7 menit waktu baca

Ekopedagogi: Pendidikan Kritis Pelajar Muhammadiyah

Oleh Al Bawi*

Membangun narasi lingkungan hidup harus selalu di gerakan untuk meningkatkan semangat (iman) terhadap isu yang dihadapi semua manusia yaitu isu lingkungan. Penulis dalam beberapa kesempatan selalu menggiring isu lingkungan untuk terus di kembangkan dan terus dinaikan derajatnya untuk memberi spirit bagi pembaca, khususnya kader IPM yang hari ini menjadikan isu lingkungan hidup bagian dari dalam dirinya.

Membangun narasi lingkungan hidup serasa tidak pernah selesai, karena selama ekosistem bumi terus memburuk dan bumi semakin rusak maka gagasan dan wacana ekologi akan terus dinaikan. Seperti halnya Greta Thunberg yang tidak pernah berhenti untuk turun menuntut krisis iklim dan ber pidato dari satu Negara ke Negara yang lain sebagai bentuk penyadaran dan bentuk protes atas krisis lingkungan yang terjadi.

Kerja-kerja ekologi merupakan hal yang berkelanjutan dalam seluruh bentuk agenda apapun, ada banyak gerakan pantang plastik hari ini yang menjadi life styledalam keseharian seperti membawa totebag, sedotan stainlesshingga membawa tumblerdan tempat makan kemana saja, gerakan ini semakin menjamur menjadi mikroba ekologi dengan pergerakan kecil ini semakin banyak para generasi muda mulai di sadarkan atas isu lingkungan terutama isu sampah plastik. Bahkan ada banyak hari ini video yang menjelaskan tentang bagaimana sampah ada di gunung, di laut hingga daratan dan juga sudah menyebarnya komunitas-komunitas berbasih lingkungan mulai dari komunitas yang pergerakanya hanya sekadar 3R hingga perlawanan sosial ekologis atas berbagai macam konflik ekologis yang dihadapi atnara masyrakat dengan korporasi.

Semua pergerakan ekologis ini tidak boleh menemui konflik saudara karena semua hal apapun yang menyangkut perbaikan lingkungan hidup adalah sebuah harapan untuk menghijaukan bumi. Mengapa penulis bilang konflik saudara karena sejatinya seluruh gerakan kecil hingga pergerakan besar mereka mempunyai prinsip yang sama yaitu alam menjadi lestari. Oleh sebab itu pertentangan di semua sektor ekologis perlu saling menguatkan bukan untuk saling menjatuhkan.

Terkait semangat yang mulai terbangun di beberapa lapisan masyarakat mulai dari anak muda dengan usia belasan tahun hingga perjuangan para petani yang menuntut keadilan ekologis. Perlu adanya pendidikan ekologis untuk mempertajam perihal lingkungan hidup. Karena melalui pendidikan lingkungan hidup ini lah langkah strategis akan tercipta, akan banyak masyrakat tersadarkan akan isu lingkungan hidup ter utamanya adalah kader IPM yang jumlahnya sudah mencari puluhan ribu dalam setiap jenjang kepemimpinan yang artinya  sudah saatnya kader IPM mentrasformasikan dirinya menjadi ekologis untuk menebar benih-benih ekologis bagi lingkungan sekolah hingga masyrakat. Melalui pendidikan lingkungan hidup merupakan pencapaian yang akan kita tempuh setelah pada sebelumnya kita sudah di arahkan kepada melek akang lingkungan hidup (eko literasi), dan kemudian kita bisa menerima pendidikan lingkungan hidup untuk di implementasikan kedalam kurikulum IPM.

Baca juga:  Orang Muhammadiyah

Upaya untuk menjaga keselarasan, keharmonisan dan kesinambungan alam sungguh berbanding terbalik dengan realitas yang ada saat ini. Meskipun pada dasarnya alam sendiri sudah diakui memiliki nilai dan berharga, tetapi pada kenyataannya, alam dianggap sebagai objek kehidupan yang terus di eksploitasi oleh manusia melalui praktik pencemaran, perusakan dan berbagai tindakan buruk lainnya. Kondisi ini merupakan cerminan dari rendahnya kesadaran ekologis masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, pendidikan ekologis sangat dibutuhkan sebagai upaya dalam melakukan refleksi kritis atas kondisi tersebut. Dengan demikian pendidikan ekologis dapat menumbuhkan kesadaran yang berarti bagi literasi ekologis (Kahn dalam Okur & Berberoglu, 2015)

Berdasarkan hal tersebut, dapat dipahami pendidikan ekologis bertujuan untuk mengasah sensibilitas ekologis serta menumbuhkan kesadaran akan keberadaan lingkungan hidup sebagai bagian dari ekosistem yang berpengaruh pada kehidupan manusia. Dalam dan melalui pendidikan ekologis, semua orang digiring kepada pembiasaan mentalitas hidup ekologis yang senantiasa sadar bahwa keberadaan dirinya hanya bisa berarti kalau ia ada bersama dengan ciptaan lain. Hal ini berimplikasi pada pemahaman tentang betapa bernilai dan berharganya alam bagi kehidupan manusia, sehingga betapa pentingnya untuk menjaga dan melestarikan kehidupan yang selaras dan seimbang.  Kesadaran ekologis harus menjadi bagian terpenting dari tujuan pendidikan.

 Pendidikan harus mampu membangun insan-insan pendidikan yang memiliki karakter dan kesadaran tentang alam/ lingkungan dan bukan diorientasikan pada upaya untuk melahirkan insan-insan pendidikan yang berjiwa pragmatismaterialis, dan berdampak pada terbangunnya paradigma yang terjebak dalam rimba-raya pembangunan yang keliru (maldevelopment) yang hanya melihat alam sebagai obyek, mekanistis, terpecah-pecah, terpisah dari manusia sehingga mudah didominasi dan dieksploitasi.

Memulai pendidikan ekopedagogi

            Secara etimologi istilah ekopedagogik (ecopedagogy) berasal dari dua kata kata, yaitu ekologi (ecology) yang mengandung arti ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya, dan pedagogic (pedagogy) yang berarti ilmu pendidikan, baik secara teoretis maupun praksis yang didasarkan pada nilai-nilai filosofis. Berdasarkan tinjauan tersebut, maka dapat dipahami, bahwa ekopedagogik merupakan sebuah pendekatan untuk membangun kesadaran ekologi, berdasarkan refleksi kritis atas kondisi kehidupan yang yang tidak sesuai dengan harapan, guna membangun masa depan kehidupan yang lebih baik.

Baca juga:  Najib Burhani Bersaksi untuk Ahmadiyah

Terdapat berbagai acuan yang digunakan dalam pengembangan bahan ajar. Pertama, menggunakan tiga pilar ekopedagogi (konsep kelenturan ekologi-sosial, literasi budaya, dan penggunaan teknologi secara kritis dan kreatif (Kahn 2008; 2010). Kedua, membangun keseimbangan antara kemampuan berpikir (head), bersikap (heart), dan bertindak (hand). Ketiga, mendorong pembelajaran sebagai proses sosial untuk mendorong keterampilan sosial siswa dalam berinteraksi baik di dalam kelas, maupun di luar kelas. Keempat, mengarah pada pencapaian komptensi akademik pada tingkat yang lebih tinggi sesuai dengan taksonomi Bloom. 

Ekopedagogi tidak terbatas pada aspek kognitif namun mencakup berbagai tantangan, perilaku, sikap, perspektif, kepedulian dan kemampuan untuk merasa terikat dengan komunitas manusia (Gadotti 2008; Kostoulas-Makrakis 2010).

Dalam buku Critical pedagogy, ecoliteracy, and planetary crisis:  the ecopedagogy movementkarya Richard Kahn. Gerakan Ecopedagogi menantang para pendidik untuk secara kritis melibatkan dan bergabung dengan yang baru lahir tetapi menumbuhkan gerakan ekopedagogi internasional. Akar Ecopedagogy yang kompleks dan inklusif terletak dalam pendidikan lingkungan awal dan pengajaran pendidik dan filsuf termasuk yang dari Paulo Freire, Ivan Illich, dan Herbert Marcuse. Ecopedagogyyang diinvestasikan berupaya mengolah dan menghargai potensi kolektif dan komunal manusia dalam perjuangan untuk mencapai yang ramah hidup di bumi. Kami melihat ecopedagogysebagai alat sosial dan pendidikan Illicheanyang potensial untuk keramahtamahan, ”alat yang menciptakan kemungkinan untuk“ kebebasan individu yang diwujudkan secara pribadi.

EcopedagogyMemiliki tujuan sebagai berikut.  1. Untuk membantu menjelaskan masalah kepedulian serta perhatian tentang saling keterikatan antara eknomoi, social, politik, dan ekologi dikota maupun di wilayah pedesaan.  2. Untuk memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk mengembangkan pengetahuan, nilai, sikap, komitmen, dan kemampuan yang dibutuhkan untuk melindungi dan memperbaiki lingkungan 3. Untuk menciptakan pola perilaku yang baru pada individu, kelompok, dan masyarakat sebagai suatu keseluruhan terhadap lingkungan. Tujuan yang ingin dicapai tersebut meliputi aspek (a) pengetahuan; (b) sikap; (c) kepedulian; (d) keterampilan; dan (e) partisipasi (Gyallay, dalam Muhaimin 2014).

Baca juga:  Pak A.R. Fachruddin Sang Penyejuk Umat*

Berdasarkan hal di atas, maka dapat dipahami bahwa tujuan ekopedagogik adalah membangun kesadaran kolektif untuk berperan aktif dalam menjaga dan merawat planet bumi, karena alam merupakan ruang pemberi dan pemakna kehidupan (lebenstraum), dan bukan hanya sebagai lingkungan hidup (environment) semata. Selain itu, ekopedagogik merupakan pendidikan yang dapat mengubah paradigma ilmu yang hanya dipahami sebagai sesuatu yang bersifat mekanistik, reduksionis, parsial dan bebas nilai menjadi ekologis, holistik dan terikat nilai sehingga dapat tumbuh kearifan (wisdom). Selain itu, ekopedagogik juga merupakan pendidikan untuk mengenali alam, sehingga tumbuh rasa cinta/respek terhadap alam beserta isinya.

Melalui gagasan ini kader IPM di seluruh Indonesia, untuk kiranya memulai gerakan Student Earth Generation melalui kelas-kelas ekologis guna memperkaya pendidikan kritis kita terhadap lingkungan. Lingkungan hidup saat ini sedang tidak baik-baik saja. Ada banyak makhluk hidup baik flora maupun fauna yang memerlukan otak dan kebaikan hati manusia untuk memulai perbuatan baik ini. Akan kita mulai penyadaran kritis mengenai krisis lingkungan hidup dimulai sejak dalam pikiran hingga aksi kolektif (secara pimpinan) untuk memperkaya diskursus tentang lingkungan hidup.

*Pengurus PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Komentar Facebook Sobat Taman Pustaka
Kuy, berbagi...