Buku Adalah Warisan Terindah


Oleh Roni Tabroni*

Di balik angka minat baca masyarakat yang selalu minim, ada geliat yang menggembirakan. Kesadaran pentingnya membangun peradaban menjadikan buku sebagai salah satu sandarannya.

Meraba denyut kader dari pusat hingga pelosok, kini gerakan literasi begitu merata. Sebagai tradisi positif, aktivitas ini terus menular dan menetes. Virusnya menjangkiti berbagai kalangan tidak kenal usia dan gender. Yakinlah, tradisi kebaikan pasti akan menular.

Walaupun buku bukan hal asing di persyarikatan Muhammadiyah, namun gerakan literasi patut diapresiasi, sebagai upaya membangun pemerataan kesempatan akses masyarakat terhadap sumberbacaan. Problem yang terus berulang dalam wacana minat baca yang tidak meningkat, sangat terkait dengan aksesibilitas masyarakat terhadap buku.

Mungkin, jika kita berfikir sempit dan mementingkan ego sepihak, warga Muhammadiyah patut bersyukur. Mengapa tidak, dengan label kaum terpelajar di tanah air ini, keluarga besar Muhammadiyah memiliki kesempatan yang lebih terhadap sumber ilmu. Baik dari aspek pendidikan formal maupun informal, warga secara umum Muhammadiyah tidak terlalu kesulitan.

Terkenal dengan lembaga pendidikan dari TK sampai Perguruan Tingginya, memberikan kesempatan kepada jamaah Muhammadiyah untuk lebih dekat dengan buku. Terjadi ketimpangan, namun tidak terlalu signifikan.

Namun, dengan membuka jendela persyarikatan, di luar sana kita tanpa harus menggunakan mikroskop, akan menyaksikan pemandangan yang berbeda. Ketimpangan terhadap kesempatan mengakses sumber ilmu begitu nyata. Maka bertahun-tahun, data resmi pemerintah selalu menunjukkan angka minat baca yang menyedihkan.

Begitu rendahnya minat baca ini yang memaksa warga Muhammadiyah harus terusik. Sensitifitas kemuhammadiyah akan diuji ketika menyaksikan kondisi seperti ini.

Selama ini kita merasa sudah selesai dengan urusan perbukuan. Namun masyarakat lain, yang memiliki hak sama, ternyata belum menerima layanan yang memadai. Sepertinya negara alfa dalam hal ini. Buku-buku yang terus diproduksi dengan jumlah fantastis setiap tahunnya hanya beredar di perkotaan. Ibarat menebar garam di lautan, orang kota berlebih tetapi masyarakat Indonesia yang mayoritas tinggal di kampung justru kesulitan mencari bahan bacaan.

Distribusi dengan pendekatan normatif seperti kantor desa atau kecamatan, ternyata menjadi persoalan tersendiri. Buku-buku hanya menjadi onggokan barang tak berguna yang tersimpan di pojok bangunan dan tak pantas untuk dipandang. Miskinnya kreatifitas dan hilangnya kesadaran literasi bagi kalangan aparat desa menyebabkan buku tidak lagi berfungsi memberikan pencerahan, tetapi justru menjadi simbol kejorokan.

Ketiadaan bacaan bagi masyarakat pada umumnya menjadikan angka rata-rata minat baca tidak pernah terdongkrak naik. Kehadiran perpustakaan di lembaga-lembaga pendidikan formal pun terkadang menjadi percuma. Ketika perpustakaan menjadi ruang menyeramkan dan penuh aturan. Perpustakaan angker karena sangat sepi, menakutkan bagi orang yang mau datang karena di dalamnya banyak pasal yang membelenggu pengunjungnya. Naluri manusia, lebih baik mencari kebebasan dan mencari informasi instant dari gadget yang entah benar atau tidak.

Perlu pendekatan yang lebih nakal dalam pengelolaan perpustakaan. Perpustakaan bukan tujuan dari program literasi, itu hanya sarana belajar masyarakat. Di ruang perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan buku, tetapi sebagai sarana belajar yang lebih fleksibel lagi. Perpustakaan merupakan kawah candra dimuka yang menjadi sarana beraktifitas positif bagi masyarakat.

Bahkan perpustakaan ada kalanya penting untuk menjadi tempat bermain anak-anak. Ya bermain. Daripada anak-anak bermain di tempat yang kurang terawasi, mungkin di perpustakaan lebih baik. Biarkan anak-anak lebih senang berada di ruang perpustakaan walaupun tidak membaca buku. Di tempat ini anak-anak dan masyarakat bisa melakukan aktivitas positif yang bersifat informal dan non formal.

Karenanya, perspektif literasi yang lebih luas pun sebenarnya harus menarik kegiatan ini bukan hanya pada aktivitas membaca, tetapi segala bentuk kegiatan positif yang mengarah pada peningkatan kualitas SDM dan membangun daya kritisnya.

Namun, sebagai simbol peradaban, kehadiran buku di berbagai pelosok yang menjadi titik aktivitas literasi menjadi sangat penting. Denyut aktivitas literasi yang menyebar di berbagai pelosok memberikan isyarat bahwa kebangkitan tradisi keilmuan yang lebih positif.

Kondisi ini sudah lebih dari cukup untuk menatap masa depan bangsa ini lebih baik. Selain prasyarat lain, bahwa kebangkitan sebuah bangsa juga dipengaruhi kemampuan baca-tulis dan tradisi literasi masyarakat. Ketika semakin meningkatnya kegiatan-kegiatan seperti ini, maka kita tidak lagi penting berbicara angka-angka terkait dengan minat baca. Kita sudah cukup mewariskan sebuah kado terindah bagi generasi ke depan berupa buku dan segudang kemampuan literasinya.

Penulis adalah Pengurus MPI PP Muhammadiyah dan Penggagas Kampung Belajar


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *