Guru Yang Bukan Manusia


Oleh Roynaldy Saputro, Guru dan pegiat literasi

Sebelumnya, maaf jika memang judul yang saya tulis diatas agak sedikit nyeleneh atau bukan hal yang wajar. Saya menulis judul yang demikian karena terinspirasi dari membaca salah satu bukunya Muhammad Muhibbudin yang berjudul Terapi Hati. Ada kalimat dan pembahasan yang menarik dalam salah satu halamannya. Sehingga saya mencoba mendiskripsikan ulang ditulisan saya ini dengan latar belakang pemikiran saya pula.

Pada dasarnya, kita terstigma dan menganggap seorang guru adalah orang yang memberikan kita ilmu. Entah apapun ilmu itu dan dimanapun itu. Mau ilmu agama atau dunia ( maaf saya memisahkan keilmuan, semata hanya menggunakan istilah umum ). Mau ilmu itu diajarkan disekolah, dimushola atau pun dimasyarakat. Generalnya, guru dianggap sebagai orang yang lebih tahu/menguasai ilmu tersebut. Tidak hanya ilmu, guru juga mempunyai keahlian mendidik dan transfer knowledge kepada orang lain. Hingga tidak salah kiranya jika dia punya murid-murid yang siap belajar dengannya. Jadi seseorang bisa dijadikan guru ketika dia punya murid dan kemampuan mendidik serta kecukupan ilmu.

Zaman dahulu sistem mencari ilmu adalah dengan murid mendatangi guru. Seperti yang terkisahkan dalam buku “Bait Al hikmah”. Dimana disebuah masa kekhalifahan, Khalifah Al-Makmun terdapat perpustakaan bernama Bait Al – Hikmah yang disitu ada guru sekaligus murid yang mengkaji tentang disiplin-disiplin ilmu dunia maupun akhirat. Murid-murid dari penjuru jazirah arab datang ketempat tersebut dan berguru pada yang ahlinya. Mereka berguru pada manusia.

Terus pertanyaannya, apakah guru itu memang hanya berasal dari manusia ?. Bisakah saya menyebutkan bahwa Allah SWT adalah guru?. Bisakah saya menyebut matahari dan bulan sebagai guru ?. Apakah bisa saya menyebut sebuah peristiwa adalah guru?

Merujuk pada pertanyaan itu semua, tentu kita bisa melihat dari cerita Nabi Adam A.S. bagaimana beliau diberi tahu oleh Allah SWT nama-nama benda yang ada dibumi. Pemberitahuan tersebut adalah proses transfer keilmuan dari Allah SWT kepada hamba-Nya ( red : Nabi Adam A.S ).

Ada proses mendidik dan menginformasikan sebuah ilmu. Yang selanjutnya adalah tentang matahari dan bulan yang menjadi guru bagi Nabi Ibarhim A.S. dengan pengamatan beliau, beliau akhirnya mengetahui bahwa matahari dan bulan bukanlah Tuhan. Matahari dan Bulan dalam geraknya memberitahukan bahwa mereka tidak selalu ada. Kadang lenyap dan muncul. Hingga muncullah suatu kesimpulan dalam pembelajaran itu mengenai penemuan Tuhan bagi Nabi Ibrahim A.S dan bagi umatnya. Yang terakhir adalah peristiwa. Banyak peristiwa yang menjadi guru bagi kehidupan manusia sekarang. Salah satu contohnya peristiwa-peristiwa yang ada dalam kitab suci Al-Qur’an. Banyak peristiwa yang mengingatkan kepada umat Nabi Muhammad SAW supaya tidak melakukannya lagi. Hal ini bisa kita sebutkan bahwa peristiwa menjadi guru yang baik bagi generasi selanjutnya.

Apa yang saya paparkan diatas adalah beberapa contoh guru tapi yang bukan dari manusia. Maka tentu kita harus sadar dalam memaknai pengertian guru. Sebenarnya apapun bisa jadi guru. Kita tidak tahu panas kalau kita tidak pernah diberi tahu oleh api. Kita tidak tahu manis kalau kita tidak pernah merasakan gula. Banyak hal yang bisa kita jadikan guru.

Maka dari itu, mari kita berfikir luas. Dan saling memahami antar makhluk ciptaan Allah SWT. Setiap tempat adalah sekolah. Seperti yang diajarkan alam terhadap manusia. Setiap orang, benda dan makhluk hidup adalah guru bagi kita semua.

Dimanapun kita berada, berfikirlah untuk selalu belajar dari tempat yang kita kunjungi tersebut. Bertemu dengan siapapun kita, ajaklah untuk sekedar bertukar pendapat mengenai keilmuan. Peristiwa apapun yang kita alami, cobalah berdialektika dan ambil hikmahnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *