6 menit waktu baca

COVID-19: Moralitas Manusia Dalam Eksploitasi Alam

Oleh: Dila Mareta

COVID-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh jenis coronavirus yang baru ditemukan. Ini merupakan virus baru dan penyakit yang sebelumnya tidak dikenal sebelum terjadi wabah di Wuhan, Tiongkok, bulan Desember 2019.

Coronavirus adalah suatu kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia. Beberapa jenis coronavirus diketahui menyebabkan infeksi saluran nafas pada manusia mulai dari batuk pilek hingga yang lebih serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Coronavirus jenis baru yang ditemukan menyebabkan penyakit COVID-19.
Kehidupan manusia di muka bumi sangatlah bergantung pada ketersediaan dan kecukupan pasokan sumber daya alam yang memadai, dengan daya dukung lingkungan hidup yang berkualitas. Harapan ini tentunya masih kontradiktif dengan pola dan perilaku manusia dalam memanfaatkan sumber daya alam dan lingkungan hidup yang cenderung berlebihan dan merusak tanpa mempertimbangkan keberlanjutan dan daya dukungnya.
Seberapa Peduli terhadap Lingkungan kita?

Pertanyaan yang seharusnya di pertanyakan pada diri kita. Sebagai pertanyaan reflektif yang sejenak mengajak kita merenungkan kehidupan disekitar kita. Lingkungan hidup merupakan hal yang konteks dimana kita hidup dan Bumi sebagai tempat para penduduk tinggal dan menetap, salah satunya manusia. Apabila lingkungan hidup tersebut terganggu dan mengalami kerusakan, maka kehidupan dan tempat tinggal kita pun akan terusik.

Manusia mempunyai tanggung jawab moral terhadap lingkungan. Isi tanggung jawab tersebut ialah melestarikan lingkungan hidup dan memanfaatkan sumber daya alam. Sesungguhnya manusia adalah bagian dari lingkungan dan manusia tidak bisa dipisahkan dari lingkungan. Perilaku yang positif dapat menyebabkan lingkungan tetap lestari sedangkan perilaku negatifnya dapat menyebabkan kerusakan lingkungan.

Kualitas dalam perbuatan manusia yang menunjukkan bahwa perbuatan itu benar dan buruk disebut dengan Moralitas. Masalah kerusakan lingkungan hidup mempunyai cakupan yang cukup luas. Ia tidak hanya dibatasi di dalam bentuk kerusakan pada dirinya sendiri. Namun, ia juga terkait dengan masalah lain. Masalah yang dimaksud adalah masalah etika dan moral.

Dalam penelitian ilmuan juga mengatakan, bahwa corona ini ada, karena dua kemungkinan pertama dari hewan seperti kelelawar dan trenggiling dan yang kedua berevolusi melalui seleksi alam inang non manusia ke manusia. Dari ilustrasi yang dikutip dari Literasicyaccessonline.com mengenai ikan kakap yg dimasukan ke danau Victoria karena ingin memuaskan kebutuhan pasar eropa. Ikan kakap merusak rantai makanan karena memangsa predator dari arga, sehingga memperluas pertumbuhan arga dan dampaknya pada danau Victoria berubah menjadi danau yg beracun dan sangat berpengaruh terhadap perubahan air di danau jika di konsumsi manusia dapat merusak hati. Jika illustrasi tersebut di kaitkan dengan corona saat ini, asal covid-19 ini berada pada habibatnya yaitu hewan dan no manusia, habibatny yaitu hutan, namun karena untuk memenuhi kebutuhan Intrasrtur dan teknologi manusia kembali berula dengan merusak hutan – sehingga dampaknya virus keluar dari tempat ia berasal. Sebenarnya apa yang manusia lakukan kembali pada manusia.

Baca juga:  Reinvensi Keberagaman Kita

Ambil Makna dibalik Pandemi
Sejak terjadinya pandemi Covid-19 dan banyak dari kita yang telah bekerja dari rumah, tanpa terasa kita menyerap dengan sangat cepat berbagai perkembangan terkait Covid-19, baik yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan virus tersebut.
Hal ini dimungkinkan dengan pemberitaan yang masif di media massa tentang Covid-19 dan diperkuat dengan penggunaan media sosial yang dengan sangat mudah meneruskan teks, gambar, audio, dan video baik secara pribadi maupun melalui kelompok. Tentunya persoalan pandemi ini merupakan hal yang sangat serius untuk di hadapi. Mulai dari dampak krisis ekonomi. berkurangnya omset usaha Micro dan macro, Berkurangnya penghasilan pekerja harian (ojol dan pedagang kecil), fokus kebijakan yg terbagi, Ketimpangan sosial, Prasangka buruk masyarakat, hingga hilangnya kepedulian terhadap sekitar. Namun jika kita hanya melihat dari sisi negatif bearti cara pandang terlalu sempit dan terlalu berperasangka buruk. Tentunya di setiap kejadian dan peristiwa memilik makna di baliknya.

Hangatnya pertemuan setelah wabah Corona
Virus Corona COVID-19 saat ini telah berdampak bagi seluruh masyarakat. Saat Jokowi meminta masyarakat Indonesia untuk melakukan social distancing untuk mencegah penyebaran Virus Corona. Upaya untuk mencegah, menahan, atau memperlambat penularan corona yaitu dengan social distancing. kebijakan social distancing kelihatannya belum sepenuhnya dipahami secara baik oleh masyarakat sebagai strategi pencegahan penyebaran Covid-19. Karena, sekalipun Covid-19 sangat meresahkan masyarakat terkait dengan kesehatan dan keselamatan diri, namun ikatan relasi sosial masih lebih kuat dalam perspektif masyarakat. Seperti kita ketahui bahwa dalam Ilmu Sosiologi, interaksi antar manusia itu tidak harus bertemu langsung, tidak harus bersentuhan atau bertatap muka langsung. Namun tak di pungkiri bahwa kita adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan interaksi dengan orang banyak. Menjadi kaum rebahan dirumah mungkin untuk sebagian orang. Pada pekan pertama mungkin akan terasa menyenangkan, dengan berjalannya waktu pekan kedua, ketiga kita saling menyadari begitu berharganya sebuah pertemuan dengan orang yang disekitarnya.

Baca juga:  Relasi Islam Dengan Non-Islam (Menjawab Pertanyaan David Efendi)

Bumi perlahan membaik
Bumi Rayakan kondisi terbaiknya di tengah wabah virus corona. Covid-19 membawah berkah bagi bumi. Kondisi Ini bukti Bumi membaik di tengah Pandemi Corona. Pandemi virus Corona memaksa manusia menurunkan beragam aktivitasnya nyaris di seluruh dunia. Ini memberi dampak positif pada planet bumi yang menunjukkan tanda-tanda membaik. Banyak negara di dunia menerapkan lockdown untuk meredam penularan virus corona. Awal April ini euronews melaporkan kalau setidaknya ada 3,9 miliar manusia di dunia saat ini (nyaris separuh populasi) menjalani lockdown akibat COVID-19. Virus corona membuat manusia tak lagi bisa melakukan aktivitas seperti sebelumnya. Jutaan kendaraan di dunia terparkir dan ribuan pabrik berhenti beroperasi. Ini membuat polusi mengalami penurunan untuk kali pertama dalam beberapa dekade terakhir. Disadari atau tidak, kondisi alam planet bumi kini membaik. Pada banyak belahan dunia lain, kondisi alam yang berubah drastis akibat lockdown pandemi Corona juga hangat diperbincangkan.

Selain laut dan danau yang lebih bersih, langit biru terang juga tampak di banyak lokasi di dunia. Dilansir dari Tehran Times, sejak awal 2020, banyak orang mengalami hal tak terduga. Untuk pertama kalinya secara berturut-turut, emisi gas rumah kaca, konsumsi bahan bakar fosil, lalu lintas udara, darat dan laut secara drastis telah menurun. Keadaan tersebut membuat emisi gas rumah kaca pada Maret 2020 menjadi sama kondisinya dengan 1990-an, yaitu 30 tahun yang lalu.

Hari ini bumi merayakan kondisi terbaiknya dalam setengah abad. Pernyataan itu merujuk pada dampak wabah virus corona yang mengakibatkan penyebaran penyakit Covid-19 di seluruh dunia. Dilansir dari Tehran Times, sejak awal 2020, banyak orang mengalami hal tak terduga. Untuk pertama kalinya secara berturut-turut, emisi gas rumah kaca, konsumsi bahan bakar fosil, lalu lintas udara, darat dan laut secara drastis telah menurun. Keadaan tersebut membuat emisi gas rumah kaca pada Maret 2020 menjadi sama kondisinya dengan 1990-an, yaitu 30 tahun yang lalu. Menurut Darvish, menurunnya pergerakan manusia di alam dan lingkungan luar ruangan secara signifikan mulai mengurangi jumlah polusi suara dan gempa bumi. Hal itu rupanya memudahkan para ahli geologi mempelajari kerak luar bumi. sejak wabah virus corona merebak, hampir semua operasional tersebut dihentikan. Akibatnya, tidak ada gempa yang disebabkan manusia, dan ahli geologi dapat lebih mudah melakukan riset dan studi mereka.

Baca juga:  Mengabarkan Dari Dalam

Menurut Darvish, menurunnya keberadaan manusia di daerah dan habitat alami sejak pandemi virus corona, membuat kehidupan satwa liar meningkat secara drastis. Sebelumnya, populasi satwa liar di banyak negara telah menurun dari 29 sampai 40 persen selama dekade terakhir. Namun, perbaikan dan peningkatan populasi satwa liar mulai tampak sejak pandemi virus corona berlangsung. Dampak positif dari wabah virus corona lainnya terkait keanekaragaman hayati adalah berkurangnya wisatawan di habitat alami. Industri pariwisata yang menurun tajam membuat aktivitas seperti berkemah dan berwisata di habitat alami satwa liar berkurang drastis dan mengurangi kebakaran hutan.

Membuminya hidup sehat
WHO menyebutkan, penularan langsung bisa terjadi saat seseorang pasien positif Covid-19 batuk, bersih atau bicara dan mengeluarkan droplet. Droplet bisa langsung terhirup oleh orang lain jika berada dalam jarak 1 – 2 meter. Di tengah pademi ini, hidup bersih seolah menjadi penekanan mulai dari selalu cuci tangan ataupun penggunaan antiseptik, menggunakan masker saat diluar ruangan, menjaga lingkungan tempat tinggal agar tetap nyaman dan bersih dengan penyempotan desinfektan. Kebiasaan yang belum memprioritaskan kebersihan dapur dan kamar mandi di masa pandemi Corona ini harus diubah. Setiap ruangan dan sudut rumah dibersihkan setiap hari dengan alat kebersihan yang tepat dan dibedakan antara ruangan dapur dengan kamar tidur.

Fenomena ini harus menjadi momentum kesadaran kita semua, Semoga semua membaik bersama orang-orang baik di bumi. Salam lestari hijau berseri!

Komentar Facebook Sobat Taman Pustaka
Kuy, berbagi...