Cerita Senja Di Awal Maret : Berkumpul, Bergerak dan Berbagi

Lamongan-Pustakamu.id. Sore itu sepertia biasa, setiap hari minggu selepas asar diadakan ritual kebudayaan. Relawan dan penggerak pustaka, dengan semangat membuncah, sigap menata dan mengangkut buku-buku ke singgasananya : Pangkuan pembaca. Seperti sudah terpatri dalam otaknya, gerakannya menggelar lapak dan menata buku buku berjalan dengan cepat dan ritmis. Mulai membentang banner, menggelar alas, menata buku sampai mempersiapkan dingklik.

Setelah semuanya siap, tak lama kemudian lapak Rumah Baca Cahaya langsung diserbu para pencari hikmah dan pengetahuan. Di saat sedang asyiknya melayani pengunjung tiba-tiba muncul seorang pemuda dengan pakaian yang lusuh dan wajah belepotan oli, nampaknya baru saja selesai nyampoi -maintenance perkakas perahu-. Sambil masih duduk di atas jok sepeda motor matic, sang pemuda melambaikan tangannya ke salah satu relawan RBC. Yuk cepetan ikut aku, katanya. Si relawan dengan sigap segera membonceng dan wheerrr melajulah sepeda motor tersebut entah ke mana.

Pengunjung lapak semakin banyak berdatangan. adik-adik sibuk membolak balik buku cerita mungkin mencari judul yang disuka, yang masih usia paud dan tk tanpa dikomando langsung merubung disisi kanan lapak di RBC Kids Zone, Zona yang memang disediakan khusus untuk ajang kreasi dan fantasi kanak-kanak. Relawan dengan gembira melayani adik adik, menyiapkan lembar mewarnai, menyiapkan alasnta sampai marautkan pensil warnanya.

Ciiittt, terdengar suara motor yang direm. Eh, ternyata yang datang adalah si pemuda dan relawan dengan membawa durian yang lumayan besar dan tanpa dikomando dengan semangat 45 para relawan langsung merubung buah durian, makanan penghuni surga, canda salah satu relawan. Dan itulah pengalaman pertama kali melapak sambil makan durian. Duh, sesuatu banget hehe.

Tidak sampai setengah jam berikutnya, pemuda itu kembali lagi kali ini membawa beberapa bungkus nasi itupun langsung ludes. Mungkin sebagian relawan ada yang belum makan siang. Terima kasih sang pemuda semoga donasimu sore itu dicatat oleh Allah Tuhan Semesta Raya sebagai jariyah. Amin.
Senja semakin kelam. Sang surya perlahan mulai beringsut ke arah barat. Adik-adik khusyuk menggambar, mewarnai dan membaca buku cerita.

Para bunda membuka lembaran buku kesehatan dan resep masakan. Tiba-tiba datang lagi seorang pemuda beserta dua buah hatinya. Pemuda yang ini tidak membawa nasi bungkus apalagi durian, tapi membawa gagasan untuk menggerakkan pengetahuan di beberapa titik. Gerakan Pantura Membaca yang diinisiasi Rumah Baca Cahaya akan bergerak dan menemukan pembaca sekaligus pencari pengetahuan didesa di pesisir utara lamongan. Tidak sabar rasanya menunggu gagasan itu menjadi nyata. Tak sabar rasanya menunggu mercusuar peradaban itu berdiri menjulang di langit pantura.

Menggerakkan pengetahuan yang tidak tersekat oleh tembok dan kaca memunculkan sebuah pemandangan yang luar biasa indahnya. Berkumpul, membaca bersama, berdiskusi dan berbagi.

Inilah berita sore ini dari pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong Lamongan. Dilaporkan dari lapangan pada hari Minggu, 4 Maret 2018 oleh W. Yono -Penggiat di Rumah Baca Cahaya-