Dari Pada Tanya”Kapan Nikah?” Inilah Obrolan Berfaedah Saat Berkumpul Bersama Keluarga di Hari Raya


oleh : Fikri Fadh*

pertanyaan setelah lulus kuliah saat berkumpul dengan keluarga adalah pekerjaan. kita mengetahui bersama pekerjaan yang populis di masyarakat Indonesia. pekerjaan itu misalnya : dokter, perawat, ASN, guru, kontraktor, pedagang, petani, pegawai swasta de-el-el.

saya mencoba menjelaskan pelan-pelan kepada kedua orang tua, tentang pekerjaan yang saya lakoni setelah setahun memiliki ijazah syarjana. meskipun, pekerjaan itu tidak populis dan cenderung menimbulkan banyak pertanyaan.

fotocopy ijazah syarjana saya yang dilegalisir oleh fakultas masih utuh 10 lembar, berikut lampiran transkrip nilainya. usia lembaran itu memasuki tahun pertama. stampel legalisirnya sudah mulai ‘ndembleng’ dan luntur tidak karuan. lembaran fotocopyan itu belum terpakai. duh. . .

cukup-cukup, ruang esai malah saya gunakan untuk curhat.

*

pertanyaan yang paling sering dilontarkan oleh sanak famili untuk para pemuda-pemudi yang bujang dan gadis adalah “kapan nikah?”, atau “kapan ngundang?” ada yang lebih ekstrim “kapan kui alate kanggo?”. dan berbagai macam pertanyaan sejenisnya.

hal lain yang ditanyakan juga tentang pekerjaan. “kerja dimana?”, “wah sudah sukses yaa, gajinya berapa?”. kan kasian kalau pekerjaannya tidak masuk daftar pekerjaan populis di masyarakat.

nah, dari pada bertanya sesuatu yang sulit untuk dijawab oleh kami-kami ini, mending membuka obrolan yang lebih berfedah.

*

misalnya gini, soal pekerjaan. buka obrolan tentang bagaimana pandangan kita terhadap rezeki. bagaimana cara memperoleh rezeki tersebut. bagaimana cara mendapatkan pekerjaan. jadi obrolannya lebih kepada bagaimana pandangan dan cara mendapatkan rezeki yang halal dan berkah. soal pekerjaannya seperti apa, itu masalah teknis saja. syukur-syukur setelah itu, terjadi kerjasama usaha. kan lebih berfaedah itu.

pertanyaan seperti itu jauh lebih adil dan tidak menimbulkan rasa sakit hati kepada lawan bicara. jadi bukan perkara pekerjaan atau bahkan gajinya, tapi pandangan terhadap cara memperoleh rezeki. bukankah rezeki sudah di tetapkan oleh Allah SWT. tinggal kita ikhtiar setulus hati dan menjalani dengan ikhlas.

*

obrolan soal nikah juga alangkah baiknya kita tata. bukan bertanya “kapan nikah?”, tapi buka obrolan bagaimana Islam mengatur hubungan lawan jenis. buka dialog juga tentang bagaimana menjaga diri, menjaga hati serta menjaga kemaluan. serta berikan nasehat-nasehat supaya bagaimana mempersiapkan diri dalam pernikahan.

menikah itu ibadah, bukan sekedar bermodal kerja dan cinta. banyak keilmuan lain yang harus dipersiapkan. ilmu tentang hukum-hukum pernikahan dalam Islam (fqih munkahat). ilmu mu’asoroh biil ma’ruf, serta hak dan kewajiban suami-istri dalam rumah tangga.

semoga kita terhindar dari pertanyaan-pertanyaan yang tidak berfaedah. serta kita juga memulai membuka obrolan-obrolan yang lebih berfaedah. obrolannya dibawa dengan santai saja lho yaa, tidak perlu ngotot dan berapi-api.

untuk bahan obrolan yang berfaedah lainnya, tentu teman-teman semua lebih paham dari saya. tabik.

___________
*founder komunitas literasi janasoe


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *