7 menit waktu baca

Covid-19: Pemulihan Bumi dan Mawas Diri

Oleh: Ubay Nizar Al Banna

Wabah Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) telah menjadi pandemi global yang menginfeksi setidaknya 210 negara di dunia berdasarkan data worldometers.

Adanya pagebluk –– dalam istilah Indonesia –– Covid-19 sangat dirasakan secara global. Per 1 Mei 2020, Covid-19 sedikitnya telah menginfeksi lebih dari tiga juga penduduk bumi, dengan catatan Lebih dari dua ratus ribu diantaranya meninggal dunia dan sekitar satu juta orang berhasil sembuh. Sisanya, masih lebih dari dua juta kasus yang aktif (pasien dirawat).
Sementara per 1 Mei 2020, berdasarkan laporan Pemerintah Republik Indonesia di laman covid19.go.id, tercatat 10.551 pasien terkonfirmasi positif dengan 1.591 diantaranya dinyatakan sembuh dan 800 meninggal dunia. Kasus yang masih aktif tercatat sejumlah 8.160 kasus.
Dampak pagebluk ini terasa sangat berpengaruh luas, baik kepada sektor ekonomi, sosial, politik maupun budaya dan sebagainya, termasuk menghasilkan dampak secara ekologis.

Polusi Udara dan Emisi Karbon
Seperti diketahui bersama, pandemi Covid-19 yang telah mendunia ini memberikan tamparan keras pada umat manusia, yang senantiasa bertindak eksploitatif dan berlebihan –– atau lebih tepatnya serakah.
Satu hal yang cukup menarik adalah, dibalik kepanikan global akibat “perang” yang digelorakan makhluk berukuran nanometer itu, polusi udara yang dihasilkan dari proses produksi industri dan asap-asap kendaraan bermotor berkurang drastis.PBB mencatat, penyebab utama polusi udara global yang mengakibatkan pemanasan global dan akhirnya menjadi krisis iklim adalah aktivitas rumah tangga, industri, transportasi, pertanian, limbah dan penyebab lainnya.(Fajar, 2016)

Prof Róisín Commane dari Columbia University menerangkan sebagaimana dilansir BBC pada 29 Maret 2020, berdasarkan hasil penelitian, New York yang selama satu setengah tahun terakhir memiliki jumlah karbon monoksida yang sangat tinggi, kini menurun cukup tajam pada Bulan Maret 2020. Karena tingkat lalu lintas yang diperkirakan turun sekitar 35% dibandingkan tahun sebelumnya, emisi karbon dikatakan turun hingga sekitar 50% selama pandemi.

Tak hanya itu, para peneliti dari Columbia University juga menemukan bahwa ada penurunan kadar CO2 sebanyak sekitar 5 hingga 10%, serta penurunan gas metana di New York.
Sementara itu, di China akibat kebijakan lockdown yang diterapkan dalam penanganan Covid-19, emisi karbon di langit China berkurang 200 juta ton —seperempat produksi emisi tahunan Cina— atau setara sekitar 6% produksi emisi dunia, mengalahkan emisi karbon dari seluruh penerbangan selama setahun.
Sedangkan menurut penelitian dan analisis Carbon Brief, mencatat prosentase penurunan 25% dalam penggunaan energi di China selama periode bulan Maret. Itu akan menyebabkan penurunan emisi karbon China secara keseluruhan sekitar 1%.

Di salah satu kota di Indonesia, yakni di Malang, Jawa Timur berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Kota Malang di tahun 2019 tidak menentu. Pernah di kategori baik dengan rentang 0–50, pun juga pernah berstatus sedang dengan rentang 51-100.

Baca juga:  Ayat-Ayat Pustaka Bergerak

Namun, di awal tahun 2020 ini, indeks pencemaran udara di Kota Malang stabil di kategori baik. Bahkan kualitas udaranya bisa jadi lebih baik akibat aktivitas industri dan mobilitas alat transportasi yang cukup jauh berkurang sejak pagebluk Covid-19 menyerang.

Berdasarkan data Air Quality Monitoring System (AQMS) di Stasiun Pemantauan Kualitas Udara Ambien Otomatis yang dipasang di kantor DLH Kota Malang, menunjukkan kualitas udara di awal 2020 relatif stabil pada kategori baik.

Pada 9 April 2020, menunjukkan partikel karbon monoksida (CO) berada di angka 47, sulfur dioksida (SO2) di angka 5, dan partikulat meter (PM2) di angka 11. Sedangkan partikel nitrogen dioksida (NO2) dan ozon (O3) di angka 0.

Dari beberapa contoh itu, akibat dari penghentian beberapa aktivitas industri dan pembatasan aktivitas penduduk selama pandemi ini, secara nyata telah mampu mengurangi tingkat polusi udara secara drastis.
Hal ini kemudian memberikan pelajaran cukup berharga bagi keberlangsungan kehidupan manusia di muka bumi. Bagaimana manusia memanfaatkan sumber daya alam. Bagaimana manusia –– yang telah mampu menciptakan berbagai kreasi dan inovasi teknologi –– mampu mempergunakannya dengan bijak demi kemaslahatan bersama dan masa depan umat manusia itu sendiri.

Tindakan eksploitatif manusia dalam memanfaatkan sumber daya alam, berdampak pada keberlangsungan hidup manusia itu sendiri. Problem struktural yang laten dan memuluskan hasrat-hasrat kapitalis untuk semata mengeruk “emas” pun tak dibenarkan.

Sampah Medis: Problem Baru Lingkungan di Tengah Pandemi
Ada suatu anggapan bahwa, Covid-19 dan krisis linkungan memiliki korelasi yang saling menguntungkan, karena sejak munculnya Covid-19, lingkungan hidup seperti tingkat polusi udara dan gas yang memanas di beberapa wilayah menunjukkan penurunan drastis.

Namun, itu tidak sepenuhnya benar. Adanya wabah menyebabkan potensi “kepunahan masal”. Akibatnya, penanganan secara medis mendorong meningkatnya kebutuhan akan alat dan fasilitas kesehatan, terlebih Covid-19 merupakan virus yang sangat mudah menular, sehingga alat medis hanya bisa digunakan beberapa kali atau bahkan hanya sekali pakai saja. Potensi problem baru pun muncul, yakni bagaimana penanganan terhadap meningkatnya sampah atau limbah medis nantinya?
Penting untuk dipahami, limbah medis dapat dihasilkan selama penelitian medis, pengujian, diagnosis, imunisasi ataupun perawatan medis lainnya terhadap manusia maupun hewan.(Medical Waste Tracking Act, 1988). Artinya, semua jenis sampah yang mengandung bahan infeksius atau yang berpotensi infeksius adalah termasuk limbah medis.

Baca juga:  Menjaga Istiqomah setelah Ramadhan

Nah, meningkatnya kasus Covid-19, diyakini akan linier dengan produksi limbah medis, yang termasuk dalam limbah B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya).Data dari South China Morning Post mengungkapkan, di Wuhan sebagai episentrum Covid-19, terjadi peningkatan limbah medis hingga enam kali lipat dibandingkan sebelum adanya kasus Covid-19. Tercatat sebelum pandemi, limbah medis yang dihasilkan di Wuhan berada di kisaran 44 ton per hari, dan meningkat hingga sekitar 270 ton per hari saat pandemi Covid-19 melanda.

Sementara dilansir dari theverge.com pada 26 Maret 2020, sampah medis di Amerika Serikat juga mengalami peningkatan volume yang mencapai enam kali lipat dibandingkan sebelumnya.
Di Indonesia, menurut Indonesian Environmental Scientists Association (IESA), akan terjadi peningkatan limbah medis secara signifikan, mengingat wabah Covid-19 menyumbangkan penambahan bahan medis sekitar 14,3 kilogram per hari per pasien.

Permasalahan penanganan limbah medis kemudian akan berdampak setidaknya pada dua hal, yakni pada potensi penularan wabah Covid-19 dan potensi pencemaran serta kerusakan lingkungan jangka panjang. Sementara pengolahan dan pemusnahan limbah medis umumnya di Indonesia adalah dengan menggunakan pembakaran incinerator ataupun autoclave. Selanjutnya residu hasil pembakaran dan pencacahan dikemas dan diberi label limbah B3.Penanganan terhadap potensi bahaya akan limbah medis inilah yang kemudian perlu untuk dicermati dan diantisipasi. Mengingat dampaknya, terutama terhadap lingkungan akan berpotensi menyebabkan pencemaran dan kerusakan lingkungan dalam jangka panjang. Ambil contoh kasus limbah medis di Lakardowo, Mojokerto yang sempat booming setahun silam.

Mawas Diri: Krisis Lingkungan ke Depan

Di satu sisi, wabah Covid-19 menjadi isarat bahwa bumi perlu pemulihan. Dengan berkurangnya emisi karbon secara drastis dalam rentang waktu cukup singkat, tentu akan membawa perubahan bagi kualitas udara bumi.

Namun, penting untuk dicermati, kehidupan dan aktivitas penduduk bumi pasca pandemi juga berpotensi untuk kembali mencemari udara, bahkan dalam waktu relatif singkat sangat dimungkinkan emisi karbon akan meningkat berkali-kali lipat.

Jika manusia sebagai penduduk bumi tidak bijak dalam pengelolaan alam, imbasnya pun akan kembali kepada manusia itu sendiri. Maka, sudah semestinya pasca pandemi Covid-19 nantinya, kita harus merefleksi diri agar lebih bijak bersikap dan bertindak terhadap bumi tempat manusia berkoloni-koloni.
Sementara itu, potensi jangka panjang dari meningkatnya limbah medis juga harus dengan serius dipikirkan untuk pengelolaannya. Bagaimanapun, kegagapan dalam permasalahan limbah infeksius (medis) B3 akan berdampak cukup serius. Karena sebagaimana dijelaskan sebelumnya, limbah medis merupakan bahan-bahan hasil medis yang terkontaminasi, baik oleh virus, bakteri, ataupun bahan-bahan kimia dan lain sebagainya.

Baca juga:  Tempat Sunyi untuk Persemaian Ide

Salah satu masalah cukup serius terkait sampah medis yang penting untuk diperhatikan adalah sampah medis yang berasal dari sampah rumah tangga, selain tentunya sampah medis fasilitas layanan kesehatan.
Di Indonesia, meskipun pemusnahan limbah medis masih menggunakan pembakaran incinerator dan autoclave, tapi tidak semua fasilitas layanan kesehatan atau rumah sakit yang telah memilikinya. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes), hanya ada 96 rumah sakit yang telah memiliki incinerator yang dapat memusnahkan sampah medisnya sendiri. Artinya, ini harus diperhatikan oleh pemerintah maupun pihak pengelola fasilitas layanan kesehatan.

Sementara limbah medis yang berasal dari produksi sampah rumah tangga harus pula diperhatikan. Masyarakat harus diedukasi dengan serius terkait bagaimana penanganan terhadap sampah medis dan bahayanya.

Sebagian besar sampah medis yang akan menumpuk yang berasal dari produksi sampah rumah tangga adalah masker. Masker yang dipakai memiliki potensi terkontaminasi oleh virus, yang tidak hanya membahayakan, tapi bahannya pun akan dapat mencemari lingkungan.

Masyarakat perlu untuk diedukasi bagaimana memperlakukan masker yang sudah tidak dipakainya. Perlu pula disediakan tempat sampah khusus untuk sampah medis di fasilitas-fasilitas umum. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sebenarnya telah mengaturnya. Namun, sekali lagi hal tersebut belum diterapkan merata di seluruh wilayah.

Akhirnya, manusia, terkhusus umat islam, kita kembali harus bercermin pada ayat-ayat langit. “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). –– QS. Ar-Rum: 41”

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. –– QS. Al A’raf: 56”

Pandangan antroposentris yang kemudian membuat manusia semena-mena dalam mengelola alam harus digeser. Manusia tidak hidup di bumi seorang diri, dan tidak untuk dirinya sendiri.

Manusia mempunyai hubungan dengan alam dalam tiga hal, yakni hubungan keimanan dan peribadatan, hubungan pemanfaatan, serta hubungan pemeliharaan. Maka, harus bersikap arif dan bijak dalam berinteraksi dengan alam, baik saat pagebluk Covid-19 saat ini, maupun pasca wabah berakhir nantinya.
Sementara dalam islam, alam dipandang dalam lima faktor, yaitu tauhid, khilafah (perwalian), amanah, keseimbangan (i’tidal), dan kemaslahatan (istishlah). Guide book inilah yang harus diperhatikan dalam bersikap dan bertindaknya manusia (seorang muslim) kepada alam.

Komentar Facebook Sobat Taman Pustaka
Kuy, berbagi...