7 menit waktu baca

Corona, Kota

Oleh : Muh. Asratillah S

Menangkar Kota dengan Kematian
Di awali Wuhan, salah satu kota megapolitan di Tiongkok, dunia sudah mulai panik. Beragam rupa kepanikan yang nampak, mulai dari kepanikan sosial-ekonomi, hingga kepanikan yang berbalut narasi keagamaan, bahwa corona hanya menimpa bagi mereka yang “tak punya iman” atau “tak seiman”. Tapi lama kelamaan, Corona tidak hanya menginvasi Wuhan, dia memperluas ekspansinya ke kota-kota besar lain seperti Singapura, Kuala Lumpur, Barcelona, New York, Jakarta hingga kota-kota yang menjadi simbol tradisi agama seperti Mekkah, Teheran dan Vatikan.

Kota-kota tersebut tiba-tiba menjadi sosok yang terserang demam akibat infeksi, yang oleh antibodinya (pemerintah beserta aparat) memaksa untuk beristirahat total. Maka menjadi sunyilah jalan-jalan, warung-warung makan pun menjadi semacam sebarisan ceruk remang di siang hari. Warga-warga kota yang dulunya berperilaku seperti tikus kota yang mengerat (mengkonsumsi) di sana sini tanpa peduli waktu, kini hanya menjadi tikus dapur yang tak berani menjauhi sarangnya. Kini kota telah menjadi belantara beton, yang hampir sepi dari kehidupan.

Corona mengolok-olok kita. Jika kota adalah ruang di mana terjadi perlombaan untuk mendirikan monumen, ruang di mana kemewahan dan pencapaian peradaban dipamerkan, semesta dimana ekonomi digenjot agar tumbuh se-meraksasa mungkin, habitat dimana orang agar memiliki se-banyak mungkin, maka pandemi Corona ingin mengatakan itu semua adalah sesuatu yang rapuh. Corona mengolok-ngolok gaya hidup urban, mengejek cara beragama yang urban, menunjukkan bahwa tembok-tembok beton yang kokoh tak membuat kita sebagai warga kota menjauh dari kerentanan.

Korban pandemi paling banyak berjatuhan di kota-kota besar, dan banyak pula kemungkinan penyebabnya. Salah satu di antaranya adalah populasi dunia yang semakin mengerumuni kota. Coba kita melihat sejenak data tentang pertumbuhan penduduk kota di Indonesia. Tahun 1961, penduduk Indonesia yang bermukim di kota sekitar 14,80 %, lalu terus meningkat, 17,40 % (1971); 23 % (1980); 30,90 % (1990); 42,43 % (2000) ; 49,79 % (2010); 55,1 % (2018) dan di tahun 2019 berdasarkan data worldmeter ada sekitar 150,9 juta jiwa atau 55,8 % dari populasi penduduk Indonesia yang bersarang di kota-kota. Bahkan persentase ini terus bertambah, bahkan diproyeksikan di tahun 2025 kurang lebih 60 persen penduduk Indonesia akan ada di kota.

Mengapa kota begitu punya daya tarik yang luar biasa bagi kita-kita yang berasal dari pedesaan ?. Mungkin karena kita tidak hanya digempur oleh produk-produk ter-anyar seperti smartphone, TV LED, Lemari pendingin, penyejuk ruangan dsb, tapi kita juga digempur oleh silaunya cita-cita kemajuan. Ibarat laron yang silau dengan terangnya nyala lampu, begitu pula sebahagian besar di antara kita silau tak karuan akan gemerlapnya gedung dan jalan-jalan kota. Lalu kita rela berdesak-desakan, memacu fisik dan menekan fikiran untuk bertahan hidup dan menjadi maju di kota. Dan ternyata cita-cita untuk menjadi maju itupun diartikan sekedar “memiliki”, “membeli” dan “menumpuk”, bahkan ber-kuliah pun dijalani sekedar agar kita semakin mudah melakukan ke-tiga hal tadi, menjadi tercerahkan di ruang-ruang belajar menjadi prioritas ke sekian.

Baca juga:  Sekali Lagi, Selamatkan Bumi!!

Apapun bisa terjadi di kota, dari peristiwa kesukarelaan yang sangat heorik hingga tontonan kriminal yang super sadis. Walaupun ada beberapa penelitian yang mengatakan bahwa, wabah Corona berawal dari kebiasaan menyantap kalelawar di Wuhan, karena ada kemiripan genetik antara virus Corona dengan virus yang berada di tubuh kalelawar (belakangan diketahui bahwa transmisi virus corona dari kalelawar ke manusia memalui perantara trenggiling), tapi ini bukan hanya soal selera makan, tetapi juga soal gaya hidup perkotaan yang tak mepedulikan keseimbangan ekologis. Populasi kita yang meledak dan gaya hidup kita telah menekan salah satu unsur penting dalam membangun kota yang berkalnjutan yakni unsur biodiversitas. Menurut data dari CITES ada sekitar 1 juta trenggiling yang diperdagangkan setiap tahunnya secara ilegal, dari Indonesia sendiri ada sekitar 26 ribu ekor trenggiling yang dikirim ke Hongkong, Vietnam dan Tiongkok untuk dikonsumsi dan dijadikan obat.

Bahkan kalau kita melihat wabah-wabah sebelumnya mulai dari Ebola, MERS, SARS dan HINI, maka hampir semuanya bersifat zoonosis, artinya transmisi infeksinya melalui hewan. Ini bisa menunjukkan beberapa hal, pertama bisa jadi ini menunjukkan konsumsi daging hewan terutama daging hewan liar (bushmeat) secara eksploitatif dan tidak berkelanjutan, kedua ledakan pembangunan infrasturuktur (terutama yang diakibatkan okupasi wilayah perkotaan ke daerah-daerah sekitar) yang dilakukan manusia menekan habitat alami hewan liar dan virus yang ada padanya, karena tertekan atau adanya perdagangan ilegal hewan liar lalu berinterkasi lebih intens dengan manusia.

Tetiba saya teringat dengan makalah yang ditulis oleh Malthus (ini sebenarnya hanya nama samaran) salah seorang pendeta pembantu di Kapel Okewood yang punya keterkaitan dengan biologi populasi. Makalahnya dijuduli An Essay on the Principle Population, di situ disebutkan bahwa populasi manusia akan terus menerus menghadapi kumpulan sumber daya yang terbatas. Malthus menalar, seiring populasi yang membesar maka kumpulan sumber daya akan mengecil, persaingan antar individu akan bertambah. Bahkan ledakan aktivitas dan populasi akan diimbangi semacam kekuatan-kekuatan besar yang mendatangkan bencana, “musim penyakit, epidemi,pes, wabah akan maju dengan garang, melenyapkan ribuan dan puluan ribuan jiwa”, tegas Malthus.

Baca juga:  Rumah Baca dan Revolusi Semut

Saya juga belum yakin dengan pasti, sampai sejauh mana validitas perkataan Malthus, tapi kematian kolosal saat ini mengingatkan kita padanya, seakan-akan kota-kota kita berada dalam penangkaran kematian. Tapi ada yang menarik, Siddharta Mukherjee dalam buku Gen (2016) berpendapat bahwa dalam makalah Malthus tersebut, Darwin segera melihat solusi bagi dilema teoritik yang dia alami, perjuangan untuk bertahan hidup adalah tangan pembentuk., kematian laksana penangkar di alam pembentuk melalui maut. Dan semoga saja setelah kita ditangkar oleh resiko dan imaji kematian akibat Corona, kita semakin bijak dalam berinteraksi dengan alam.

Kota Sebagai Ruang Hidup Bersama
Saya pernah berdiskusi dengan salah satu aparat pemerintah di sebuah kota, yang bertanggung jawab dengan alat penyaring sampah yang dipasang dekat muara sungai dan kanal. Dia bercerita bahwa sampah yang terjaring pada alat tersebut, mulai dari sampah plastik berukuran kecil, hingga kursi plastik rusak bahkan kasur yang sudah tak digunakan lagi. Bayangkan smpah-sampah tersebut, belum lagi polutan cair yang mencemari air sungai, akan mengurangi kualitas sumber air PDAM, hingga merusak habitat hewan dan tumbuhan air yang hidup di situ. Belum lagi kualitas udara perkotaan kita yang semakin memburuk, suara-suara yang semakin bising, yang tidak hanya membuat kita rentan sakit secara biologis tapi juga psikologis.

Kota kita saat ini masih dibangun dengan “penglihatan yang rabun jauh”, sehingga kebijakan yang diambil seringkali menggunakan perspektif jangka pendek. Tersedianya ruang terbuka hijau seringkali tak begitu menjadi prioritas, bahkan kalah pesona dengan proyek-proyek yang memobilisasi semen dan besi beton dalam skala besar. Bahkan tidak sedikit proyek-proyek timbunan di daerah perkotaan, mengakibatkan kerusakan lingkungan yang akut di daerah-daerah sekitar yang menjadi sumber tambang C. Hitung-hitungan keuntungan dari selisih pengangkutan sirtu per tonasenya masih jauh lebih menggiurkan ketimbang kengerian banjir bandang yang menyerang kota dan daerah sekitar saat musim penghujan tiba.

Saat ini kota lebih identik dengan kata “properti” ketimbang sebagai “ruang hidup bersama”. Bagaimana tidak, terkadang keberpihakan lebih besar kepada pengembang ruko-ruko yang berjejer di pinggir jalan, yang walaupun dibeli atau disewa seringkali tidak digunakan untuk hal-hal yang produktif. Maka hal yang lumrah jika jumlah mal yang semakin bertambah, tetapi taman kota semakin berkurang, itupun jumlah pengunjungnya secara bertahap berkurang. Jaringan pasar swaayan semakin meluas, sementara pasar tradisional semakin tak terurus dan dibiarkan kumuh. Bangunan-bangunan tua yang bersejarah dirombak dijadikan sebagai bangunan modern yang bisa disewa sebagai kantor. Sebelum Covid-19 merebak, modal telah merebak bak virus dalam wilayah perkotaan, dan inilah yang membuat kota semakin rentan secara ekologis, ekonomi, kesehatan dan psiko-sosial.

Baca juga:  Takziyah ‘Literasi’ Muhammadiyah

Kota jika tidak dikelola secara bijak, maka tidak hanya menjadi pusat pemerintahan dan kegiatan ekonomi tetapi juga akan menjadi “pusat malapetaka” (urban ills) seperti yang dikatakan oleh Nirgono Joga dalam Kota, Habitat yang berkelanjutan (2015). Kota akan menjadi pusat kemacetan, pencemaran udara, kebisingan , ISPA, stress, wabah, banjir, krisis air besih, penurunan muka tanah, rob, abrasi, kampung kumuh, kriminalitas, sampah, pengangguran dll, jika kita tidak bisa mentransformasinya secara berkelanjutan.

Sekedar sebagai pengingat, ada enam karakter kota hijau cerdas versi European Smart Cities (2015), Pertama, Kota menjadi pusat berlangsungnya ekonomi ramah lingkungan, serta produktivitas dan semangat inovasi tinggi. Kedua, Mobilitas cerdas berupa kemajuan teknologi dan ketersediaan infrastruktur teknologi informasi serta sistem transportasi yang aman-inovatif. Ketiga, kota mesti menyelaraskan antara teknologi dengan keseimbangan ekologis. Meliputi efisiensi energi, pemanfaatan energi terbarukan dan pelestarian lingkungan. Keempat, kota mendorong partasipasi masyarakat dalam kepentingan publik, menjaga pluralitas serta memiliki layanan utilitas cerdas. Kelima, kota menyediakan kualitas hidup cerdas dan keenam pemerintah yang cerdas.

Tapi keenam karakter di atas masih perlu dikontekstualisasikan dengan situasi kita di sini. Tapi yang terpenting adalah political will para pengambil kebijakan, walaupun kita tidak boleh menyerahkan semuanya pada mereka. Masyarakat memang sudah mesti mengorganisir dirinya dan memberdayakan dirinya dalam konteks komunitas. Karena jika kita melihat gelagat negara-negara di tengah pandemi Covid-19, saya melihat adanya ketidakbulatan tekad mereka dalam menjadikan pandemi ini sebagai momentum untuk meremajakan solidaritas kemanusiaan global kita, atau memang hal tersebut hanya dipandang absurd, dan yang dipandang konkret adalah penguasaan sumber-sumber dan persaingan ekonomi. Kalau solidaritas kemanusiaan saja dianggap absurd, apatah lagi solidaritas ekologis.

Komentar Facebook Sobat Taman Pustaka
Kuy, berbagi...