Generasi Emas Madura, berselimutlah pengetahuan dan beralaskan buku


David Efendi
@serikattamanpustaka
@pekerjaliterasi

Saudara semua, selamat berbuka puasa dan menikmati bulan puasa penuh berkah literasi ini. Kesan pertama saya Ngabuburead di bangkalan. Ekologis, indah, bermakna. “Lokal rasa nasional”.

Mohon izin lewat, saya buat catatan kecil kegiatan menarik di pulau Bangkalan, Madura. Sekitar perjalanan 10 jam dari Yogyakarta, ibu kota Muhammadiyah. Mengapa saya sebut Muhammadiyah, karena penggerak dan jamaah literasi di Bangkalan sangat bangga menjadi bagian dari Muhammadiyah.

Sejak siang di arena acara ngabuburead juga dibuka lapak bacaan dari kutu buku dan komunitas limit (literasi millenial community) memberikan pelayanan bacaan bagi puluhan anak anak TPA/santri dan peserta kegiatan. Berbagi tugas dan main peran yang asik di saat seminar dan diskusi berjalan semua berbagi peran. Model kolaborasi ortom yang keren, se keren sastrawan Celurit Emas, D Zawawi Imron. Dengan gembira saya melalui proses belajar bersama ini.

Sejak awal saya antusias menerima undangan dari Gubuk Kutu Buku an Nuur ini. Entah apa bagaimana caranya saya harus sampai ke Bangkalan. Saya bahkan mencancel agenda lain di Yogyakarta. Intinya, aku seneng rek, ini dahaga puasa tak hanya dahaga, tapi berujung pada rasa bahagia Bersama gelora hidmatnya ibadah ngabuburead di Bangkalan.

selain Celurit Emas, ada kekayaan maha besar Madura yang hari ini saya saksikan. Adalah muslim milienal yang punya hsarat kuat untuk melek pengetahuan (will to literate). Hasrat ingin mampu membaca yang juga ditopang oleh habitus perpustakaan informal (Gubuk baca buku) yang insyallah kelak akan menjadikan otak-otak generasi emas ini benar-benar bercahayakan pengetahuan: selimutnya pengetahuan, dan alas tidurnya adalah buku-buku. Sebagai metaphor bahwa muslim millennial Madura ini dekat dan intim Bersama sumber-sumber pengetahuan.

Kesan saya entahlah siang sampai sore ini di salah sudut Madura, di kecamatan Socah kabupaten Bangkalan. Saya gembira, sangat bergembira seperti kegembiraan yang tumpuk-tumpuk meluber. Behagia menunggu buka hehe….dan bahagia menyaksikan dinamika literasi di Madura ini.

Lokasi kegiatan di kompleks pesantren yang unik bernama ‘Babu salam’, pintu keselamatan yang diasuh oleh ustad Rik Suhadi. Ustad super keren yang semula menggarap anak-anak korban Narkoba sejak tahun 2005. Ustadz Ini juga jajaran Muhamamdiyah Bangkalan. Kini, ada 30-40 anak-anak yang nyantri harian (santri kalong) di padepokan ini.

Banyak narasumber hebat di ancara nabuburead ini, ini model solidaritas pegiat literasi lintas generasi, lintas propinsi, dan lintas apa saja. Gotong royong membangun literasi ini muncul dari kerelawanan panitia, peserta yang jauh dari Surabaya, dan kabupaten lainnya. Juga dari relawan buka Bersama. Tak lupa juga relawan narasumber yang luar biasa: Mbak Wiwid, mas subhan, Mas Syaikul, Mas Piet Khaidir, juga tim ekspedisi Jogja Madura: mas Rizky dan mas Adim yang menjadikan rihlah literasi menjadi asik dan menggembirakan.

Terima kasih mas Ubay, GBK, Limit, Bikers Sholeh, IMM UTM, PD IPM Bangkalan, dan semua orang yang membantu kegiatan ngabubuREAD ini. Saya salut, saya tresno karo sampean kabeh. Intine Madura harus berada di shof depan dalam jamaah ummat terbaik penggerak literasi. Pada peserta muslim millennial semua, saya sangat terkesan antusaisme kalian semua. I love you full, aku sueneng rek karo sampean.

Diskusi satu jam lebih berbagi banyak hal. Mulai saya cerita kedekatan Muhammadiyah dengan literasi sebelum mimpi indonesia merdeka menguat, hadirnya SM yang dilahirkan oleh Taman Pustaka, dan perlunya politik etis untuk penguatan dan pembangunan habitus literasi bagi bangsa. Ada makalah enam halaman yang saya share. Bu Wiwid berkisah dan memotivasi banyak hal termasuk pembangunan museum Muhammadiyah sebagai simbol pencapaian derajat literasi yang tinggi. Ada estetika, sejarah, material, dan hasanah zaman. Mas Syaikul Islam berbagi inspirasi bagaimana muslim millenial produktif menggunakan internet dan aplikasi digital. Luar biasa juga, sesi bedah buku muslim millenial yang saya ikuti menyulutkan api literasi yang dipantik ustadz Piet Khaidir dan Subhan. Ustadz Piet Khaidir penuh energi dukungan pada gerakan literasi. Saya senang sekali ketemu tokoh muda penulis dan seorang ustadz yang mengasuh pesantren al islah ini.

Madura menjadi generasi emas, generasi terbaik dengan kapasitas keilmuan yang memadai serta berdaya transformasi tinggi bagi kemulian bangsa dan negara serta ummat manusia.

Selamat berbuka puasa untuk para pegiat literasi di Indonesia dan sekitarnya. Sampai jumpa di ibadah ngabuburead berikutnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *