Fenomena Gerakan Literasi


Oleh Agung Hidayat Mansur, Pegiat Literasi

Gerakan Literasi merupakan sebuah upaya mendorong pentingnya untuk membaca dan kebiasaan untuk menulis kepada masyarakat, praktik literasi juga bertujuan untuk mengenalkan kepada masyarakat tentang pentingnya membaca buku, karena buku memiliki kekuatan tersendiri untuk memberikan informasi dan juga sumber ilmu yang perlu diketahui tentunya agar dapat mengetahui isi dari buku tersebut kita mesti membacanya.

Inilah yang dilakukan oleh  komunitas literasi sebagai tujuan awalnya memulai gerakan literasi ini, dengan membuka perpustakaan umum untuk masyarakat. Karena ada semacam pembatasan oleh perpustakaan milik lembaga pendidikan yang hanya dapat dinikmati oleh masyarakat lembaga tersebut, dan tidak memberikan akses kepada masyarakat umum.

berangkat dari sinilah perpustakaan berbasis komunitas untuk memberikan akses yang mudah dijangkau kepada masyatakat agar dapat menikmati fasilitas perpustakaan yang mudah dan terjangkau untuk umum.

Apalagi jika daerah yang terbilang plosok atau perkampungan yang jauh dari perkotaan, tentunya semakin menambah potret kehidupan masyarakat yang jauh dari sumber informasi dan juga sumber bahan bacaan, dan juga pada perkampungan sangat jauh dari sebuah fasilitas perpustakaan, baik itu perpustakaan lembaga pendidikan maupun perpustakaan pemerintah,serta toko buku.

Membaca fenomena diatas sangat diperlukannya sebuah inovasi untuk meberikan fasilitas atau akses kepada masyakat dalam hal praktik literasi, berupa perpustakaan umum kepada masyarakat.

Perpustakaan sangat penting bagi masyarakat karena lewat perpustakaan masyarakat dapat menerima informasi serta pengetahuan yang baik, lewat pepustakaan pula masyatakat akan lebih memiliki wawasan tentang ilmu pengetahuan.

Inilah yang mendorong berbagai komunitas literasi di Indonesia, untuk menggerakkan literasi kepada masyarakat, tentu kemudian komunitas literasi akan mendapatkan tantangan yang nyata pada pelaksanaanya. Tantangan pertama,yaitu dalam hal oprasional, karena komumitas literasi ini biasanya tidak memiliki pendanaan yang mengikat, yang ada adalah kesukarelaan pada penggeraknya atau relawan literasi.

Maka perlunya daya kreatif oleh pengelolaan serta daya tahan untuk menggerakkan komunitas literasi. Tantangan kedua adalah para relawan harus mewakafkan dirinya kepada masyarakat untuk membangkitkan minat baca masyarakat. Ini merupakan hal yang sangat menguji para penggiat dan disinilan diuji oleh sebuah komunitas untuk mempertahankan eksistensinya sebagai sebuah komunitas literasi. Sehingga para pengiat harus rela membagi waktunya, kepada komunitasnya dan juga ke hal pribadinya.

Ketiga, lingkungan yang jauh dari fasilitas umum untuk mendukung program literasi, tak sedikit komunitas didirikan yang jauh dari kata sejaterah bahkan banyak dari komunitas dibentuk karena melihat akses yang sangat sulit untuk dijangkau.

Namun tantangan tersebut tidak serta-merta menghilangkan semangat para pegiat literasi namun, akan menjadi motivasi agar lebih berusaha dan berjuang, untuk membudayakan literasi kepada masyakat.

Mendirikan komunitas Literasi kini bukanlah hal yang sulit dan rumit. namun, mendirikan kominitas sanagatlah mudah, dengan bermodal kemauan yang tinggi serta semangat perubahan yang ditanam pada komunitas literasi, maka akan dapat mempermudah langkah komunitas untuk tubuh dan bertahan.

Dengan komunitas literasi kita tidak lagi akan merasakan sulitnya mendapatkan akses bahan bacaan atau perpustakaan, karena mendirikan komunitas ini tidak perlu modal pendanaan yang tinggi, namun murah dan mudah.

Serta masyarakat yang merupakan konsumen dari gerakan literasi, dapat mendapatkan manfaat dan akses yang mudah dijangkau dan juga tidak memberikan batasan waktu dalam hal membaca.