Bunyi Indonesia Raya, Bunyi Merdeka!


David Efendi)*

 

Judul                : Bunyi Merdeka

Penulis            :  Dirdho Adithyo dan I Gusti Agung Anom Astika

Tahun terbit    : 2018

Penerbit          : Kemendikbud

Halaman         : 124

 

Kapan pembaca pertama kali menyanyikan lagu Indonesia Raya yang fenomenal itu? Sebagian orang mendengarkan sejak dalam kandungan karena saking sering dna luasnya lagu ini digunakan di tengah masyarakat. Saya sendiri tidak ingat pasti, tapi rasa-rasanya di TK saja sudah bisa menyanyikan lagu ini. Lagu ini adalah bunyi yang dikenal dan didengar serta dibunyikan oleh banyak orang. Seolah bisa bersuara, artinya bisa membunyikan lagu ini entah tepat-cepat-keras atau hanya lambat-lambat mengikuti suara lirik lagu itu.ada 80 ribu desa, tidak ada satu pun desa yang hampa dari bunyi-bunyi lagu Indonesia raya. Karenanya, WR Supratman, pengarang lagu ini adalah pengarang yang tak pernah mati di dalam sanubari masyarakat.

Hampir semua frasa dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya merupakan refleksi dari pengalaman sejarah pembentukan bangsa Indonesia. Indonesia Raya merupakan pandu bagi segenap warga nega- ra Republik Indonesia untuk mulai belajar mema- hami Pembukaan UUD 1945 dan Pancasila sebagai dasar negara. Bahkan lebih praktis lagi, Indonesia Raya adalah pandu bagi Trisakti yang menegaskan perihal Kedaulatan Politik, Kemandirian Ekonomi dan Kebudayaan yang Berkepribadian. Karenanya Indonesia Raya adalah pandu bagi bunyi merdeka, pandu Ibu Pertiwi (hal 121). Paragraph yang barusan saudara baca ini menjadi kekuatan luar biasa dari keseluruhan bunyi aksara yang dilantunkan oleh penulis buku ini.

Bunyi lagu Indonesia Raya diperdengarkan di tahun 1928 dengan bunyi kritik yang mengikutinya yang menganggap lagu ini bukan musik. Kalau bukan musik, bilang aja bunyi-bunyi kemerdekaan sebab pas kaki sambal dijejakkan ke bumi, trutukan bambu, mercon, dana pa saja yang bisa dibunyikan adalah semangat ‘lagu’ atau ‘musik’ Indonesia Raya itu sendiri. Penulis buku ini jua menyinggung seorang composer asal rusia yang membuat lagu seperti dentuman boom sebagai ekspresi betapa perang itu pahit dan mencipta penderitaan berkepanjangan.

bahwa lagu Indonesia Raya adalah hasil karya perjuangan rakyat Indonesia di dalam mewujudkan kemerdekaannya. Tentunya pertanyaan kemudian muncul, “Bukannya W.R. Soepratman yang bikin lagu itu?”. Benar, tidak ada yang salah dengan W.R. Soepratman. Tetapi bagaimana lagu tersebut menjadi bagian dari gerak perjuangan rakyat Indonesia, itu bukan hasil karya W.R. Soepratman seorang. Mulai dari ide menciptakan lagu Indonesia Raya, sampai dengan bagaimana Indonesia Raya itu lalu menjadi masalah bagi pemerintah kolonial Hindia Belanda, dan penetapannya kemudian sebagai lagu kebangsaan Republik Indonesia, se- muanya adalah kerja banyak orang, kerja rakyat Indonesia. W.R. Soeprat- man tidak mungkin iseng-iseng membuat lagu

Apakah W.R. Soepratman itu plagiat? Tidak ada buktinya sampai hari ini. Yang jelas, semua lirik ditujukan untuk membangun semangat berjuang rakyat Indonesia. Semua komposisi yang dicip- ta oleh W.R. Soepratman adalah lagu-lagu perjuangan untuk rakyat Indo- nesia hingga akhir hayatnya di tahun 1938. Amir Pasaribu adalah satu-satunya orang yang punya dan mau mengkritik lagi Indonesia Raya. Menurutnya, lagu ini terlalu bergaya Eropa (hal.118). wajar saja, W.R. Soepratman terdidik oleh disiplin musik klasik Eropa, dan bergabung  di sebuah klub jazz. Ia musik Eropa dengan Biola belajar karya Chopin, Beethoven, Liszt, Tchaikovsky dan sebagainya. Sama juga misalnya di Muhammadiyah, mars Muhammadiyah juga nampaknya ke-barat-barat-an yak arena konteks music atau instrument music pada saat itu sangat kuat unsur Barat-nya. Bahkan, santri atau seorang Kiai Ahmad Dahlan memainkan Biola. Musik barat diterima sedemikian rupa sebagai sebuah nilai universal budaya.

Pada saat ingin menampil- kan lagu itu di Kongres Pemuda Kedua pada 1928, W.R. Soepratman perlu berbicara dengan Soegondo Djojopoespito, salah satu tokoh pergerakan nasional di masa itu. Ini mengingat syair lagu tersebut banyak menggu- nakan kata ‘Indonesia’ dan ‘merdeka’, sehingga timbul kekhawatiran akan membuat masalah terhadap jalannya kongres (penghentian) maupun pe- serta kongres (penangkapan). Begitu juga ketika lagu tersebut mulai bere- dar di pasaran melalui perusahaan rekaman piringan hitam Yo Kim Tjan, dan kemudian para pandu menyiul-nyiulkannya untuk mengolok-olok aparat keamanan kolonial, semuanya adalah bagian dari kehendak rakyat untuk Merdeka.

 

Menarik sedikit melihat profi pencipta lagu Indonesia Raya ini.  W.R. Soepratman membuat lagu ini karena mengikuti kegiatan sayembara lagu kebangsaan yang diadakan oleh sebuah surat kabar. tak pernah ia sendiri menyangka akan menjadi sebuah bunyi yang tak pernah padam diperdengarkan dan dibunyikan.

Ada dua bunyi perdebatan dari sebuah music yang kembali diperkenalkan oleh penulis perihal Indonesia Raya dalam hal ini. Pertama, makna sosial dari music. Kedua, nilai estetika dari music. Pergumulan pertama adalah yang menghendaki esensi musik harus mencerminkan suara-suara yang khas dari nasion atau bahkan etnis tertentu (nasionalisme musik),  menegaskan pada fungsi sosial dari musik. Kedua, karena mengedepankan nilai sosial, maka karya Indonesia raya nilai estetis yang termarjinalkan, dengan pilihan-pilihan nada yang sederhana, ritmis yang sederhana, pun harmoni yang begitu-begitu saja.

Lagu Indonesia Raya men- jadi semakin penting untuk diajarkan secara lengkap tiga stanza. Bukan hanya berlatih untuk menyanyikannya pada setiap kesempatan pembu- kaan acara-acara resmi atau saat kelas-kelas sekolah dimulai, tetapi juga mempelajari makna di balik lirik-lirik yang tertulis di sana. Hampir semua frasa dalam lagu Indonesia Raya merupakan re eksi dari pengalaman sejarah pembentukan bangsa Indonesia.

Pertama,sebuah dialektika antara Indonesia yang subjektif dan Indonesia yang objektif. Indonesia yang bebas merdeka dan Indonesia yang berdaulat sejajar dengan bangsa-bangsa lain, dan oleh ka- renanya perjuangan menjadi Indonesia harus tetap melekat pada ke-alam- an Indonesia, yang sarat dengan keanekaragaman suku, bangsa dan baha- sa, pun keanekaragaman ora dan fauna. Semuanya yang menjadi dasar dari pembentukan karakter keindonesiaan. Kedua, sebagai konsekuensi dari keanekaragaman adalah kebutuhan untuk meramu berbagai keberbedaan dalam satu ruang Bersama. Wawasan keragaman budaya, multikulturalisme,telah menjadi takdir  negeri Indonesia yang harus diperkuat karena tidak ad acara lain selain menjahit dan mengelola keberanekaragaman budaya dan macam-macam turunannya untuk meyakinkan bangsa ini punya masa depan.

 

Ketiga, nilai-nilai yang terkandung dalam Indonesia Raya perlu selalu dipertemukan dengan realitas sosial. Coba kita temukan konteksnya lirik di bawah ini:

 

Stanza  I

Indonesia tanah airku,
Tanah tumpah darahku,
Di sanalah aku berdiri,
Jadi pandu ibuku.

Indonesia kebangsaanku,
Bangsa dan tanah airku,
Marilah kita berseru,

Indonesia bersatu.

Hiduplah tanahku,
Hiduplah negriku,
Bangsaku, Rakyatku, semuanya,
Bangunlah jiwanya,
Bangunlah badannya,
Untuk Indonesia Raya.

Refrein

Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Tanahku, neg’riku yang kucinta!
Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Hiduplah Indonesia Raya.

Stanza II

Indonesia, tanah yang mulia,
Tanah kita yang kaya,
Di sanalah aku berdiri,
Untuk s’lama-lamanya.

Indonesia, tanah pusaka,
P’saka kita semuanya,
Marilah kita mendoa,
Indonesia bahagia.

Suburlah tanahnya,
Suburlah jiwanya,
Bangsanya, rakyatnya, semuanya,
Sadarlah hatinya,
Sadarlah budinya,
Untuk Indonesia Raya.

Refrein

Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Tanahku, negriku yang kucinta!
Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Hiduplah Indonesia Raya.

Stanza III

Indonesia, tanah yang suci,
Tanah kita yang sakti,
Di sanalah aku berdiri,
M’njaga ibu sejati.

Indonesia, tanah berseri,
Tanah yang aku sayangi,
Marilah kita berjanji,
Indonesia abadi.

Slamatlah rakyatnya,
Slamatlah putranya,
Pulaunya, lautnya, semuanya,
Majulah Negrinya,
Majulah pandunya,
Untuk Indonesia Raya.

Refrein

Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Tanahku, negriku yang kucinta!
Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Hiduplah Indonesia Raya.

 

Keempat yang perlu diperhatikan adalah bahwa untuk mengupayakan perjuangan menjadi Indonesia dibutuhkan kekuatan spiritual, kekuatan yang melampaui batas-batas keduniawian. Snagat jelas, dalam suasana kebatinan para pendiri bangsa (founding fathers) bahwa mereka merasa mensyukuri karunia merdeka dengan kalimat ‘atas berkat rahmat Allah Swt.’ Kekuatan agama, Islam, misalnya, jelas memiliki kekuatan spiritual besar di dalam konteks memperjuangkan bunyi merdeka dari dalam hati, pikiran, dan tindakan.

Arahan W.R. Soepratman agar setiap warga negara menyelamatkan putra-putri Indonesia bahwa semua yang berada di wilayah Indonesia adalah yang bebas, yang sama dan sederajat. Karenanya sekali lagi Indonesia Raya adalah Pandu Bunyi Merdeka. Bunyi-bunyi yang sangat fungsional bagi nalar dan praktik merdeka untuk jiwa dan raga sebuah bangsa. Bunyi yang harus disuarakan terus untuk membangun semangat, spirit berbagi kemerdekaan termasuk di saat penjajahan fisik sudah tidak ada namun peristiwa pahit harus dibunyikan agar merdeka menjadi berharga, berdaya guna, berfungsi secara sosial dan politik. Jelas, lagu ini bukan etalase suara-suara saja seperti dokorasi, tapi ini adalah semangat merebut kemerdekaan. Suka atau tidak, musik membuat orang rela mati atas nama cinta kemerdekaan, anti penjajahan, dan demi nasionalisme-patriotisme.

Kawan-kawan muda Indonesia, sebentar lagi tanggal 17 Agustus, bunyi-bunyian, suara merdeka, pekik takbir dan Indonesia merdeka mulai bergaung, jangan lupa bunyikan Indonesia Raya untuk jiwa-jiwa yang mendamba kemerdekaan abadi lahir dan bathin, hari itu, hari ini, dan hari-hari yang akan datang. Merdeka! Maradeka! Semoga berguna. Allah Akbar! Sekali lagi, Bung: MERDEKA!

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *