Karikasari pengajar jurnalistik dan penulis di berbagai media cetak.

Baca juga:  GLS Wujudkan Pelajar Berkarakter Berkemajuan

Ada sedikit cerita yang sempat membuatku patah semangat dalam lokakarya yang ketiga ini. Cerita bermula ketika saya menawarkan acara serupa ke sekolah lain. Mumpung mereka ada disini mereka ingin menebar semangat literasi dengan sebanyak mungkin anak-anak. Tapi ketika saya menawarkan ke beberapa sekolah dasar, yang aku dapat hanyalah penolakan. Tidak tanggung-tanggung tawaranku ditolak oleh enam sekolah. Ya keenam sekolah tersebut menolak dengan berbagai alasan, mulai dari berbenturan dengan agenda lain di sekolah, ingin mengejar materi pelajaran bahkan akan yang megklaim bahwa kegiatan literasi sudah berjalan bagus. Kejadian itu benar-benar merupakan pukulan keras buat saya, membuat saya ingin menangis. Kenapa kegiatan ini dianggap tidak menarik, sehingga tidak memberi kami ruang untuk sekedar berbagi cerita dan menebarkan virus-virus literasi. Kenapa masih banyak yang menganggap bahwa program literasi hanya menyita waktu pelajaran saja.

Saya pun tidak patah arang, dengan sisa-sisa keberanian, saya menawarkan lagi ke sekolah yang merupakan sekolah inti di wilayah kami dan mempunyai murid yang banyak. Ini adalah sekolah terakhir yang akan saya tawari, jika ditolak saya sudah tidak akan menawarkannya lagi ke sekolah lain. Dan diluar dugaanku, kepala sekolah dan guru-guru di SD Karangjati Kasihan menerima tawarannya saya dengan senang hati. Akhirnya tanggal 20 April 2018 kami diberi kesempatan untuk berbagi inspirasi dengan hampir 200 murid dari kelas 3 sampai kelas 5 SD Karangjati. Mereka mendapat kesempatan yang luar biasa untuk belajar dengan penulis-penulis hebat tersebut. Semangat mereka yang membara membuat kami merasa puas, sehingga virus-virus literasi tersebut menyebar tak terbendung ke anak-anak.

Keesokan harinya tanggal 21 April, tepat peringatan Hari Kartini giliran SD Banyuripan memperingatinya dengan kegiatan lokakarya menulis. Belajar menulis cerpen dan puisi bersama penulis-penulis hebat yang sudah ahli dibidangnya. Mereka pun sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut. Terbukti puisi-puisi yang mereka hasilkan sangat luar biasa. Keberanian mereka untuk tampil membacakan puisi karya mereka sendiri pun layak diacungi jempol. Kehadiran penulis tersebut telah memberikan inspirasi dahsyat buat murid-murid SD Banyuripan, sehingga tidak hanya gemar membaca, tapi kegemaran menulis mereka mulai terasah. Tulisan mereka pun semakin bervariatif baik fiksi maupun non fiksi.

Menyalakan lentera literasi memang banyak suka dukanya. Diibaratkan menanam benih, kita harus senantiasa menjaga serta merawat. Jangan sampai benih yang baru akan bertunas itu layu bahkan mati karena terlalu banyak asupan air maupun nutrisi. Begitu juga dalam menumbuhkan semangat literasi, jangan paksa anak harus selesai membaca buku dalam waktu cepat kemudian beralih ke buku lainnya. Tapi biarkan mereka membaca pelan-pelan sedikit demi sedikit untuk membiasakannya hingga menjadi budaya. Kalau mereka sudah menemukan keasyikan dalam membaca, jangan tanya mereka tak akan segan-segan menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca.

Masih banyak ide-ide yang berlompatan liar di kepala saya yang menunggu untuk direalisasikan. Selain program yang sudah berjalan, saya akan membuat program lain yang lebih menarik untuk merawat semangat, sehingga membuat anak lebih gemar berliterasi. Semoga kelak akan terbentuk generasi yang literat dan gemar membaca, berpikir kritis dalam menyelesaikan masalah untuk menghadapi abad 21.

Komentar Facebook Sobat Taman Pustaka
Kuy, berbagi...