Gerakan Iqra’: Manifestasi Spirit Intelektualisme Pelajar Muhammadiyah


Phisca Aditya Rosyady

Pelajar merupakan entitas dan komponen dalam sebuah bangsa yang berperan penting dalam memberikan solusi-solusi segar dalam berbagai permasalahan bangsa. Kalau kita menengok sejarah, Bangsa Indonesia ini dibangun dan diperjuangkan oleh inisiasi dan buah pikir para kaum pembelajar seperti mahasiswa dan pelajar. Sebut saja Bung Hatta, Bung Karno, Dr. Sutomo, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh peletak pondasi bangsa ini yang pada waktu itu notabene mereka adalah seorang pelajar yang sedang menuntut ilmu, baik di luar negeri ataupun di Indonesia. Entah kenapa sejarah mengatakan bahwa pelajar memang memiliki kontribusi yang nyata di negeri ini. Dalam hal ini pelajar mengambil peran sebagai kalangan intelektual yang kemudian nanti akan memberikan pewacanaan, penyikapan dan aksi nyata melalui diskusi-diskusi keilmuan mereka.

Seiring berjalannya waktu, tak bisa dipungkiri generasi muda saat ini termasuk pelajar seolah terninabobokkan pada sebuah kondisi nyaman (comfort condition) mereka. Hal ini merupakan salah satu dampak dari globalisasi yang ditandai dengan berbagai fasilitas yang melalaikan. Sebagai contoh salah satunya pelajar sekarang terlalu asyik menatap layar gadgetnya seharian hanya untuk update status, curhat di sosial media. Alokasi waktu untuk membaca perlahan-lahan tereduksi dan bisa jadi ini berpotensi untuk lenyap. Sebuah hal yang cukup mengerikan jika para pelajar sudah tidak lagi memiliki semangat untuk memperbanyak literasi keilmuan mereka melalui membaca. Kalau sudah demikian maka bisa dikatakan intelektualitas pelajar hanyalah omong kosong dan ompong adanya. Ini artinya pelajar tersebut sudah tidak berkarakter pelajar lagi.

Kondisi di atas menggambarkan betapa urgensinya Gerakan Iqra` untuk menjaga api intelektualitas di kalangan pelajar. Perlu adanya upaya untuk kembali menggelorakan spirit membaca di kalangan pelajar. Sehingga pelajar tidak lagi kehilangan taring intelektualitasnya guna sebagai referensi dalam pemecahan berbagai permasalahan bangsa. Termasuk kalau kita berbicara tentang Pelajar Islam. Pelajar Islam tentu harus menjadi contoh dalam upaya menyalakan kembali semangat membaca. Apalagi dalam Islam juga  sudah jelas landasan naqlinya yakni pada Q.S. Al Alaq yang mengajak kita untuk membaca.

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan (Al-Alaq: 1)

Dalam ayat tersebut jelas menggambarkan betapa pentingnya membaca dalam Islam. Oleh karenanya Allah menurunkan ayat ini sebagai ayat yang pertama kali diturunkan pada Nabi Muhammad SAW. Tersurat jelas dalam penggalan ayat tersebut, Islam memerintahkan kita untuk giat membaca. Meskipun dalam konteks ini artian membaca dalam arti universal. Lebih menitikberatkan pada artian membaca secara luas, tidak terbatas pada buku namun juga membuka kemungkinan membaca lingkungan kita, lingkungan alam maupun lingkungan sekitar kita. Hal ini mengandung tiga makna yakni membaca untuk mengenali kebesaran-Nya, membaca untuk mengilmui suatu hal, dan membaca untuk paham dan tanggap terhadap lingkungan kita. Inilah yang harus selalu kita jadikan landasan dan niatan kita agar semangat membaca itu tetap berkobar dalam diri kita.

Peran kita sebagai pelajar menuntut kita untuk senantiasa bergelut dengan buku-buku. Memperluas wawasan keilmuan yang sedang kita geluti ataupun wawasan secara umum. Pelajar tentunya harus khatam dengan keilmuannya masing-masing selain wawasan universal dan tentunya wawasan keagamaan yang harus selalu melekat dalam dirinya. Apalagi kalau kita mengaku sebagai aktivis dakwah pelajar yang notabene harus berdakwah di kalangan teman-teman kita, tentu kita perlu giat membaca buku-buku agama. Ibarat sebuah teko air minum, teko tersebut akan bisa mengisi gelas dengan air setelah teko tersebut diisi oleh air terlebih dahulu. Begitu juga sebagai seorang kader dakwah, sebelum ia berdakwah kepada yang lain, ia harus memiliki ilmu terlebih dahulu sebagai bahan untuk berdakwah. Untuk memiliki ilmu disini kita kembali harus membaca, membaca, dan membaca.

Berbicara dengan Gerakan Iqra`, Ikatan Pelajar Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi dengan segmentasi pelajar sebenarnya telah melangkah ke arah sana. Banyak sekali kampanye yang menggembor-gemborkan gerakan Iqra`. Tak hanya berhenti pada tahap pewacanaan dan kampanye semata, IPM juga telah menginisiasi beberapa program riil seperti Rumah Baca Komunitas yang dipelopori oleh alumni Pimpinan Pusat IPM dan Komunitas Baca Angkringan Pintar yang diinisiasi oleh teman-teman dari IPM Cabang Kecamatan Imogiri. Tentunya masih banyak lagi organisasi kepelajaran yang juga memiliki program menggelorakan semangat Iqra` atau membaca di kalangan generasi muda.

Akhirnya semoga membaca menjadi sebuah karakter yang melekat dalam diri pelajar Islam saat ini dan masa yang akan datang. Karakter yang mengakar kuat sehingga api intelektualitas  pelajar sekarang terutama pelajar Islam akan tetap menyala. Sehingga kedepan Pelajar Islam siap menjadi solusi-solusi cerdas dan segar bagi peliknya permasalahan yang mendera bangsa Indonesia. Wallahu alam bish-shawab


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *