Buku “Membaca Korona” : Meraih Cahaya di Kedalaman Samudera (Bagian 1)

Oleh: Agusliadi

Tulisan ini sebenarnya dimaksudkan sebagai bentuk resensi dari buku “MEMBACA KORONA”, meskipun saya sendiri merasa bahwa ini tidak memenuhi standar baku dari sebuah resensi. Dan salah sau penanda era sekarang, kita cenderung tidak mengikuti sebuah kemapanan.

Buku Membaca Korona, dengan ketebalan 720+xxiii halaman, kelahirannya merupakan inisiasi dari Ahmad Faizin Karimi & David Efendi yang sekaligus berperan sebagai editor. Buku ini ̶ jika meminjam istilah Sulhan Yusuf, seorang pegiat literasi di Kabupaten Bantaeng ̶ adalah anak ruhani yang bagi saya mungkin kelahirannya prematur.

Dilahirkan di sebuah ruang kreatifitas caremedia communication selaku penerbit dalam suasana kehidupan yang cukup mencekam tetapi tetap penuh hikmah. Dan sebagai hasil tangan kreatif dan pikiran cemerlang dari dua editor: Ahmad Faizin Karimi & David Efendi. Selain daripada itu, buku ini merupakan hasil kolaborasi yang apik antara beberapa lembaga: Kader Hijau Muhammadiyah, IBTimes.id, Sekolah Menulis Inspirasi dan Serikat Taman Pustaka.

Buku “Membaca Korona” merupakan buah cinta, spirit, kepedulian dan refleksi dari 99/100 (mudah-mudahan tidak salah hitung) penulis dari ”rahim” wabah pandemi covid-19. Sebagai anak ruhani yang mungkin kelahirannya prematur karena terkesan tidak membutuhkan banyak waktu sampai akhirnya bisa dilahirkan (baca: diterbitkan). Kelahirannya terkesan prematur, namun ternyata buku ini sangat berkualitas, memiliki bobot yang tinggi untuk kategori sebuah buku bacaan bunga rampai. Budi Setiawan (Ketua MDMC PPM) dan Hilman Latif (Ketua Lazismu PPM) melalui endorsmentnya pada dasarnya memberikan apresiasi atas kelahiran buku ini. Dan diyakini buku ini akan senantiasa menjadi rujukan di masa yang akan datang.

Buku ini, sependek pengetahuan dan informasi yang saya dapatkan adalah merupakan buku pertama yang terbit dan secara utuh berbicara tentang korona multi perspektif. Mulai dari perspektif, sosial budaya, agama dan jiwa, pendidikan, politik dan pemerintahan, ekonomi dan ekologi.

Baca juga:  Resensi Buku: Menjemput Kematian Dengan Bahagia

Begitupun penulis buku ini, berasal berbagai latar belakang, mulai dari penulis yang baru belajar sampai penulis senior yang dikenal sangat produktif, dari pelajar sampai dosen, dari guru sampai aktivis. Dan satu hal luar biasa ternyata buku ini bukan hanya spirit bagaimana bertahan menghadapi korona tetapi termasuk spirit bagaimana meningkatkan literasi. Hal itu terbukti karena editor tidak membuat klasifikasi antara penulis senior dan yang baru belajar. Bahkan tulisannya ada yang disandingkan sehingga menjadi kebanggaan tersendiri sekaligus sebagai spirit bagi penulis baru.

Sebagaimana dalam pengantar ahli dari dr. Corona, bahwa membaca buku ini, seakan akan kita berjalan mengarungi tempat, perasaan dan ruang – ruang alur pikiran yang berbeda – beda dalam menghadapi wabah covid-19. Dan bukan hanya itu, bagi saya, pembaca akan menemukan banyak modalitas yang bermanfaat dan fungsional dalam menghadapi covid-19. Termasuk bagaimana mengaktivasi potensi – potensi yang telah built-in dalam diri untuk menjadi imunitas dalam menghadapi wabah covid19.

Sebelum menyusuri lebih dalam dan menemukan sari tulisan yang terdiri 135 (seratus tiga pulih lima) tulisan dan dalam 6 perspektif utama, maka kita perlu memahami bahwa ada bentuk kesadaran utama dari para inisiator sekaligus tim editor yang melatari lahirnya buku ini.Kesadaran yang dimaksud, menurut pemahaman saya adalah: pertama, Pandemi Covid-19 ini ̶ dibandingkan pandemi sebelumnya yang mengiringi perjalanan peradaban dunia ̶ benar – benar mengguncang dunia, dan skala kerusakan yang ditimbulkan oleh virus ini relatif lebih luas, lebih dalam dan menggerogoti berbagai sendi kehidupan.

Kedua, sebagaimana dalam pengantar editor, ada keyakinan bahwa kejadian luar biasa ini dapat diambil hikmah untuk generasi di masa depan agar belajar dari pengalaman. Ketiga, Era yang dalam perspektif Yasraf Amir Piliang sebagai era pasca industri ̶ dimana ruang dan waktu ditaklukkan oleh kekuatan elektromagnetik, dunia telah dilipat dan logika kecepatan menjadi paradigma ̶ ternyata bukan cuma manusia yang saling terhubung, penyakit pun terakselerasi.

Baca juga:  Mencintai itu utuh, kepada hati, kepada raga dan resikonya

Keempat, sebagaimana diuraikan oleh editor, ternyata manusia memiliki keunikan yang membedakannya dengan binatang: narasi. keunikan ini penting karena memberikan kekuatan bagi manusia agar bisa bertahan, namun juga menyimpan tantangan jika tidak bisa disatukan. Olehnya itu narasi harus dibangun untuk memperkuat referensi sikap dan bahan tindakan.

Yasraf Amir Piliang dalam bukunya Dunia yang Dilipat (2011:82) menguraikan bahwa “dalam wacana politik, sosial dan budaya kapitalisme global, kekuasaan tidak lagi sekedar bersumber dari apa yang disebut oleh Michael Foucault sebagai power/knowledge, akan tetapi juga power/speed”, meskipun demikian bagi saya sebagaimana point keempat yang melatari lahirnya buku ini konstruksi narasi (logika pengetahuan) masih sangat penting.

Hal tersebut diperkuat sebagaimana ditulis oleh Hilman Latif (Seorang Professor dan Ketua LAZISMU PP Muhammadiyah) dalam buku Muazin Bangsa dari Makkah Darat (2015:100) bahwa “Gagasanlah yang menjadi realitas yang sebenarnya bila kita menggunakan cara berpikir yang bersifat ‘neo platonik’.
Disinilah urgensi buku “MEMBACA KORONA” dilahirkan (diterbitkan) meskipun proses kelahirannya “terkesan” mengikuti logika kecepatan Paul Virilio. Menurut Virilio“…kecepatan yang menjadi ciri kemajuan”. Buku ini meskipun diproses dengan durasi waktu yang sangat singkat, hanya kurang lebih 1 bulan, tetapi hasilnya sangat berkualitas.

Saya belum menuntaskan membaca buku Membaca Korona yang setebal kurang lebih 750 halaman ini. Meskipun demikian setelah beberapa hari membaca sekilas (menyusuri dengan kecepatan “kilat” dari halaman pertama sampai terakhir) dan memikirkan judul yang tepat yang bisa mewakili gagasan para penulis lainnya yang multi perspektif tersebut maka akhirnya saya terinspirasi dan memutuskan bahwa buku “Membaca Korona” : Meraih Cahaya di Kedalaman Samudera.

Saya menilai bahwa buku Membaca Korona ini bagaikan samudera. Jika kita berani berlayar apalagi menyelaminya maka akan ditemukan cahaya di dalamnya. Ada banyak cahaya di dalam samudera (buku Membaca Korona) ini. Di dalamnya ada cahaya berbentuk: sikap terbaik, ikhtiar insani, spirit, optimisme, kepedulian, kesadaran, hikmah, mekanisme aktivasi potensi diri, kritik konstruktif, dan bahkan di dalamnya kita menemukan ekospiritualisme sebagai salah satu cara menjawab “keraguan malaikat”.Pada tulisan pertama oleh Ahmad Faizin Karimi (hal. 1-4), kesadaran kita akan tersentak bahwa sebagai yang dikutipnya dari Christakis & Flower hari kita sedang dalam kondisi yang disebut hyper-connetted. Berbeda dengan binatang, manusia terhubung dengan manusia lainnya dan membentuk jejaring sosial kehidupan. Jika sebelumnya sebagaimana hasil percobaan Stanley Milgram sebagian besar manusia terhubung dengan rata-rata “enam derajat keterpisahan”. Dan era digital sekarang secara virtual koneksi itu semakin pendek/singkat. Di sinilah penyakit pun menemukan ruang akselerasi.

Baca juga:  Gubug Literasi Terima Hibah 500 Buku

Akselerasi penyakit covid-19 yang luar biasa, menembus berbagai dimensi kehidupan, di sini kita menemukan saran konstruktif bahwa pemerintah idealnya bukan hanya melakukan intervensi regulasi tetapi perlu dibarengi dengan subsidi. Ini termasuk dalam rangka perlebar jarak insentif psikologis antara yang menolak dan menurut.

Sebagaimana Juli Anggraini (hal. 5-8), saya sepakat bahwa butuh ta’awun melawan korona, sehingga jangan cuma mengandalkan pemerintah, melainkan peran serta masyarakat sangat dibutuhkan. Minimal menyadari pentingnya sosial/physical distancing. Termasuk para pemuka agama sebagaimana tulisan saya (Agusliadi, hal. 242-250) dalam buku Membaca Korona ini penting mengedepankan ikhtiar insani, menumbuhkan kesadaran kolektif umat Islam untuk menjadikan masjid sebagai garda terdepan dalam pencegahan penularan covid19.

Komentar Facebook Sobat Taman Pustaka
Kuy, berbagi...