Islam, Spirit Iqra’, Dan Gerakan Literasi


Oleh: Moh.Mudzakkir*

Islam merupakan agama yang terkait erat dengan gerakan literasi. Bila kita memaknai literasi secara sederhana sebagai kesadaran membaca dan menulis untuk melakukan perubahan kehidupan, maka Islam adalah gerakan literasi itu sendiri. Tentu pernyataan itu bukan tanpa argumentasi sosio-historis, hal ini bisa kita telusuri dalam sejarah Islam. Bahwa wahyu yang pertama kali diterima oleh rasulullah Muhammad SAW adalah “Iqra” atau perintah membaca yang tertuang dalam surat Al Alaq ayat 1-5, yang artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari ‘Alaq. Bacalah, dan Tuhanmu-lah yang paling Pemurah. Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya.”

Seorang ahli tafsir, Quraish Shihab (1998) berpendapat bahwa karena sangat penting dan strategisnya kata iqra’ sehingga diulang dua kali dalam rangkaian wahyu pertama. Meskipun perintah tersebut disampaikan kepada Nabi Muhammmad SAW bukan berarti hanya beliau saja yang harus melaksanakan. Akan tetapi perintah tersebut juga bersifat umum, yang juga mencakup seluruh individu, kelompok dan masyarakat dalam kehidupan umat manusia. Mengapa demikian? karena realisasi perintah membaca tersebut merupakan kunci pembuka jalan kebahagiaan hidup duniawi dan ukhrawi. Artinya melalui aktivitas Iqra itulah manusia mampu mendorong dan mengarahkan masyarakat meraih kejayaan dan kesejahteraan, baik laihir maupun batin.

Makna Iqra’ dan Spirit Literasi

Melalui wahyu tersebut, secara jelas dan tegas Allah SWT melalui malaikat Jibril menyampaikan pesan penting tentang “Iqra” atau perintah membaca” kepada nabi Muhammad SAW. Maka secara historis maupun teologis, Islam sangat peduli terhadap upaya membangun gerakan atau budaya membaca. Meskipun dalam perkembangannya di era sekarang istilah yang populer digunakan adalah literasi. Iqra yang berasal dari akar kata qara’a secara subtansi memiliki makna yang sama dengan istilah literasi dalam makna yang luas. Kata qara’a dalam bahasa Arab selain diartikan dengan membaca juga diartikan; menghimpun, menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, serta mengetahui secara detail (Shihab, 1998).

Lebih lanjut, kalau dicermati perintah membaca pada ayat pertama dan kedua pada surat Al Alaq tidak menyebutkan kepada siapa, artinya kepada semua manusia. Tapi harus diingat, bahwa setiap aktivitas membaca yang dilakukan harus mendasarkan diri hanya untuk beribadah kepada Allah SWT. Dengan aktivitas membaca justru membuat kita menyadari akan hakekat dan tanggungjawab kita sebagai manusia dalam kehidupan ini. Kemudian, alam semesta dan seisinya, baik nampak dan tidak nampak dapat menjadi objek bacaan kita. Membaca dengan makna luas, baik itu realitas sejarah, sosial, budaya politik, ekonomi dan lain sebagainya.

Bila kita merujuk kepada Al-Qur’an, perintah atau ajakan untuk membangun “budaya literasi” bukan hanya terdapat dalam surat Al-Alaq, tapi juga tersebar dalam surat dan ayat lainnya di dalam kitab suci umat Islam. Ajakan tersebut tertuang baik secara tersurat maupun tersirat yang subtansinya adalah mengajak umat manusia, lebih khususnya umat Islam, menggunakan segala kemampuan intelektual dan spiritualnya untuk membaca secara mendalamrealitas kehidupan. Mengajak manusia untuk senantiasa befikir kritis dan reflektif terhadap fenomena yang berada di sekitarnya. Terkadang dengan bahasa yang sangat halus, Allah SWT di dalam Al-qur’an, mengajak dialog manusia dengan bahasa retorik. Bahkan Tuhan juga menyindir dengan sangat halus kemudian mengajak manusia untuk menggunakan akal fikirannya, misal afala ta’qiluun (apakah kamu tidak berfikir?), afalaa tatafakkaruun (apakah kamu tidak merefleksikan?), afala tadzabbaruun (apakah kamu tidak mengobservasi dan mengambil hikmah?) dan lain sebagainya.

Pesan dan semangat Iqra’ bukan hanya tertuang di dalam kitabullah, akan tetapi juga disampaikan secara langsung oleh Rasullulah SAW sebagai pembawa pesan profetik (kenabian). Banyak hadist yang menyerukan kepada umat Islam untuk bergiat diri dalam mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Terlepas dari perdebatan derajat hadist, ada ungkapan yang cukup masyhur “tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”. Artinya, Rasulullah mampu membaca situasi, kondisi dan perkembangan peradaban manusia kontemporer di era-nya. Bahwa peradaban Cina saat itu telah mencapai puncak perkembangan. Peradaban Cina telah mengenal tradisi literasi, karya sastra, teknologi perang, arsitektur, birokrasi, dan bahkan Cina sudah menggunakan kertas sebagai media penyebaran ilmu pengetahuan. Tanpa kemampuan “literasi” geopolitik, maka mustahil Rasullulah menyampaikan pesan peradaban tersebut.

Konsekuensi perintah “membaca” mendorong agar umat Islam mampu menguasai dan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kemaslahatan kehidupan makhluk hidup di dunia. Bukan hanya bermanfaat bagi umat manusia, tapi juga bagi makhluk hidup yang lain, baik itu hewan, tumbuh-tumbuhan serta lingkungan alam (komitment terhadap keberlanjutan ketiga unsur makhluk hidup itulah yang kemudian dikenal dengan eco-literacy). Maka secara eksplisit, Rasulullah mewajibkan kepada seluruh umat Islam (laki dan perempuan) untuk terus belajar, seperti yang tertuang dalam hadist yang cukup terkenal; “Menuntut ilmu merupakan (ke)wajib(an) bagi setiap muslim dan muslimat”. Kemudian Rasullullah juga bersabda, “carilah ilmu dari buaian hingga liang lahat”. Mencari ilmu pengetahuan, belajar, dan membaca tidak dibatasi ruang dan waktu. Tidak dibatasi apakah masih muda dan tua. Tidak dibatasi lokasi; kota atau desa. Serta tidak dibatasi status ekonomi; kaya atau miskin. Singkatnya Islam menyerukan kepada umatnya untuk terus belajar meningkatkan kualitas dan kapasitas secara berkelanjutan atau belajar tanpa henti (never ending learning).

Tradisi Literasi Pasca Rasulullah

Kalau kita telusuri ke belakang, tradisi literasi dalam Islam terus berkembang pasca Rasulullah SAW wafat. Tanpa dilandasi spirit iqra’ atau literasi, maka sangat mustahil Al Qur’an tersusun dalam satu mushaf seperti sekarang ini. Dengan semangat ketelitian, kehati-hatian serta melalui proses yang sangat ketat, para sahabat, tabiin dan tabiit tabiin mengumpulkan Al-Quran yang terpencar-pencar menjadi sistematis. Seiring dengan semakin meluasnya Islam di luar Arab, maka para ulama berfikir perlunya memudahkan orang non-Arab untuk membaca Al Qur’an yang diturunkan dalam bahasa Arab yang merupakan bukan bahasa ibu mereka. Maka akhirnya mereka membuat harakat untuk memudahkan orang non-Arab dalam membaca kita suci. Tanpa peran para ulama (Islamc Scholars) yang gigih memilah, menghimpun, serta menuliskan surat-surat dan ayat-ayat yang dihafal atau yang dituliskan secara terpisah pisah menjadi satu kitab, maka kita tidak mungkin memperoleh kemudahan mempelajari Al-qur’an seperti saat ini.

Hal yang sama juga terjadi ketika para ulama dalam mengumpulkan hadist atau sunnah nabi. Tanpa kesungguhan mereka mencari, menelaah, meneliti, dan menghimpun hadist-hadist rasulullah. Maka mustahil kita bisa mengetahui sejarah nabi dan para sahabatnya seperti sekarang ini. Apa yang dilakukan oleh para ahli hadist seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Nasa’i dan Imam Baihaqi merupakan bagian dari penelitian sejarah yang sangat ketat dan akurat terkait narasi masa lalu. Melalui kesungguhan mereka dalam melacak secara geneologis hadist-hadist nabi, kita bisa menikmati karya-karya mereka dengan mudah. Padahal untuk menghasilkan kitab-kitab hadist seperti Shahih Bukhori dan Shahih Muslim, mereka harus rela mengembara berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk melacak, mewawancari para perawi (orang yang meriwayatkan), serta menulis hingga menjadi kitab berjilid-jilid seperti sekarang ini. Sekali lagi mustahil hal tersebut bisa terwujud tanpa dilandasi spirit dan kekuatan “iqra”.

Lebih lanjut, semangat iqra bukan hanya terbatas dalam tradisi keilmuan Islam saja, tapi juga meluas dalam tradisi keilmuan yang bersifat umum. Salah satu puncaknya bisa kita lihat di era Dinasti Abbasiyah yang berpusat di kota Baghdad (sekarang menjadi ibu kota Irak). Para ulama juga melakukan penerjemahan buku-buku yang berasal dari berbagai kebudayaan, terutaman dari Yunani terkait dengan filsafat. Mereka bukan hanya sekedar menerjemahkan tapi juga melakukan komentar dan telaah, tapi juga mengembangkan pemikiran-pemikiran tersebut menjadi sebuah ilmu pengetahuan dan teknologi. Dari interaksi dengan pemikiran Yunani inilah kemudian para ulama Islam mampu menghasilan berbagai pemikiran filosofis dan juga penemuan ilmiah yang bermanfaat hingga saat ini. Adapun para ulama tersebut antara lain seperti Al Kindi, al Farabi, Ibn Sina dan Ibn Haytham.
Pasca runtuhnya Baghdad, pusat peradaban Islam berpindah ke Andalusia (sekarang menjadi bagian dari Spanyol. Banyak sejarahwan menilai bahwa puncak tradisi keilmuan Islam berada pada masa ini. Para penguasa Islam Andalusia, Dinasti Umayyah memberikan dukungan bagi pengembangan kegiatan intelektual bagi para ilmuwan, baik yang beragama Islam maupun non-Islam. Selain membangun universitas di Cordoba, mereka juga membangun banyak perspustakaan. Maka tidak heran pada era ini berbagai macam keilmuwan berkembang pesat, baik itu ilmu keislaman (ushul fiqh dan ulumul tafsir) filsafat, sastra, kedokteran, kimia, astronomi, geografi, dan sejarah. Maka tidak heran nama-nama ulama/filosof besar banyak muncul di era ini seperti Maslamah Majriti, Ibn Bajjah, Ibn Thufail, Ibn Rusyd, Maimonides, Abul Qosim A-Zahrawi dan lainnya.

Di atas secara sekilas telah kita uraikan bagaimana spirit Iqra’ menjadi pendorong bagi kemajuan dunia intelektual umat Islam. Tapi seiring dengan perkembangan sejarah, umat Islam mengalami kemunduran dalam menjaga dan mengembangkan tradisi intelektual. Pelan tapi pasti, pasca keruntuhan Dinasti Umayyah di Andalusia, peradaban lainnya mengambil alih tongkat estafet tersebut. Masyarakat Eropa (baca Barat) yang sebelumnya belajar dari tradisi intelektual Islam, mengambil alih peran peradaban tersebut. Kalau sebelumnya umat Islam melakukan penerjemahan karya-karya intelektual yang berasal dari Yunani, India, dan Persia ke dalam bahasa Arab. Sebaliknya orang-orang Barat menerjemahkan karya-karya filosof dan ilmuwan Islam dalam bahasa Arab ke dalam bahasa Latin. Melalui penerjemahan karya-karya ilmuwan Islam, filosof dan ilmuwan Barat terus mengembangkan ilmu pengetahuan modern. Dengan ilmu pengetahuan modern itulah, Barat banyak melahirkan berbagai macam teknologi yang membantu mereka menjelajahi dunia baru. Bahkan kemudian mereka melakukan penjajahan di berbagai belahan dunia, tidak terkecuali di negeri-negeri yang mayoritas beragama Islam, termasuk Indonesia (baca; Nusantara saat itu).

“Pengetahuan adalah kekuasaan”, begitulah ungkap Francis Bacon seorang Filosof asal Inggris di era Pencerahan Eropa. Barang siapa menguasai ilmu pengetahuan, maka ia akan menguasai “kehidupan”. Dengan makna yang luas, bila suatu masyarakat atau negara memiliki pengetahuan maka mereka akan mampu menghasilkan inovasi dan invensi (penemuan) dalam berbagai bidang kehidupan, baik itu dalam bidang teknologi, ekonomi, sosial, budaya, politik, pertahanan, dan lain sebagainya. Dan sebaliknya, bila suatu negara jauh tertinggal dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka ia akan tertinggal dengan negara-negara lainnya, terutama terkait dengan kesejahteraan. Sudah menjadi sunnatullah, bila suatu bangsa yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi maka akan mendapatkan “kehormatan dan kemulyaan” di dunia. Situasi itulah yang dimiliki oleh umat Islam di era Baghdad dan Andalusia.

Gerakan Literasi Berbasis Komunitas

Akhirnya, sebagai bagian dari umat Islam kita memiliki tanggungjawab kenabian, yaitu melanjutkan misi perjuangan nabi. Dan salah satu misi menjawab tantangan “iqra” di era kontemporer. Sebagai generasi muda, kita harus optimis dan visioner dalam memandang masa depan terhadap bangkitnya tradisi “iqra” atau literasi dalam tubuh umat Islam. Peradaban manusia pasang dan surut, kita pernah pasang dan surut. Maka sudah saatnya-lah kita berjuang untuk menegakkan kembali tradisi unggul umat Islam yang pernah jaya dan memberikan manfaat bagi seluruh umat manusia di dunia. Semangat Iqra (literasi) harus kita wujudkan dalam gerakan yang konkret dan berkelanjutan, dan salah satunya bisa dimulai dengan membangun komunitas baca.

Melalui komunitas baca itulah, kaum muda dapat mengorganisir diri untuk saling berbagi pengetahuan dan pengalaman literasi mereka. Komunitas (mem)baca bukan hanya menjadi ruang belajar bersama saja, tapi juga sebagai wadah untuk mengerakkan kampaye membaca dan menulis dengan dengan berbagai kegiatan nyata. Pelan tapi pasti bila gerakan tersebut terus bergulir, niscaya masyarakat yang berkemajuan akan terwujud. Dan itu tidak mudah, meski bukan sesuatu yang mustahil. Maka mari kita perjuangankan! *

*Dosen Unesa Surabaya, Kandidat Doktor di University Sains Malaysia


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *