Evaluasi jurnalisme untuk pembaca yang budiman


Oleh : Fikri Fadh*

derasnya arus informasi dari media onlen menjadikan timbulnya kekacauan dalam dunia jurnalisme. kecepatan yang menjadikan prioritas utama, menyebabkan kedangkalan informasi yang disampaikan kepada publik.

dengan didukung oleh mudahnya akses informasi melalui onlen, menjadikan masyarakat memiliki ruang untuk berkespresi. baik ekspresi terhadap lingkungan, kebijakan publik, menerima isu-isu yang beredar serta mempublikasikan aktivitas heroik mereka.

jurnalisme saat ini.

sebuah lembaga jurnalistik memang membutuhkan bahan bakar untuk tetap menyajikan informasi. pegiat media juga harus digaji. bagaimana nasib keluarganya jika tidak ada gaji? tugas para jurnalis adalah mencari berita dan memberikan informasi kepada publik, supaya publik tercerahkan terhadap suatu kejadian (kasus). perkara bahan bakar adalah ranah management dan pimpinan. namun, jika pimpinan suatu lembaga jurnalistik menggunakan cara yang tidak sehat untuk sekedar bertahan hidup, bisa jadi yang didapatkan adalah ketahanan hidup yang sementara. bagaimana nasib para pegiat media?

lembaga jurnalistik perlu melakukan evaluasi. saran dan masukan ini terlahir dari seorang yang menginginkan informasi yang jelas dan berdasar. mungkin tetap menggunakan prinsip jurnalistik yang cepat, namun selanjutnya di susul dengan tambahan informasi yang lebih jelas dan bersumber terpercaya.

bagaimana untuk supaya produksi tetap berjalan?

Puthut EA, seorang penulis sekaligus pemilik sebuah media onlen pernah menuliskan gagasan dalam laman facebook-nya. gagasan tersebut berjudul kolektif pembaca. gagasan ini ditujukan kepada orang-orang yang ingin membaca suatu informasi yang detail dan berdasar. tentunya upaya seperti ini ada biayanya. namun jika diupayakan secara kolektif, nampaknya bisa saja dijalankan. ajak orang-orang yang ingin membaca informasi yang baik serta jauh dari omong kosong.

misalkan ada 100 orang yang lelah dengan informasi omong kosong dari media onlen. kemudian secara kolektif mereka iuran 100 ribu setiap bulan. kemudian di musyawarahkan. informasi apa yang ingin mereka peroleh. bisa sebaliknya, sudah mengetahui informasi seperti apa yang ingin diperoleh, kemudian iuran 100 ribu untuk mendapatkan informasi tersebut. jika ada 100 pembaca kolektif, berarti terkumpul dana 10 juta untuk sebuah informasi yang sangat bagus. itu simulasinya, bisa disesuaikan sendiri.

setelah terkumpul, cari team jurnalis untuk melakukan peliputan dengan dana yang sudah terkumpul secara kolektif tadi. sampaikan kepada team jurnalis tersebut. sampaikan dana yang terkumpul, para pembaca kolektif membutuhkan informasi tentang “hal ini”, dan silahkan dicari selama dua minggu, misalnya.

setelah team jurnalis bekerja mencari data-data untuk bahan, berikan waktu untuk mereka menuliskannya. bebaskan cara mereka bernarasi, entah nanti menjadi berita liputan, esai, opini, artikel atau yang lain. yang pasti, team jurnalis sudah mendatangi subjek dan memiliki data-data yang dibutuhkan.

publik berhak mendapatkan informasi yang sehat. kekacauan persaudaraan salah satu penyebabnya adalah minimnya informasi terhadap suatu hal (kejadian). bukankah langkah ini lebih bisa netral dalam dunia jurnalisme? posisi pembaca menjadi keperpihakan utama, bukan kepentingan politik praktis atau para pemegang kekuasaan.

buat kesepakatan untuk kolektif pembaca

supaya bisa bertahan lama, para pembaca yang terhimpun membuat susunan pengurus. buat yang sederhana saja. supaya team jurnalis juga lebih mudah dalam menyampaikan laporan serta pertangung jawaban. pengurus tersebut juga bisa mengatur untuk iuran bulanan tadi, dan menjadi fasilitator para pembaca yang lain.

dengan upaya itu, akan muncul tulisan-tulisan yang menarik. tulisan yang tersebar ke masyarakat pun berkualitas. tidak omong kosong dan hanya menaikkan nama suatu lembaga jurnalistik. tidak sekedar viral, namun memang membawa kualitas informasi yang menyehatkan.

sejatinya yang harus berkuasa atas informasi adalah pembaca (masyarakat). bukan para pemilik media yang menggiring informasi, tapi masyarakat yang menentukan, informasi apa yang ingin mereka dapat. toh masyarakat yang membiayai melalui kolektif pembaca. selamat mencoba wahai pembaca yang budiman.

——————————–
*founder komunitas literasi janasoe dan pembaca yang budiman.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *