Hanya Ikhtiar dan Doa


 

Oleh: Sri Lestari Linawati

Ada sebuah kebahagiaan tersendiri saat mudik lebaran, betapapun ramainya arus mudik di sepanjang perjalanan yang dilalui. Bertemu teman-teman seperjuangan di pengajian pelajar, misalnya, usai shalat Iedul Fitri di lapangan stadion Noto Hadinegoro Jember.

Tentu keadaan sudah berbeda. Kini kami hadir dengan suami/ istri masing-masing dan anak-anak, juga ibu dan ayah yang telah kian renta. Berjalan pun musti pelan dan dipapah.

Adalah kebahagiaan bagi orang tua melihat berkumpulnya anak cucu. Maklumlah kami empat bersaudara bisa bertemunya bareng ya khusus di hari lebaran begini. Hari lainnya, seringkali ‘tlisipan’ jalan. Satu datang, satunya sudah pergi.

Sungkem pada orang tua, datang di hari lebaran, adalah salah satu ikhtiar berbakti pada keduanya. Anak turun kebaktian itu adalah ikut meringankan pekerjaannya, mengikuti sarannya dan berusaha seoptimal mungkin membahagiakannya.

Apa yang membuat Ibu kita bahagia? Setiap kita pasti sudah faham dan mengenal apa yang dibutuhkan oleh Sang Ibu. Sangat mungkin, penghormatan yang kita lakukan, dengan demikian, berbeda-beda. Tak apa. Sepanjang kita berpegang pada tuntunan Alquran dan sunnah, insyaallah dicatat sebagai amal kebaikan kita.

Itulah ikhtiar dan doa. Doa menuntun usaha. Ikhtiar dan doa adalah satu paket yang integral. Satu kesatuan yang utuh.

Apa jadinya bila melihat Mbah Uti yang telah berusia 72 tahun naik tangga untuk panen cabe puyang di kebun rumah? Wah… tentu ini pemandangan luar biasa untuk anak cucu. Aku anaknya, tentu tak pernah merekomendasikan Ibu untuk naik-naik tangga. Hadeh.. apalah nanti kata orang. Namun toh, aku pun harus senantiasa berfikir positif. Itu kegiatan yang membuat Ibuku bahagia. Ya sudah.

Dari bawah, aku dan putriku hanya melihat. Dalam hati menyimpan sejuta doa, semoga Allah jaga dan lindungi Ibu. Karena hanya itu yang bisa kulakukan. Kalau aku memintanya turun, tentu beliau akan tidak berkenan dan marah.

Di titik semacam inilah, kukira, kita sangat berkepentingan dengan Allah. Betapa kita musti meyakini tauhid sebagai satu-satunya pegangan kita. Bahwa tauhid itu harus murni dari segala bentuk penyimpangan. Harta, tahta, wanita, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, sekali-kali tak diperbolehkan mengotori keimanan kita.

“Ikhtiar kita selama bulan Ramadhan, marilah kita lanjutkan dan tingkatkan pada bulan-bulan selanjutnya,” pesan khatib Idul Fitri di stadion Jember, Ustadz H. Abdul Razak, S.Pd.I.

Mohon maaf lahir dan batin. Semoga Allah menerima amal ibadah kita semua, puasa kita semua, amin..

Jember, 18 Juni 2018


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *