Gerakan Literasi; Praktik-Praktik Kesukarelawanan dan Perubahan Sosial di Indonesia


Satu hal penting yang patut dicatat sebagai perkembangan baik gerakan literasi di Indonesia, yakni bahwa gerakan literasi meningkat jumlahnya secara signifikan dalam dua tahun terakhir, dan meluas pemaknaannya sehingga memungkinkan praktik ini menjadi demikian penting bagi perubahan sosial. Peningkatan jumlah signifkan gerakan literasi di Indonesia sebenarnya menunjukkan betapa tak terhindarnya kebutuhan untuk saling mengenal antar pegiat literasi di berbagai tempat. Selain itu, ketertarikan utama yang menyebabkan tingginya angka pertumbuhan gerakan literasi, disebabkan oleh keuntungan praktis yang diperoleh jika mendaftarkan diri ke dalam asosiasi-asosiasi nasional gerakan literasi seperti Pustaka Bergerak Indonesia (PBI), Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM), atau Taman Baca AsmaNadia (TBAN). Jika sebelumnya banyak komunitas literasi yang menunda mendaftarkan diri ke asosiasi publik (PBI atau TBAN) atau ke asosiasi negara (FTBM), maka menyusul keputusan program Free Cargo Literacy Pemerintah yang terbit tanggal 20 Mei 2017, jumlah pendaftar program meningkat drastis setiap bulannya. Ribuan komunitas literasi telah menjadi anggota penerima layanan program Free Cargo Literacy.

Meningkatnya jumlah keterlibatan komunitas literasi dalam program Free Cargo Literacy menunjukkan bahwa potensi gerakan literasi di Indonesia sangat besar. Gerakan literasi tumbuh secara bersamaan dengan penerimaan perkembangan global dan revolusi teknologi. Pegiat-pegiat literasi di Papua walaupun tidak selalu mudah, sekarang dapat memanfaatkan aplikasi-aplikasi digital untuk berkomunikasi dengan komunitas-komunitas di pulau Jawa yang sangat berkomitmen memajukan literasi di kawasan timur Indonesia. Meningkatnya jumlah komunikasi antar tempat mendorong informasi di tingkat pusat (Jakarta dan Yogyakarta) menjadi lebih mudah diakses. Kelas menengah di kota-kota menengah (Papua, Maluku misalnya) dapat mengakses (meskipun tidak semuanya) program-program pemerintah yang berhubungan dengan literasi. Sekalipun masih berpusat pada kelompok-kelompok tertentu, keseimbangan diperoleh melalui komunikasi media sosial. Kelompok-kelompok belajar anak adat di Papua yang sebelumnya sangat bergantung dari pengiriman buku berbiaya mahal, melalui program Free Cargo Literacy memperoleh manfaat penting. Mahasiswa-mahasiswa NTT, Papua, dan Papua Barat setiap bulannya rutin mengirimkan buku-buku sastra, ensiklopedia, dan buku pendukung belajar baca-tulis-berhitung untuk anak-anak.

Fenomena meningkatnya jumlah komunitas literasi juga menunjukkan betapa besarnya kesukarelawanan yang tengah ikut tumbuh. Donator-donatur buku tidak lagi bergantung pada lembaga-lembaga besar atau internasional, melainkan juga individu-individu yang menggerakkan pos-pos penampungan buku di berbagai tempat. Sekarang, komunitas-komunitas literasi di Jawa (misalnya Yogyakarta dan Bandung) memfungsikan diri sebagai tempat menampung buku-buku untuk disumbangkan ke komunitas literasi di luar pulau Jawa. Gerakan sosial keagamaan seperti Muhammadiyah bahkan ambil bagian dari proses kesukarelawanan ini dengan mendirikan Serikat Taman Pustaka, turut menjadi komunitas yang menyalurkan buku-buku ke berbagai mitra komunitas. Kesukarelawanan yang tumbuh subur di kota-kota dengan industri perbukuan yang maju, memberi kesempatan baru bagi tumbuhnya komunitas-komunitas literasi di seluruh Indonesia. Program Free Cargo Literacy mempercepat dan mengakomodasi tingginya kesukarelawanan ini untuk terus tumbuh.

Apa dampak penting dari meningkatnya jumlah gerakan literasi dan proses kesukarelawanan yang begitu aktif ini, serta kehadiran Negara memfasilitasi perkembangan ini sebagai bagian dari respon atas persaingan global? Jawabannya terletak pada kekuatan gerakan literasi menjadi isu kolektif, politik, sosial, dan ekonomi, sehingga memungkinkan penerapannya yang meluas ke berbagai perihal kehidupan masyarakat. Gerakan literasi di Indonesia berkembang ke arah perubahan sosial yang terjadi tepat di dalam tubuh masyarakatnya sendiri. Literasi sebagai isu publik terlacak dari populernya istilah ini digunakan untuk berbagai konteks yang sangat luas, dan kadang tidak melulu berkaitan dengan praktik emansipasi sosial tetapi praktik emansipasi individual, seperti literasi media, literasi keuangan, literasi keluarga, atau literasi budaya. Populernya istilah literasi sebagai cara untuk menyampaikan pentingnya memiliki landasan pengetahuan dalam setiap praktik hidup privat menunjukkan penguatan pembayangan kemajuan sosial dan teknologi. Dengan demikian gerakan literasi tumbuh di dalam kesadaran banyak orang bahwa gerakan ini berkaitan dengan pentingnya ilmu pengetahuan sebagai dasar dari praktik komunikasi dan interaksi sosial.

Cara kerja gerakan literasi yang pada awalnya dilakukan secara swadaya oleh masyarakat, menginspirasi dan mendorong institusi-institusi pemerintahan mengubah cara kerjanya. Di beberapa tempat seperti di Palu, Lampung dan Yogyakarta, literasi telah menjadi bagian dari diskursus pemerintahan lokal. Tingginya popularitas gerakan literasi di kota-kota ini telah mendorong keterlibatan pemerintah daerah untuk mengambil bagian. Penyebab utama keterlibatan pemerintah tentu saja karena komunitas-komunitas literasi yang pada umumnya digerakkan oleh kelas menengah, sebagian dari mereka adalah mahasiswa, pedagang, dan pegawai negeri, pada dasarnya selalu berupaya menggandeng pemerintah sebagai cara melegitimasi praktik-praktik sosial yang mereka inisiasi. Sedangkan Negara, selalu berupaya melibatkan diri pada isu-isu menarik yang seringkali mudah populer di media dan mampu menunjukkan betapa seriusnya Negara berupaya memajukan masyarakat. Hal ini memungkinkan keterlibatan pemerintah ke dalam gerakan-gerakan literasi muncul sebagai ekspresi meleburnya batasan antara Negara dan swasta. Pemerintah daerah aktif melibatkan diri untuk mendukung pertumbuhan gerakan literasi di berbagai tempat, apalagi program-program di tingkat pusat sejak era Pasca-Soeharto menggunakan mekanisme pelibatan partisipasi masyarakat. Sejak tahun 2014, gerakan literasi mendapatkan perhatian khusus sebagai cara untuk masuk ke dalam aktivitas kolektif masyarakat. Kesukarelawanan dalam gerakan literasi sebagaimana diungkapkan oleh Nirwan Arsuka, salah satu penggerak Pustaka Bergerak Indonesia (PBI), telah menjadi alasan penting mengapa pemerintah pusat pada akhirnya merasa perlu terlibat dengan arus gerakan ini.

Fauzan Anwar Sandiah, Penulis adalah Pegiat Rumah Baca Komunitas

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *