Blora Bergelora


Cerpen Oleh Ruli Destiani

28 April 2018, aku menyebutnya sebagai bagian dari literacy-tour pertamku. Ini adalah true story tentang jumpa pertama dengan masyarakat Blora dalam geliat semangat literasinya yang memikat hatiku. Malam itu, sekitar pukul Sembilan malam, mata yang semakin sayu begitu sumringah setelah aku membaca sebuah kiriman berupa poster yang dikirim via group WA oleh Ketua Serikat Taman Pustaka, pak David Efendi (Cak Dev panggilan akrabnya di RBK) salah satu dosen Ilmu Pemerintahan di UMY. Poster ini berisi ajakan untuk kegiatan Diskusi dan Workshop Gerakan Literasi yang diadakan oleh Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) di Aula SMK Muhammadiyah Kradenan Blora, Jawa Tengah. Rasanya saat merespon kiriman ini, hanya ada beberapa detik untuk memutuskan yes or no dan berangkat langsung dari Yogyakarta menuju Blora.

Sekitar 5 jam perjalanan yang harus kami tempuh. Dari empat orang yang ada, hanya ca Dev dan kak Hanafi yang bisa diandalkan untuk bergiliran menyetir mobil yang kami kendarai. Sementara, aku dan kak Ozan hanya bisa diam untuk tidak mengganggu konsentrasi mereka saat menyetir. Sesekali, kami juga bercengkrama, ribut, bernyanyi, bahkan harus bertindak layaknya tukang pukul agar para sopir andalan kami ini tak mengantuk sepanjang perjalanan.

“Dalam situasi ktivitas monoton berjam-jam, apalagi sepi, sunyi, pasti akan terasa ngantuk dan begitu nikmat untuk terlelap. Apa ya yang bisa kulakukan agar mereka tetap terjaga?”, gumamku selalu dalam hati.

Aduh, karena satu-satunya perempuan dalam mobil itu, rasanya aku begitu kaku untuk memulai bahan obrolan supaya mereka tak mengantuk. Andai saja mereka perempuan semua, pasti akan terasa begitu mudah ketemu topik menarik untuk dibicarakan. Belum lagi masalah nada suara, nada yang lembut, santai, dengan sesama perempuan pasti akan terasa nikmat dan wajar-wajar saja, tetapi nyatanya mereka laki-laki semua.

“Bukannya segar dan terjaga, yang ada malah pada mellow dan tertidur lelap lagi kalo aku bicara lembut dan pelan’’, pikirku sambil mencari cara untuk membantu suasana perjalanan tetap terjaga.

Bangun, tidur, bangun, tidur. Sungguh momentum tidur yang tak senikmat di rumah. Di tengah ketidakberdayaanku menahan rasa kantuk, ada bejubel perasaan tak enak hati melihat mereka yang menyetir mobil secara bergantian. Hingga akhirnya, aku terjaga kembali saat kendaraan yang kami kendarai berhenti, istirahat sejenak untuk menunaikan sholat subuh di sebuah masjid yang aku tak sempat cek nama dan lokasinya di mana. Tetapi yang pasti, ada perasaan sedikit lega, terjagaku kali ini berarti bahwa kami semakin dekat dengan lokasi tujuan. Setelah selesai sholat, kami pun melanjutkan perjalanan menuju desa Mojorembun. Desa tempat pak Moh Mudzakkir, sahabat ca Dev atau salah seorang Kandidat Doktor dari Universitas Sains Malaysia selaku rekan pembicara ca Dev dalam kegiatan yang kami akan kami hadiri.

Pagi-pagi sekali, tak sempat cek jam berapa, kami pun tiba di kediaman pak Mudzakkir. Kami disambut langsung oleh pak Mudzsakkir, mbah, dan mas Dian selaku ketua penyelenggara acara Diskusi dan Workshop Gerakan Literasi. Sambutan hangat di pagi hari dengan secangkir kopi racikan keluarga, kemudian disuguhkan breakfast luar biasa. Makanan kampung seperti getok, umbi-umbian dan masih banyak lagi. yang semuanya dikemas dan disajikan dengan selembar daun jati. “Wow, ini mah aku sebut produk ekolabel. Semuanya dari alam”, ucapku kagum dan bahagia karena bisa kembali merasakan ramahnya dunia kampung. Sangat jauh berbeda seperti di Kota atau tempat lain yang masyarakatnya sangat sulit terlepas dari ketergantungan pada kemasan plastik.

Alhamdulillah, setelah perut terisi dengan sajian nikmat, tak butuh waktu lama kami pun harus bergegas menuju SMK Muhammadiyah Kradenan Blora. Sepenjang perjalanan, mataku tak tahan untuk berkedip terlalu sering. Sungguh, pemandangan desa yang dulu sebelum ada kebijakan Dana Desa oleh pemerintah merupakan suatu hal yang wajar bagiku, tetapi tak wajar di era ini. Kondisi jalan rusak, banyak lubang ekstrim, proyek jembatan yang belum selesai, sungai-sungai yang bersembunyi di balik pepohonan dan bambu yang tumbang, hingga akhirnya dalam kedipan mata terakhirku, ternyata bangunan SMK ini juga berfungsi sebagai SMP di daerah itu.

“Bangunan sekolah di sini masih minim rupanya”, ucapku dalam hati dan semakin penasaran, “Bagaimana ya mereka mengemas acara kali ini? Gerakan Literasi yang aku pun baru familiar akhir-akhir ini”.

Singkat cerita, tak butuh selang waktu lama, kedatangan kami disambut dalam simpul senyum penuh ramah dari panitia penyelenggara acara yang terdiri dari siswa, guru, dan para alumnus sekolah tersebut. Kemudian kami pun diarahkan untuk memasuki aula sekolah setengah jadi tersebut. Ternyata, ruangan telah ramai disesaki oleh para guru dan siswa delegasi dari berbagai sekolah yang ada di Kabupaten Blora, yaitu mulai dari TK, SD, hingga SMA. Semua membaur dalam satu agenda yang menurutku sangat asik. Di mana siswa dan guru bersama-sama duduk dalam ikhtiar yang sama sesuai dengan tema yang diangkat dalam acara kali ini, yaitu Membumikan Literasi, Mewujudkan Peradaban Blora Berkemajuan.

Semangat perubahan melalui gerakan literasi yang luar biasa, Interaksi antara peserta dengan pemateri yang mengalir begitu saja. Semua berjalan begitu natural dalam diskusi santai, yang pada akhirnya menggerakkan hati siapa saja untuk bertindak menjadi seorang relawan dalam gerakan literasi. Suasana menggugah yang pada akhirnya mengantarkanku pada perkenalan singkat dengan beberapa penyelenggara acara tersebut. Dalam perkenalan singkat itu, aku mencoba membangun komunikasi dengan bercengkrama ria, menanyakan kesan dan alasan mereka mengadakan acara tersebut, dan makan siang bersama di waktu jeda. Sungguh tak terduga olehku, jawaban-jawaban mereka membuatku terkagum-kagum. Sampai-sampai, hanya dengan mendengar cerita mereka, aku hanya butuh dua tiga sendok makan untuk mengenyangkan perut ini, dan nikmat sekali rasanya.

Seorang siswa dengan semangatnya bercerita tentang keperihatinanya dengan teman-teman sebayanya yang banyak menghabiskan waktu luang hanya untuk sekedar bermain, nongkrong di pinggir jalan dan melakukan perbuatan-perbuatan lain yang tidak bermanfaat. Siswa lain menyambung cerita itu dengan menyampaikan betapa menyedihkannya nasib buku-buku yang tertumpuk debu di rak-rak perpustakaan.mereka. Ada pula siswa yang mengekspresikan kehawatirannya dengan menyampaikan harapannya agar buku-buku yang dimilikinya dapat diakses oleh teman-temannya yang lain, seperti yang dilakukan oleh para pegiat gerakan literasi saat ini. Mereka tampak sangat antusias untuk ikut bergerak menjadi relawan gerakan literasi.

Waktu perkenalan terasa begitu singkat dengan para siswa. Tak sempat bertanya nama dan berkenalan lebih jauh, kondisi perut yang tak bersahabat mengharuskanku untuk memotong cerita mereka. Mules, keringat dingin, serba aneh karena efek menstruasi membuatku kebingungan mencari toilet dan akhirnya dituntun oleh Buk Diya salah seorang panitia acara. Setelah beberapa menit, menyelesaikan urusan perut, akhirnya terasa lega juga. Kemudian saat keluar dari toilet, eh ternyata masih ada buk Diya yang setia menungguku rupanya.

“Saya kira ibu sudah pergi, ternyata masih di sini toh?”, ucapku sambil senyum pada buk Diya.
“Ia mbak, sengaja nunggu. Monggo sekalian bareng ke sana!” sambil mengarahkanku pada tempat istirahat dan makan siang.

Setiba di tempat istirahat, hadirku disambut ramah oleh buk Amalia yang ternyata adalah istri dari adik pak Mudzakkir. Kami pun terjebak pada obrolan hangat yang menghambat kami masuk ruangan untuk makan siang. Di tengah nikmatnya obrolan kami, ternyata mas Dian datang dan menambah panjang jeda obrolan. Cerita-cerita sampai menyinggung sedikit tentang mbak Sekar salah seorang dosen Ilmu Pemerintahan UMY, yang ternyata merupakan kakak tingkatnya sewaktu menempuh S1 dulu. Hingga akhirnya, kami pun memutuskan untuk masuk ruang istirahat dan makan siang bersama.
“Saya perihatin dengan kebiasaan anak-anak sekarang mbak. Mereka sibuk terus dengan handphone masing-masing. Kalo saya tanya, cita-citanya apa? Mereka menjawab, mau jadi orang sukses, orang pinter dan lain-lain. Tapi, saat saya mengarahkan untuk membaca buku, mereka menolak dan lebih memilih untuk pergi bermain dengan teman-temannya.”, ibu Amalia membuka obrolan saat aku memulai suapan pertamaku.

“Ya bu, memang anak zaman sekarang seperti itu. Itu sebabnya kita yang memiliki keperihatinan akan perihal itu juga berusaha bagaimana caranya agar kesan kegiatan membaca lebih asik dari permainan di handphone. Ibu bisa coba praktekkan beberapa saran yang disampaikan pak David saat acara tadi. Pancing minat baca mereka dengan memberikan reward dan lain-lain”, balasku.

“Ia mbak, saya akan coba praktekan. Bener-bener miris dengan kondisi siswa saya saat ini, terutama waktu istirahat kelas itu lo mbak. Mereka bermain, melakukan hal-hal yang pada akhirnya mencelakai diri mereka sendiri hingga harus masuk puskesamas dan rumah sakit. Kenapa mereka gak melakukan yang lebih bermanfaat seperti kegiatan membaca buku ya?”, balas bu Amalia kembali.

“Ya ampun, parah sekali kalau sampai harus masuk rumah sakit ya bu? Tapi ya, kita juga sama-sama paham, yang namanya anak-anak memang begitu, gak mikir-mikir kalo main. Kalo masalah membudayakan baca buku, saya rasa ini juga PR besar orang tua di rumah bu. Sebisa mungkin, sesibuk apapun orang tua meluangkan waktu terbaik mereka untuk anak-anaknya. Saya memang belum menjadi seorang ibu atau orang tua, tapi saya juga suka mengamati cara orang tua mendidik anaknya, termasuk orang tua saya sendiri dan pak David”, balasku sambil mencoba mengkaitkan hubungan antara intensitas kedekatan orang tua dengan anak terhadap budaya membaca buku.

Panjang sekali aku bercerita bagaimana cak David yang meluangkan waktunnya untuk anak-ananya. Ca David melibatkan keluarga kecilnya dalam bergiat di gerakan literasi. Kemudian aku lanjutkan dengan cerita hasil pengamatanku terhadap cara mendidik ca David terhadap anak-anaknya saat di acara Jagongan Media Rakyat lalu. Sang anak tidak menghabiskan banyak waktu dengan bermain handphone, membebaskan mereka untuk bermain, tetapi tetap ada unsur mendidik. Itulah kedekatan orang tua dengan anak ala ca David. Setelah itu, aku kembali bercerita hingga curhat pribadi tentang keampuhan dongeng dalam waktu luang singkat seorang ibu, yang mengajarkan banyak hal tentang kebaikan, yang sekaligus menjadi modal bagi sang anak saat jauh dari kasih sayang kedua orang tuanya.

”Iya, mbak. Sering tu ya, sampai ponakan kalo datang ke rumah, suka minta didongengin gitu”, ceplos bu Amalia memotong curhatanku.

“Na, itu bu. Ibu bisa memanfaatkan waktu dongeng itu untuk memulai mendekatkan mereka dengan buku. Bu Amalia gak perlu meminta mereka untuk membaca buku dongeng. Ibu cukup kasi lihat bukunya, perlihatkan gambarnya, kemudian ceritakan isinya. Bagi saya yang juga pernah jadi anak kecil, saya lebih suka itu bu. Dipangku, dikasi makanan, sambil didongengin ibu tu asik sekali. Betah banget dibuat, sampai-sampai ibu saya dulu sering ketiduran saat dongengin saya. Dan saya harus menggaggu tidurnya berkali-kali supaya dongeng itu tidak putus”, ungkapku pada ibu Amalia.

Lama bercerita dengan bu Amalia hingga aku pun lupa topik apa saja yang telah kami perbincangkan sebelumnya. Dan setelah acara makan siang, kami pun kembali ke aula tempat acara Diskusi dan Workshop Gerakan Literasi berlangsung. Kami mengikuti acara hingga selesai dan sesi foto bersama sebagai penghujung acara. Tampak begitu banyak perasaan puas, kebahagiaan, dan berbagai harapan baru yang ada di antara para peserta dan panitia penyelenggara acara tersebut. Semuanya terlihat dari betapa antusiasnya mereka untuk membentuk dan mendaftar komunitas gerakan literasi, yang nantinya dapat ikut serta dalam pogram hibah dan kirim buku gratis via kantor pos.

Acara Diksusi dan Workshop Gerakan Literasi di Blora menjadi wisata literasi pertamaku, yang aku lebih suka menyebutnya sebagai Literacy-Tour. Banyak kisah yang terkuak dalam kesan pertama menginjakkan kaki di tanah Blora. Mulai dari masalah masih minimnya sekolah, tidak semua sekolah memiliki perpustakaan, bahkan ada kisah tentang dilarangnya siswa membuka segel buku untuk keperluan membaca.

“Sebegitu minimkah buku di daerah ini? Sampai untuk membaca saja dipersulit”, tanyaku dalam hati. Cerita dan keluh kesah masyarakat Blora ini mendapatkan ruang tersendiri di hati.

Sementara, dalam lubuk hati terdalam, tersisa bayang-bayang dengan semangat membara dari wajah para siswa, guru, dan para relawan gerakan literasi terutama ca Dev, kak Ozan, dan kak Hanafi yang begitu manis untuk dikenang. Mereka tak pernah lelah untuk terus menebar virus kebaikan dan merajut kebahagiaan bagi banyak orang.

“Semoga Allah senantiasa memberi kemudahan atas segala ikhtiar baik mereka. Ingin sekali rasanya aku pulang ke kampung halaman untuk kuceritakan pengalaman ini pada sahabat-sahabatku di Lombok sana.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *