6 menit waktu baca

Hernowo Mempengaruhi Hidupku

Oleh: Nasiruddin Wafiq

Guru dari jutaan pegiat Literasi, mungkin itu sepintas imajinasi yang ada dalam pikiran saya mengenai sosok Hernowo Hasim. Saya mengalami peristiwa berjumpa secara fisik dengan pak Hernowo baru sekali saat PD. IPM Lamongan mengadakan Seminar Literasi yang menghadirkan salah satu narasumbernya pak Hernowo. Namun, makna dari perjumpaan itu membawa spirit yang sangat luar biasa dalam kehidupan saya, terutama dalam kehidupan menulis saya. Ada satu hal yang membuat saya sedih saat mendengar kabar beliau meninggal dunia, bukan karena kematiannya yang mungkin semua orang pasti akan mengalami kematian, namun yang membuat saya sedih adalah belum memiliki bukunya satu pun, meskipun pernah membaca bukunya yang Free Writing itu pun meminjam dari milik teman.

Ada sebuah pelajaran yang sangat berharga sekali dalam perjumpaan dengan pak Hernowo saat acara seminar itu, saat itu beliau membeda isi dari beberapa bukunya dan diantaranya adalah buku Free Writing. Dengan intonasi gaya bicara yang penuh semangat beliau memberikan motivasi dan tips dalam penulisan. Bagaimana tentang melejitkan kemampuan menulis, menulis dengan bebas tanpa tekanan, membaca yang yang menyanangkan. Itu semua yang saya dapatkan dari satu perjumpaan dengan pak Hernowo, namun sangat berkesan dan berpengaruh hingga sekarang dalam kehidupan saya.

Pelajaran yang sangat berharga bagi kehidupan saya dari Hernowo Hasim adalah menulis itu meningkatkan derajat atau kehormatan hidup kita. Bagaimana tidak tokoh-tokoh yang berpengaruh sebut saja kalau di Indonesia ada Soekarno, Moh. Hatta, M. Natsir, HOS Cokroaminoto mereka terkenang dan harum namanya hingga sekarang karena gagasan dan pemikiran mereka tidak hanya dalam gerakan, namun juga dalam tulisan yang hingga sampai saat ini terus meracuni pemikiran orang yang membaca tulisan mereka. Selain meningkatkan kehormatan diri juga bisa menjaga sikap positif, mengasa keterampilan, meningkatkan nilai belajar, memperbesar kepercayaan diri, meningkatkan motivasi.

Baca juga:  Museum Muhammadiyah untuk Bangsa

Spirit literasi yang dihadirkan oleh pak Hernowo pada waktu itu mengenai menulis dan cara penulisan seorang penulis pemula dengan cara menulis secara bebas, namun harus terus diimbangi dengan aktifitas membaca yang banyak juga, karena kualitas tulisan itu berkaitan dengan kualitas bacaan. Beliau waktu itu mengilustrasikan aktifitas membaca seperti aktifitas makan kita sehari-hari, semakin bergizi makanan itu semakin baik buat tubuh, begitu juga dengan bacaan, semakin baik bacaan itu semakin berpengaruh juga pada tulisan. Beliau juga membagikan tips membaca yang menggembirakan dengan mengibaratkan membaca itu seperti nyemil, jadi membaca itu harus dinikmati dengan perlahan.

Itulah proses menulis yang dihadirkan oleh pak Hernowo melalui metode Free Writing yang menjadi gagasannya. Yang berpijak pada konsep free writing yang dikembangkan oleh Dr. James Pennebaker, Peter Elbow, dan Natalie Golberg. Pak Hernowo memberikan sebuah strategi dalam menulis yang membuat aktifitas menulis itu tidak membebani, tanpa tekanan, tanpa beban, serta menulis tanpa hambatan. Disini pak Hernowo menawarkan sebuah metode menulis yang memberikan kegembiraan pada penulisnya.
Rumusan model latihan menulis bebas yang digagas pak Hernowo memadukan antara menulis bebas dengan mengikat makna, sebuah konsep membaca dan menulis yang menempatkan seseorang yang suka menulis menjadi penulis yang produktif dan kreatif. Efek yang yang luar biasa dampak dari konsep ini bisa menstimulus dalam penulisan atau bahasnya pak Hernowo itu melejitkan kemampuan menulis, bahkan juga untuk orang yang tidak suka menulis sekalipun yang sering mengalami kesulitan dalam merangkai kata-kata, mengalami stres saat menulis. Metode free writing yang ditawarkan pak Hernowo bisa membantu memecahkan semua itu.

Menulis memang butuh latihan untuk terus mengasah kemampuan dalam menulis. Kemampuan dan keahlian dalam menulis juga perlu dibangun dengan pembiasaan. Salah satu cara untuk mengasah kemampuan dalam menulis lewat menulis bebas. Memang teknik menulis bebas ini sudah ada sejak dulu dan terus dikembangkan, berbagai metode dan cara menulis bebas sudah dijabarkan sejak lama. Namun, menulis bebas yang dikembangkan Hernowo Hasim menggiring kita untuk menemukan berbagai manfaat menerapkan teknik menulis bebas. Yang tidak hanya meningkatkan kemampuan keterampilan fisik menulis saja, tapi juga meningkatkan kemampuan non fisik dalam menulis. Bahkan latihan menuis bebas ini juga bisa dijadikan salah satu cara ampuh agar terhindar dari namanya writer block atau kebuntuhan dalam menulis yang sering dialami banyak orang, apalagi seorang penulis pemula pasti sering mengalaminya.

Baca juga:  Islam, Spirit Iqra’, Dan Gerakan Literasi

Spirit literasi dalam energi yang dihadirkan oleh pak Hernowo Hasim itu juga mendorong saya untuk berani mengikuti kompetisi penulisan karya ilmiah yang diadakan oleh IMM Cabang Lamongan. Meskipun awalnya ragu dengan kualitas tulisan dan mepetnya waktu yang sangat mepet sekali tinggal 3 jam dalam batas akhir waktu pengumpulan yang ditetapkan oleh juri.

Namun, berkat semangat menulis ala free writing dan mengikat makna itu saya mencoba menulis apa yang ada di kepala dan dalam perasaan saya yang sedang bergejolak. Ketika itu tema yang diangkat dalam kompetisi menulis karya ilmiah itu ada 2 (dua) tema yakni, buruh dan pendidikan. Saya putuskan pada waktu itu mengambil tema pendidikan, waktu itu saya hanya berpikir latar belakang saya ini seorang mahasiswa pendidikan dan sedang mempunyai perasaan gelisah mengenai kondisi pendidikan yang ada di lingkungan saya. Saya mencoba mengeluar kegelisahan dalam hati dan mencoba mengeluarkan apa yang ada di kepala saya dengan mengikatnya dalam kata demi kata. Akhirnya dalam detik-detik batas waktu yang telah ditetapkan 3 menit menjelang penutupan saya dapat menyelesaikan dan mengirimnya. Saya menulisnya dengan bebas mengalir begitu saja saya tidak terlalu memperhatikan tata bahasanya, yang ada hanya mencurahkan kegelisahan saya mengenai pendidikan yang seharusnya mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi pendidikan yang dijadikan industri. Dan Alhamdulillah tulisan itu mendapatkan apresiasi dari juri dan dipilih menjadi tulisan terbaik nomor 2 (dua) dalam kompetisi karya tulis ilmiah yang diadakan oleh IMM Cabang Lamongan.

Sejak peristiwa pertemuan dengan Hernowo Hasim dalam seminar literasi itu, saya sedikit demi sedikit mulai untuk melakukan apa yang telah disampaikan oleh Hernowo Hasim. Meskipun belum bisa secara konsisten saya melakukan membaca dan menulis 10 menit setiap hari seperti anjuran dalam seminar itu, kadang masih naik dan turun mood diri ini dalam membaca dan menulis, juga sering tertutupi dengan aktivitas-aktivitas lainnya dalam kehidupan. Namun, energi yang dihadirkan dalam seminar itu masih terus melekat dalam diri, meskipun tidak secara konsisten setiap hari melakukan, tapi ketika sedang tidak ada aktivitas daripada menghabiskan waktu untuk melamun saya gunakan untuk membaca buku dan mengasah skil menulis saya ketika mood untuk menulis datang.

Baca juga:  Martono: Pahlawan Arsip yang Sedang Cemas

Karena spirit dalam energi yang dihadirkan oleh Hernowo Hasim itu, mulai saat ini saya mulai membiasakan diri membawa catatan kemanapun pergi untuk mencatat setiap peristiwa yang mungkin menarik dan membiasakan menyisihkan uang kalau sedang ada rizki buat membeli buku bacaan. Serta spirit itu juga yang sampai saat ini terus menggerakkan seluruh teman-teman yang ada di komunitas literasi Ransel Pustaka PD. IPM Lamongan untuk terus bergerak.
Dan saya menulis ini pun dengan bebas mengalir begitu saja seperti spirit menulis yang telah dihadirkan oleh Almarhum pak Hernowo Hasim. tulisan ini saya buat untuk mengenang, mengapresiasi, memberi hormat, dan ucapan terimakasih saya karena berkat spirit yang dihadirkan beliau cukup bermakna dala perkembangan hidup saya.

Semoga apa yang telah pak Hernowo Hasim wakafkan terutama sumabangan beliau dalam perkembangan literasi yang ada di Indonesia menjadi amal jariyah, semoga mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.

Komentar Facebook Sobat Taman Pustaka
Kuy, berbagi...