Membaca Korona: Meraih Cahaya di Kedalaman Samudera (Bagian 2)

Oleh: Agusliadi

Pada tulisan sebelumnya kita telah membahas pentingnya ta’awun melawan korona. Dan sebagaimana diuraikan oleh Ahlan Zulfikar (hal. 9-12), ternyata kita menemukan antitesa dari ta’awun karena bahkan bisa disimpulkan bahwa korona adalah efek kausalitas dari keserakahan manusia termasuk tidak memiliki kesamaan visi dan misi dalam mengelola bumi untuk kehidupan khalayak banyak.

Dalam pandangan saya, apakah ini akibat pergeseran cara pandang dari Geosentrisme ke Antroposentrisme?. Hari ini terkesan bahwa manusia adalah pusat dari semuanya. Manusia adalah makhluk paling istimewa meskipun telah gagal paham karena semestinya manusia harus mengedepankan kesadaran mandat kosmis yang diberikan oleh Allah kepadanya.

Korona, saya lebih ingin mengedepankan premis bahwa ini adalah hasil dari bentuk keserakahan manusia daripada mengedepankan narasi bahwa ini adalah hasil konspirasi. M. Aditya Salam dalam tulisan di buku Membaca Korona ini (hal. 13-23), memberikan gambaran dengan meminjam sosio-psikologis Jan Willem van Prooijen faktor penyebab munculnya konspirasi adalah adanya peristiwa yang menciptakan peristiwa yang menciptakan tekanan di Masyarakat. Mungkin karena perspektif sosio-psikologis ini sehingga ada yang menyimpulkan bahwa ini adalah konspirasi.

Selain saya tidak ingin mengedepan diksi konspirasi saya punya tidak mau mengedepankan perspektif mitos dalam memandang covid-19 ini, seperti video yang viral dan terkesan bahwa virus corona takut dengan suara adzan. Islam adalah agama yang memberikan ruang bagi penggunaan akal secara maksimal.

Di negara kita, Indonesia bukan hanya kita disuguhi tentang narasi konspirasi, hoax dan mitos, sebagaimana Muhammad Bintang Akbar (hal. 24-35) berdasarkan hasil pembacaannya, menyimpulkan bahwa pemerintah Indonesia terlalu menyepelekan covid-19 ini bahkan cenderung menjadikannya sebagai bahan candaan. Selain daripada itu secara globa. sebagaimana diungkapkan oleh Asratillah dalam buku tersebut, adanya ketidakbulatan tekad mereka (mungkin maksudnya elit –elit negara) dalam menjadikan pandemic ini sebagai momentum meremajakan solidaritas kemanusiaan global. Bagi saya di sini konsepsi dan bahkan pandangan etika kosmopolitan Muhammadiyah bisa dikonstruksikan dan dikontekstuliasikan untuk memperkuat pemantik kesadaran.

Baca juga:  Pengalaman Blusukan Literasi

Antitesa dari solidaritas kemanusiaan terutama konteks lokal, ternyata nampak pula dalam permukaan dibalik wabah covid-19 ini. Sebagaimana judul tulisan Dita Fitria Wati, Tenaga Medis Sengsara, Penimbun Masker Tertawa, Narapidana Bahagia. Saya menemukan yang lebih nyata daripada sekedar sinyalir hasil konspirasi adalah bahwa dibalik wabah ini ada oknum tertentu yang memanfaatkan situasi ini demi ambisi dan/atau kepentingan pribadi dan institusinya.

Salah satu cahaya kepedulian sebagai spektrum yang bisa melawan sikap buruk oknum tertentu yang disebutkan di atas, adalah bentuk “Jihad Kemanusiaan Muhammadiyah”. Dan bahkan sebagaimana ditulis oleh Arif Jamali Muis dalam buku tersebut, Mark Woodward memberikan apresiasi kepada sikap dan tindakan Muhammadiyah bahkan menganjurkan agar organisasi –organisasi keagamaan di Amerika Serikan bahkan dunia harus mencontoh dari Muhammadiyah. Dan apa yang dilakukan oleh Muhammadiyah bagian daripada membantu Pemerintah, sebagai bentuk ta’awun dan contoh nyata bagaimana menumbuhkan solidaritas kemanusiaan.

Cahaya kesadaran yang bisa juga ditemukan dalam samudera (baca : buku Membaca Korona) ini adalah akhlak bermedia sosial sebagaimana ditulis oleh Roni Tabroni, begitupun jika memperhatikan tulisan saya yang kedua yang menjadi bagian dalam buku ini tentang Ketahanan Psikologis Menghadapi Virus Korona (hal. 286-294) sangat relevan karena sesungguhnya informasi negatif di media sosial bisa mempengaruhi mekanisme on/off DNA termasuk pikiran yang menentukan imunitas dalam tubuh. Jadi akhlak bermedia sosial idealnya bisa menjadi sebuah paradigma baru dalam memasuki era virtual. Terkait paradigma di dalam buku Membaca Korona bisa ditemukan penjelasannya secara apik sebagaimana ditulis oleh Raegen Harahap (Hal. 140-146).

Menghadapi virus korona yang telah meruntuhkan premis ataupun tesis Yuval Noah Harari tentang Homo Sapiens bahkan Homo Deus tidak bisa tidak manusia harus kembali pada dimensi spiritualitasnya. Dalam pandangan Prof. Syafiq G. Mughni, Ph.D kini dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dominasi rasionalisme, empirisme dan positivisme telah menyebabkan krisis spiritual (Azaki, 2015).
Terkait dimensi spiritualitas, religiusitas dan bahkan psikologis yang sesungguhnya bagi saya telah built-in dalam diri manusia. Hanya saja manusia terkadang tidak memahami dan/atau tidak mengaktiviasi potensi tersebut, juga terdapat dalam buku ini pada bagian II (Agama dan Jiwa). Bahkan di antara 6 perspektif utama yang ada dalam buku ini, pada bagian II mendapatkan porsi terbanyak dari yang lainnya, yaitu sebanyak 41 judul.

Baca juga:  Suksesi Kekuasaan ala MAR dalam Autobibliografi

Dalam diri manusia telah built modal yang luar biasa yaitu modal teologis (termasuk tentunya kesadaran fundamental tentang agama) dan modal psikologis (jiwa). Menghadapi korona tentunya bukan hanya langkah preventif dalam bentuk berdasarkan protokol kesehatan, hidup bersih, sosial/physical distancing, WFH dan mekanisme teknis lainnya. Namun lebih utama dari itu bagaimana memantik kesadaran teologis dan mengaktiviasi potensi psikologis yang ada dalam diri.

Sebagaimana tulisan Uswatun Hasanah tentang Resiliensi Kolektif Masyarakat (hal. 192-198). Berdasarkan perspektif yang dikutip dari kirmayer dkk (2009) menjelaskan bahwa Resiliensi Kolektif adalah bagaimana ketahanan masyarakat dalam menghadapi tekanan dan tantangan hidup melalui pengembalian fungsi relasi sosialnya.

Bagi saya Resileinsi Kolektif ini secara teologis relevan dengan fungsi agama yang memberikan pemahaman kepada manusia tentang relasi antara dirinya dengan manusia dan alam secara profane bahkan lebih jauh bukan hanya dengan sesame tentang bagaimana pemahaman relasinya dengan sesuatu yang transenden. Kepanikan global yang ditimbulkan oleh Covid-19 adalah sesungguhnya karena secara teologis kita belum menyadari kehidupan ini dalam dimensi keimanan, manusia lupa akan Allah sebagai sumber ketenangan batin. Padahal ini memiliki korelasi dengan modal psikologis dalam diri yang selanjutnya apakah akan mengaktivasi imunitas dalam tubuh/tidak.

Secara teologis manusia telah dibekali akal, pengetahuan, dibimbing oleh agama, kehendak bebas yang jika dipahami secara mendalam bisa melahirkan cahaya berupa ikhtiar insani yang terbaik sehingga ekospiritualisme sekalipun sebagaimana yang ditawarkan oleh Julaiha melalui tulisannya dalam buku Membaca Korona ini bisa termanifestasi dalam realitas empirik.

Secara psikologis, manusia punya banyak potensi dalam dirinya: baik berupa kekuatan pikiran, mekanisme on/off DNA, kekuatan alam bawah sadar yang bisa diaktivasi untuk menciptakan imunitas terbaik dalam tubuh dalam menghadapi Virus Korona. Selain hal tersebut dalam buku Membaca Korona, memberikan juga perspektif berupa kritik konstruktif bagi pemerintah termasuk dalam hal, dimana korona juga menggerogoti tatanan ekonomi.

Baca juga:  Kabar Dakwahmu Bagian Literasi Informasi

Dua bagian tulisan yang telah saya tuliskan ini, tentunya tidak mampu mewakili secara utuh buku yang bagaikan samudera ini. Sesungguhnya, bagi saya, jika tulisan – tulisan dalam buku ini dipahami secara mendalam, digali dan dikembangkan maka mungkin buku ini bisa menjadi Ensiklopedi Korona sekalipun. Selain daripada itu, jika kita memahami dan menguasai buku ini maka minimal diri kita sudah bisa menjadi kamus atau ensiklopedi berjalan terkait tema Korona.

Komentar Facebook Sobat Taman Pustaka
Kuy, berbagi...