Elegi Sarjana Sandal Jepit


Oleh : Fikri Fadh*

Patut kita syukuri bersama, Pemerintah Pusat melakukan uji publik terhadap skema kredit biaya kuliah. Jadi, tidak hanya beasiswa Bidikmisi, ataupun jenis beasiswa yang sudah dijalankan, ada skema baru yang sedang direncanakan.

Bisa jadi, Pemerintah Pusat berkeinginan untuk meningkatkan taraf pendidikan masyarakat. Supaya angkatan kerja lulusan Perguruan Tinggi semakin meningkat. Ya, meskipun tidak semua lulusan Sarjana siap untuk bekerja, jika ditinjau dari bidang keilmuan yang dipelajari.

Banyak pihak yang mengingatkan akan skema tersebut. Salah satunya dengan mengambil pelajaran dari yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Negera tersebut sudah melakukannya. Banyak mahasiswa yang mengikuti program tersebut, tetapi tidak dapat melunasinya. Alhasil nyaris menciptakan krisis ekonomi di negara tersebut.

Salah satu peringatan selanjutnya adalah, masyarakat hanya menjadi konsumen pendidikan. Selain itu, jeratan kredit biaya kuliah bisa membebani dikemudian hari. Karena, pasti Perbankan lah yang akan mengelolanya. Sehingga, relasi mahasiswa dengan negara menjadi bersifat transaksional, tidak lagi menjadi agent of change.

Sebagai sarjana yang masih anyaran di dunia belantara ini, saya membayangkan bagaimana skema kredit yang akan digulirkan. Saya juga mantan mahasiswa jalur beasiswa, jadi saya penasaran dengan skema ini. Sebenarnya saya tidak pintar atau nilau UN-nya berangka besar. Beasiswa ini mungkin datang langsung dari Gusti Allah. Datang dengan tiba-tiba, bahkan didetik-detik saya memutuskan untuk memilih lulus SMK langsung bekerja saja. Gusti Allah memang suka membuat hambaNya terkejut.

Tahun 2017 saya di wisuda. Gagah sekali saat berfoto menggunakan toga. Meskipun itu toga pinjaman dengan jaminan uang beberapa ratus ribu rupiah. Ternyata, kebahagiaan langsung sirna begitu saja dikala orang tua kembali ke kampung setelah menghadiri wisuda. Hanya beberapa jam saja bahagia itu adanya, langsung sirna seketika. Seluruh dunia tahu, saya sarjana.

“Besok pagi, saya mau melakukan apa?”. Malamnya saya lupakan sejenak dengan bakar jagung di pantai.

Jadinya saya mahasiswa tanpa profesi, tapi tidak nganggur. Tidak enaklah saya sama Bung Karno. Kalau saya jadi sarjana nganggur, nanti tidak masuk dalam kategori 10 pemuda yang bisa mengguncangkan dunia, maya. Heheuww. . .

Saya tidak mencari pekerjaan tetap di sela-sela mengerjakan skripsi dan menunggu waktu wisuda. Tetapi saya tetap bekerja, tetaptnya wirausaha. Meskipun usahanya naik turun dan gonta-ganti bidang. Kalau ditanya usaha di bidang apa, saya akan jawab “jenengan butuh apa, saya ada”. Semacam makelar, tapi sarjana.

Selain menjadi makelar tapi sarjana, saya mengolah aksara. Saya memang suka membaca, jadi tidak heran, wirausaha yang saya tekuni adalah tidak jauh dari dunia buku. Selain itu adalah menulis. Meskipun saya belum bisa disebut penulis. Lebih pantas mungkin makelar tapi sarjana yang menulis.

Saya salah satu sarjana yang kurang ahli tentang keilmuan dari jurusan yang diambil. Bahkan saya agak malu-malu jika ditanya apa gelar saya. Kenapa saya malu? Karena tidak mendalamnya keilmuan yang saya pelajari, menyebabkan saya tidak bekerja di bidang keilmuan saya.

Untung saya tidak mendapatkan beasiswa dengan sistem kredit biaya kuliah. Bagaiaman jika model-model sarjana itu nantinya seperti saya ini? Setelah lulus kuliah, belum bisa menjadi tenaga kerja yang produktif di bidangnya?

Mungkin para pemangku kebijakan perlu mengevaluasi lagi. Tidak hanya kredit biaya kuliah. Tetapi juga kredit semangat dalam belajar. Kredit cita-cita membangun bangsa. Sehingga, banyaknya sarjana dan magister di Indonesia, memang dirasa kemanfaatanya. Tidak malah menjadi sarjana yang kesana kemari menggunakan sandal jepit, hingga belang warna kulit.

————————————————————–
*Founder Komunitas Literasi Janasoe


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *