12 menit waktu baca

CORONA: DARI KONSPIRASI, HOAX, SAMPAI MITOS

Oleh: M. Aditya Salam

Ditengah-tengah ketakutan masyarakat global saat ini, ada yang bilang kalau kemunculan virus corona disebabkan oleh ulah tangan manusia. Seperti yang diungkapkan Zhao Lijian, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok misalnya menuding bahwa pihak militer Amerika Serikat mengirimkan virus tersebut ke Wuhan, China. Selain itu, ada juga mantan anggota Intelijen Israel bilang kalau corona ini bermula dari percobaan virus di laboratorium yang ada di Wuhan. Ada juga mantan pejabat CIA, Philip Giraldi, menyebutkan kalau virus ini dibuat oleh Amerika Serikat bersama Israel diciptakan sebagai agen perang biologis. Bisa dibilang informasi seperti ini termasuk teori konspirasi yang tengah beredar seputar infeksi yang terus menyebar. Namun, teori konspirasi soal corona ini tidak bisa dibuktikan benar atau tidaknya.

Cerita dan teori konspirasi tidak hanya baru kali ini mengisi narasi-narasi di ruang publik. Tragedi 11 September 2001 misalnya, berupaya untuk menghubungkan laporan dan informasi yang dianggap dapat menutupi lubang misteri terkait peristiwa tersebut. Russel Muirhead dan Nancy L. Rosenblum, dalam buku mereka yang berjudul A Lot of People Are Saying menjelaskan bahwa terdapat beberapa conspiracisme yang mengitari peristiwa 9/11 ini. Seperti adanya dugaan penyembunyian fakta dengan hilangnya blackbox, penggunaan hologram yang berbentuk pesawat, sampai dugaan pesawat tersebut adalah pesawat tanpa awak. Jelas informasi tersebut berbeda dari informasi yang disampaikan secara resmi oleh pemerintah AS. Namun yang namanya konspirasisme akan berbicara soal realitas yang belum tentu didasari pada bukti yang kuat. Konspirasisme akan berpusar pada asumsi dasar bahwa terdapat kekuatan-kekuatan “buruk” yang bekerja di balik “permukaan” dari sebuah peristiwa atau benda. Pada intinya konspirasisme meyakini bahwa masih ada hal yang banyak terjadi di balik puncak gunung es yang terlihat di permukaan.

Jan Willem van Prooijen dan Nils B. Jostmann mengungkapkan dalam sisi sosio-psikologis, dalam tulisan penelitian yang berjudul Belief in Conspiracy Theories dijelaskan bahwa salah satu faktor penyebab munculnya konspirasi adalah adanya peristiwa yang menciptakan peristiwa yang menciptakan tekanan di masyarakat. Hal ini wajar karena teori konspirasi menyediakan penjelasan kausal guna merasionalisasi atas adanya lawan yang dianggap terlalu kuat untuk dihadapi. Ini berhubungan juga dengan tendensi manusia untuk berusaha membuat agar semua hal terasa masuk akal, dapat dipahami, dan terasa lebih mudah diprediksi. Jadi suatu hal yang wajar bila terdapat teori konspirasi mengenai virus corona ini, karena sudah pasti juga pandemi ini menimbulkan tekanan-tekanan sosio-psikologis bagi masyarakat global. Sekali lagi, teori konspirasi bisa benar juga bisa salah. Lebih jauh dari itu teori konspirasi dari yang paling tua sampai yang paling baru akan selalu hidup selagi manusia tetap eksis.

KABAR HOAX YANG BEREDAR DI MEDIA SOSIAL

Media sosial menjadi senjata yang empuk bagi komplotan yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan infodemik yang tidak kalah berbahaya dari pandemi Covid-19 itu sendiri, karena membuat publik bingung dan cemas. Infodemik ini justru berdampak buruk di masyarakat, semisalnya Hoax. Hoax adalah informasi palsu, berita bohong, atau fakta yang diplintir atau direkayasa untuk tujuan lelucon hingga serius (politis). Secara bahasa hoax (synonyms: practical joke, joke, jest, prank, trick) adalah lelucon, cerita bohong, kenakalan, olokan, membohongi, menipu, mempermainkan, memperdaya, dan memperdayakan.
Pemberitaan wabah virus corona (Covid-19) di Indonesia dan manca negara, bahkan dunia, tak sedikit informasi yang berseliweran ternyata ujungnya adalah hoax. Informasi maupun berita bohong itu banyak beredar di jejaring sosial media. Dari isu lokal (daerah), nasional, hingga global (internasional), informasi hoax itu tak sedikit yang bertebaran.

Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G Plate mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengidentifikasi 305 hoax dan disinformasi terkait Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19. Dalam laporan tertulis itu dijelaskan, di antara isu yang beredar dan ternyata hoax adalah soal Vladimir Putin yang dikabarkan menurunkan 800 Harimau dan Singa agar warga tinggal di rumah demi terhindar dari virus Corona. Beredar postingan berupa foto singa yang sedang berjalan di jalan raya dengan narasi Presiden Vladimir Putin telah menurunkan 800 harimau dan singa supaya warga tidak keluar dan tetap di dalam rumah.

Baca juga:  Menjaga Muhammadiyah

Pihak Kemenkominfo menjelaskan bahwa faktanya setelah ditelusuri lebih lanjut. Foto tersebut adalah foto seekor singa yang berjalan di jalanan Braamfontein, kota Johannesburg, Afrika Selatan. Jadi foto singa yang dikaitkan dengan Vladmir Putin jelas salah dan tidak terkait sama sekali.

Selain itu, Beredar pula kabar bahwa ada Jemaah umrah Indonesia positif corona 1 pesawat dipulangkan. Isi kabar tersebut: “Ada 280 jemaah umroh dari Palembang & Makassar disini.. semua pada nangis. 18 jemaah Indonesia dinyatakan positif terinfeksi virus corona. Sekarang mereka semua 1 pesawat tidak diijinkan masuk Saudi harus dibawa pulang ke Indonesia”. dilansir dari akun Facebook: Rae chandra pada 1 Maret 2020.

Setelah ditindak lanjuti, ternyata kabar tersebut adalah kabar palsu. Termasuk Information False Context. Dikonfirmasi oleh Kemenag RI dan KJRI di Jeddah – Arab Saudi bahwa tidak ada pemulangan jemaah umroh kembali ke Indonesia. Itulah contoh dua dari 305 informasi yang beredar di jejaring media sosial dan ternyata diketahui belakangan adalah bohong alias hoax.

Namun, kabar-kabar hoax tidak berhenti sampai disitu. Selama musim pandemik Covid-19 ini masih berjalan maka infodemik hoax juga terus berlangsung. Contoh kasus, Akhir-akhir ini terdapat lagi hoax yang paling viral. Sebuah pesan berantai yang menyinggung puncak penyebaran virus Corona Covid-19 beredar di grup-grup percakapan WhatsApp sejak Minggu, 29 Maret 2020. Dalam pesan berantai itu, disebutkan bahwa puncak penyebaran virus Corona akan terjadi pada 23 Maret – 03 April 2020.
Berikut narasi utuh pesan berantai tersebut:

“Mulai besok, jangan keluar rumah mencari makanan atau untuk apa pun, karena hal yang terburuk dimulai, tanggal inkubasi telah tiba dan banyak yg terinfeksi positif akan menunjukkan gejalanya dan banyak orang bisa tertular, jadi sangat penting untuk tetap di rumah dan tidak berhubungan dengan tidak bertemu orang lain, sangat berhati-hati adalah sangat penting.
Dari 23 Maret hingga 3 April kita harus menjaga diri kita sendiri, karena kita akan berada di puncak penyebaran virus dalam dua minggu, biasanya dalam dua minggu itu semua yang terinfeksi akan muncul kemudian ada dua minggu tenang dan kemudian dua minggu lagi mulai berkurang.

Apa yang terjadi di Italia adalah bahwa siklus ini diabaikan pada musim penularan dan itulah mengapa semua kasus bercampur menjadi satu.
Dan akhirnya, jangan menerima kunjungan dari siapa pun, bahkan dari keluarga yang sama. Ini semua untuk kebaikan semua.

Kita Akan Berada Di Tingkat Infeksi Maksimum. Jangan Abaikan Pesan Ini, Bagikan Ke Semua Kontak Anda.”

PEMERIKSAAN FAKTA

Dilansir dari situs media Detik.com, ilmuwan matematika Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Sutanto Sastraredja, memprediksi puncak infeksi virus Corona Covid-19 terjadi pada pertengahan Mei 2020. Namun, akhir dari pandemi ini tergantung dari kebijakan yang diambil pemerintah.
Dosen Program Studi Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan (FMIPA) UNS ini memaparkan dinamika populasi Covid-19 secara matematis dengan model SIQR. Dalam model ini, Susceptible (S) digambarkan sebagai orang sehat yang rentan terinfeksi, Infected (I) sebagai orang yang terinfeksi, Quarantine (Q) sebagai proses karantina, dan Recovery (R) sebagai orang yang telah sembuh dari Covid-19.

Sutanto pun mengambil data sejak 2 Maret 2020, saat pertama kali pemerintah mengumumkan bahwa terdapat dua orang yang terinfeksi virus Corona Covid-19, hingga 22 Maret 2020. “Dari data itu saya temukan parameter. Parameter ini kemudian saya masukkan dalam rumus matematika, sehingga bisa menghitung kecepatan orang yang sudah terinfeksi dan yang masuk karantina,” ujarnya pada 28 Maret 2020.
Model SIQR ini kemudian dianalisis lagi menggunakan metode numerik Runge-Kutta Orde 4 sehingga menghasilkan sebuah grafik. Kesimpulannya, jika tidak ada perubahan dalam penanganan, diperkirakan bahwa puncak infeksi virus Corona Covid-19 terjadi pada pertengahan Mei 2020.
Hasil yang berbeda ditemukan dalam simulasi yang dibuat oleh Tim dari Pusat Pemodelan Matematika dan Simulasi Institut Teknologi Bandung (ITB). Mereka memprediksi bahwa puncak wabah virus Corona Covid-19 akan terjadi pada pekan kedua hingga ketiga April 2020. Data untuk proyeksi ini merujuk pada data Kementerian Kesehatan yang mencatat jumlah kasus positif Corona di Indonesia sebanyak 369 orang hingga 20 Maret.

Baca juga:  Warisan Literasi dan Cinta Hamka

Sebelumnya, dalam proyeksi awal, tim dari ITB tersebut memprediksi bahwa wabah Corona di Indonesia akan mencapai puncaknya pada akhir Maret dengan jumlah kasus baru harian mencapai 600 kasus. Sementara itu, wabah ini diprediksi akan berakhir pertengahan April, sekitar 10-12 April, dengan jumlah akumulasi maksimum 8 ribu kasus. Namun, karena data kasus positif bersifat dinamis, hasil proyeksi mengalami perubahan.

“Berdasar data yang ada saat ini, kami memproyeksikan puncaknya akan bergeser di sekitar bulan April antara pekan kedua hingga ketiga,” kata ketua tim tersebut, Nuning Nuraini, pada 21 Maret 2020. Tim dari ITB ini juga memproyeksikan bahwa wabah Corona yang dimulai pada awal Maret kemarin bakal berakhir sekitar akhir Mei hingga awal Juni mendatang.

Selain itu, penderita Covid-19 di Indonesia hingga pekan ketiga Mei diperkirakan bisa mencapai 60 ribu orang. Sedangkan proyeksi penyebaran Covid-19 harian, puncak kurvanya bisa menyentuh angka 2 ribu kasus pada masa puncak wabah antara pekan kedua hingga ketiga April.
Tim dari ITB tersebut membuat simulasi dan pemodelan sederhana mengenai prediksi penyebaran Corona lewat pengembangan dari model logistik Richard’s Curve karya F.J. Richards. Menurut Nuning, model ini dipakai karena memiliki hasil yang cukup baik dalam menentukan awal, puncak, dan akhir wabah SARS di Hong Kong pada 2003.

Terkait beberapa pandangan mengenai puncak penyebaran virus Corona Covid-19 tersebut, seperti dilansir dari situs media Detik.com pada 29 Maret 2020, juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, mengatakan bahwa perhitungan tersebut bisa benar dan bisa juga tidak.

Menurut Yuri, jika jaga jarak fisik terus dilakukan, bukan tidak mungkin pada minggu keempat April kasus Corona akan menurun. “Ada yang mengatakan, kalau social distancing berhasil, pada minggu kedua-ketiga April itu puncak. Setelah itu, akan ada penambahan kasus baru yang lebih sedikit. Hampir sama grafiknya dengan di Wuhan, di mana-mana. Naik, terus turun,” katanya.

Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, narasi bahwa puncak penyebaran virus Corona akan terjadi pada 23 Maret-3 April 2020 tidak terbukti. Beberapa peneliti memang memiliki pendapat yang berbeda tentang puncak penyebaran Corona. Namun, sejauh ini, sejumlah peneliti memprediksi puncak penyebaran Corona terjadi pada pekan kedua hingga ketiga April atau pertengahan Mei.

MITOS-MITOS SEPUTAR CORONA YANG DIPERCAYAI MASYARAKAT

Pandemi Corona hari ini akan menjadi sejarah sekaligus pelajaran penting bagi penduduk bumi di masa depan. Namun, tak dapat dipungkiri pula bahwa apa yang terjadi hari ini juga pernah terjadi di masa lalu. Sederhananya adalah kejadian di masa lalu, masa kini, dan masa mendatang adalah sebuah keterhubungan dari proses bagaimana cara manusia hidup dan merespon masalah yang dihadapi. Termasuk dalam mempercayai mitos dalam menyikapi Corona.

Mitos merupakan bagian dari suatu folklor yang berupa kisah berlatar masa lampau, mengandung penafsiran tentang alam semesta, serta dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau penganutnya.

Pernahkah Anda mendengar kabar atau mitos mengenai penularan coronavirus dapat terjadi melalui pandangan mata? Jika iya, Anda tidak perlu khawatir karena kabar tersebut tidak benar sama sekali. Faktanya, penyebaran coronavirus kemungkinan besar berasal dari tetesan pernapasan ketika pengidapnya batuk atau bersin. Apabila Anda berada dalam jarak penularan virus, yaitu sekitar dua meter, risikonya pun semakin tinggi. Penularan coronavirus melalui pandangan mata memang belum terbukti benar. Namun, risiko yang cukup besar dapat terjadi ketika tangan yang belum dicuci oleh sabun dan air sering digosokkan ke mata Anda.

Baca juga:  Perihal Literasi dan Keselamatan Bangsa

Oleh karena itu, para ahli sangat menyarankan untuk selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah memegang suatu benda. Selain itu, Anda juga tidak direkomendasikan memegang bagian mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang kotor.

Apabila Anda mendapatkan kabar atau mitos seputar coronavirus yang cukup kontroversial, sangat disarankan untuk mencari kebenarannya terlebih dahulu. Hal ini bertujuan agar Anda tidak menyebarkan berita yang mungkin saja tidak benar kepada orang lain dan menambah kepanikan. Mitos Corona lainnya adalah alkohol dapat menyembuhkan infeksi virus ini. Kabar ini cukup populer mengingat nama coronavirus sering dihubungkan dengan merek minuman beralkohol. Padahal, virus dan minuman beralkohol ini tidak memiliki keterkaitan sama sekali.

Masih banyak mitos yang bersliweran dan belum dipastikan kebenarannya. Bayangkan saja jika yang menerima informasi tersebut, adalah orang yang enggan menyaring berita lagi. Atau dengan kata lain, mereka menelan bulat-bulat informasi yang disajikan. Tentu hal ini akan menimbulkan kekhawatiran yang berlebihan.

NETIZEN +62 MELAWAN INFODEMIK

Ketika tim medis turun lapangan mempertaruhkan nyawa menghadapi pandemi, sisanya kita semua bisa menjadi pahlawan dengan melawan infodemik. Masyarakat Indonesia, dengan penduduk yang mayoritas muslim. Metode dalam ilmu hadits itu sebetulnya untuk melawan infodemik. Jadi ulama jaman dahulu kalau ada informasi cara mendeteksinya, yaitu melihat sanad dan matan. Sanad itu adalah sumber dan matan adalah konten. Lalu mengenai matan itu maksudnya konten tersebut isinya aneh atau tidak jelas. Ketika membaca kita langsung emosi, langsung marah, cemas, panik, takut, atau bertentangan dengan informasi yang kita dapat di media resmi. Maka bisa kita kroscek terbukti palsu atau sebaliknya. Selain itu, kampanye-kampanye edukatif juga turut digalakkan, Tulisan-tulisan artikel, diskusi, seminar, dan kajian online terus dimasiffkan untuk membendung infodemik dan memberikan informasi seputar Covid-19 yang mencerahkan lagi menggembirakan kepada masyarakat. Setidaknya dengan cara kecil yang kita lakukan sudah berhasil memutus pesan berantai infodemik ini.

Allah Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surat al-Isra ayat 36:

“dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”

Dengan men-tadabburi ayat tersebut, kita akan terhindar diantara cara berfikir yang menyimpang dari kebenaran adalah percaya mitos. Kita juga diperintahkan untuk berilmu sebelum beramal. Untuk memahami secara utuh sebelum mengikuti. Untuk mengkroscek sebelum ikut-ikutan forwad Broadcast Infodemik dari dan ke WhatsApp Grup dengan konten yang tidak jelas isinya. Karena mata untuk membaca dan jempol untuk memencet tombol layar android pun akan dipertanggung jawabkan kelak.

AKHIR QALAM

Dibalik judul tulisan ini, Corona memaksa kita untuk masuk ke revolusi industri 4.0 lebih cepat. Dengan gerakan WFH (Work From Home) atau #dirumahaja aktivitas sehari-hari kita jauh lebih dekat dengan dunia digital dan internet. Kabar gembiranya adalah kita mendadak respon dan tergerak berkontribusi menulis buku “MEMBACA KORONA” dengan serba digitalisasi dan semuanya dilakukan dengan jarak jauh. Hal sederhana yang dipelopori Cak David Efendy, Mas Ahmad Faizin, dkk terkhususnya Keluarga Besar Kader Hijau Muhammadiyah menjadi sebuah kebaikan yang terus mengalir sekaligus inspirasi.

Kita dapat menciptakan harmoni terbaik di masa pandemik Covid-19 ini. Kini masanya berbagi. Kini semuanya bisa terjadi. Hanya dengan menggunakan android, tiap individu satu dengan yang lain saling terhubung untuk menyempurnakan satu sama lainnya. Cara hukum alam yang telah ditentukan oleh Tuhan. Begitulah semesta ini bekerja. Di masa kini semuanya jauh lebih mudah. Kita menjadi sejarah sekaligus pelaku di era ini. Jauh lebih praktis jika kritis. Lebih efektif jika kreatif, dan lebih cepat jika berbakat. Salam Lestari Hijau Berseri!

Komentar Facebook Sobat Taman Pustaka
Kuy, berbagi...