Jagongan Sore#1: Ramadhan dan Gerakan Iqra’


Oleh : W. Yono (Pelapak buku di ujung senja)

Sore itu di Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong tidak seramai biasanya. Kalau biasanya kami melapak ditemani oleh kawan-kawan komunitas Pecinta Reptile Lamongan dan sesekali juga Komunitas Tongklek, kali ini kami hanya sendirian. Dan ini seperti Blessing in Disguise. Betapa. Kalau biasanya kita akan “berebut” bising dengan kawan-kawan komunitas yang lain, kali ini kita tidak perlu berebut karena speaker wireless yang kita siapkan untuk berebut bising itu ternyata ngadat. Mogok tidak bisa dipakai.

Meskipun kegiatan kita sore itu ngelapak dan jagongan, namun acara melayani pengunjung dengan buku-buku bacaan dan menggembirakan adik-adik kecil untuk mewarnai berjalan seperti lumrahnya. Beberapa relawan bertugas melayani pembaca sementara yang lain ikut jagongan.

Seperti biasa kami menyediakan buku-buku untuk dibaca dan dipinjam. Namun sore itu kami tidak hanya melapak, kami juga mengadakan Jagongan. Jagongan ini bukan sembarang jagongan. Bukan jagongan biasa yang membicarakan remeh temeh persoalan. Ini jagongan yang memuliakan pengetahuan. Jagongan yang mencerahkan. Jagongan yang “menempeleng” kesadaran kita.

Bersama Ustadz Maslahul Falah, penulis buku Iman Tumbuh Dalam Lingkungan Hidup, kita jagong rame-rame. Diikuti oleh lebih dari 30 orang yang sengaja duduk melingkar juga sekian orang yang cangruk dan mengikuti secara tak sengaja. Kebanyakan diikuti oleh anak-anak usia jenjang SMP dan SMA namun ada juga bapak-bapak nelayan dan pengusaha ikan yang ikut nimbrung. Lebih istimewa lagi jagongan itu juga dihadiri oleh kawan-kawan dari komunitas Api Literasi Solokuro yang rela jauh-jauh mengendarai motor untuk ikut meramaikan kegiatan yang kami adakan.

Mengambil tema Ramadhan dan Gerakan Iqra’. Tema ini relevan dan penting untuk dibicarakan setidaknya karena dua hal : Pertama, ini adalah Ramadhan waktu Wahyu pertama kali diturunkan di Gua Hira’ dengan kalimat imperative membaca. Bacalah, dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS Al-Alaq: 1-5). Demikianlah kalimat imperative pertama yang diwahyukan kepada Muhammad SAW. Perintah ini seakan terlupakan. Tergilas oleh kepentingan-kepentingan ragawi yang meninabobokan. Tergerus oleh aneka hasrat dan syahwat duniawi yang melenakan. Untuk itulah, tema tersebut penting diangkat untuk merefresh ingatan dan kesadaran kita. Kedua, Gerakan Iqra’ sejatinya sudah menjadi gerakan yang inheren dalam kehidupan setiap muslim. Namun kenyataannya gerakan Iqra’ masih dipandang sebagai gerakan “elitis” yang hanya hidup di sekolah/kampus dan di masjid-masjid saja. Gerakan Iqra’ belum menjangkau kelompok-kelompok marjinal.

Cuaca sangat cerah. Angin yang berhembus dari arah laut semakin menambah “gayeng” suasana. Debur ombak dan deru motor saling bersahutan. Beberapa keluarga mondarmandir menaiki motor menikmati suasana senja di pinggir pantai. Komplek pelabuhan itu tidak hanya berfungsi sebagai tempat para nelayan menyandarkan kapal dan harapannya namun juga sebagai tempat rekreatif mudi mudi dan keluarga. Mengingat di daerah kami belum ada tempat public yang bisa dijadikan sebagai tempat rekreatif bagi masyarakat.

Matahari sudah mulai merangkak di ujung barat horizon. Dan hanya beralas kain banner, Ustadz Maslahul Falah mengingatkan bahwa Ramadhan tidak hanya terkait dengan ritus puasa saja namun juga situs Gua Hira’ tempat pertama kali al-Qur’an diturunkan. Gua tempat di mana Muhammad mengasingkan diri dan berkontemplasi. Gua yang sangat kecil kira-kira panjangnya sekitar 3 meter dan lebar 1,5 meter yang berjarak sekitar 2 km dari kota Makkah itulah yang dipilih untuk menjauhkan diri dari komunitas dengan segala kebejatannya. Muhammad merasa tidak nyaman dengan kemusyrikan-kemusyrikan dan segala jenis kriminalitas yang menjadi pola hidup kaumnya. Beliau merasa perlu merenung dan mencari solusi atas kondisi kaumnya. Di Bulan Ramadhanlah Muhammad berkhalwat. Menanggalkan diri dari hasrat hina dunia dan bersiap untuk memanggul amanat untuk perubahan komunitasnya.
Dengan menyegarkan kembali ingatan kita tentang bagaimana Rasulullah Muhammad berikhtiar untuk memperbaiki keadaan kaumnya, Ustadz M. Falah mengajak kita untuk menjadikan semangat Iqra’ menjadi gerakan bersama. Dengan berbekal Al-Bashar (penglihatan), Al-Sama’ (Pendengaran) dan Al-Af’idah (hati dan pikiran) maka setiap Muslim bisa menggerakkan dan menggelorakan semangat Iqra’ di tengah-tengah masyarakat. Lebih-lebih lagi kondisi masyarakat sekarang dengan kompleksitas persoalannya yang bisa jadi melebihi kondisi jahiliyyah di masa Rasulullah hidup dulu maka perlu pribadi-pribadi yang menyediakan dirinya untuk berkontemplasi dan mampu membaca persoalan-persoalan masyarakat dan berikhtiar memberikan solusinya. Di tengah kondisi yang carut marut tak tentu arah ini diperlukan pribadi-pribadi yang menyiapkan dirinya untuk ikut mengurai benang kusut persoalan masyarakat ini meski dengan hal-hal kecil dan sederhana yang bisa diperbuat. Sebab apabila dengan modal Al-Bashar (penglihatan), Al-Sama’ (Pendengaran) dan Al-Af’idah kita tidak tergerak untuk melakukan andil dalam perubahan masyarakat maka itu berarti Mati !

Beberapa saat sebelum adzan Maghrib berkumandang, jagongan sore itu kita tutup dengan sebuah tekad untuk lebih menajamkan kembali gerakan Iqra’ di tengah-tengah masyarakat. Dan hanya dengan ditemani nasi kotak dan bungkusan es blewah kami berbuka. Lengkap sudah asupan kami sore itu. Jiwa dan raga kami terisi dengan nutrisi. Salam literasi !!!

Edisi Selasa Ramadhan, 29 Mei 2018


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *