Cerita Semangkuk Manyung di Blimbing


Fikri Fadhila)*

sebagai anak yang terlahir di sela-sela pegunungan dan besar di pinggiran kota, saya bisa bungah melihat air laut yang begitu tenang. ini adalah “cangkrukan” ala nelayan Blimbing, Lamongan. menjelang sore hari, setelah acara seremonial, sarasehan beranjak ke pinggir laut yang menjadi bengkel kapal penangkap ikan khas Lamongan.

menutup buku dan membuka lautan bersama nelayan. banyak hal yang diceritakan oleh RN (rukun nelayan) Blimbing. cerita itu bukan hanya “dongeng” nenek moyangku seorang pelaut, namun perjuangan nelayan Pantura yang “beratnya” mencari ikan di laut milik negeri sendiri. bukan berat karena cuaca, alam semesta adalah sahabat nelayan. berat karena jaring “kebijakan” yang dikeluarkan malah menjerat kerja nelayan.

dalam kesempatan lain, akan kita ceritakan lebih tentang perjuangan nelayan Blimbing. masih saya tulis dan kumpulkan bahan-bahan. saya menuliskan bersama nelayan Blimbing tentunya. kami bersamamu nelayan Blimbing.

jangan sampai nelayan susah mencari ikan di laut negeri sendiri. ikan manyung harus tetap bisa dinikmati, dan nelayan Blimbing serta nelayan di Indonesia harus berbahagia. bener apa katamu mas bro Eko N. Febri, “ingat, negara ini adalah negara maritim.

terima kasih : Nirwan Ahmad Arsuka (Pustaka Bergerak Indonesia), David Efendi (Serikat Taman Pustaka), Warok Yono (Rumah Baca Cahaya), Sanggar Baca Nelayan, MPI PP Muhammadiyah, Rukun Nelayan Blimbing, Dawam (Janasoe), Rumah Baca Komunitas, dan pegiat literasi Lamongan, dan semangkuk besar ikan manyung.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *