Binatang (Lain) Berharap Manusia Punah


Oleh: Ahmad Faizin Karimi)*

Jika film Avengers benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata, anda tentu lebih memilih “Endgame” yang terjadi dari pada “Infinity War”. Tentu saja, dalam “Endgame” si Mad Titan Thanos gagal memusnahkan seluruh populasi. Sedangkan dalam “Infinity War”, berkat akik-akik keramatnya ia berhasil menghapus separuh penghuni semesta.

Tapi mungkin tidak sama dengan pilihan para binatang—tentu maksud saya binatang lain, karena secara biologis kita diklasifikasi sebagai binatang genus Homo spesies Sapiens. Dan, jangan tanya secara sosial, karena dalam banyak kasus kita lebih ‘binatang’ dari binatang itu sendiri—jika para ahli survei mau menyebar angket kepada para binatang, asalkan tanpa kecurangan kemungkinan hasilnya 99,9 persen berharap kita musnah. Menyisakan 0,1 persen yang mungkin tidak setuju karena merasa hidupnya bergantung pada kita, seperti kutu rambut atau kucing peliharaan yang kadung dimanja.

Bagi hampir seluruh binatang, kita adalah binatang lain yang sangat menyebalkan. Bayangkan, mana ada binatang lain yang mengurung binatang lain hanya untuk dilihat-lihat agar ia senang? Bahkan bagi jenis manusia dari spesies lain, kita ini adalah binatang pemusnah massal.

Sapiens pertama kali berevolusi dari satu genus kera di Afrika Timur sekitar 2,5 juta tahun lalu. Bumi pada 2 juta sampai 10 ribu tahun lalu masih dihuni beberapa spesies manusia. Entah karena bosan atau menghindari mantan kekasihnya yang direbut pejantan alfa, pada sekitar 100 ribu tahun lalu Sapiens bermigrasi ke Timur Tengah namun gagal menyingkirkan Neanderthal. Pada migrasi kedua sekitar 70 ribu tahun lalu sapiens baru berhasil menyebar dari Afrika Timur ke Arabia lalu ke seluruh penjuru Eurasia. Memusnahkan Neanderthal dan spesies manusia lain. Dalam banyak studi ditemukan spesies manusia lain itu dibantai oleh moyang kita: Sapiens generasi awal.

Jadilah Sapiens menguasai bumi. Revolusi kognitif memungkinkannya mengembangkan bahasa, selanjutnya mengubah imajinasi menjadi kenyataan. Kita, Homo Sapiens—sebagaimana diuraikan Yuval Noah Harari—melanjutkan evolusi menjadi Homo Deus, makhluk yang ingin menjadi tuhan. Melalui rekayasa genetika, medis, dan teknologi informatika.

Tapi sejauh apa pun capaiannya, kita tetaplah Homo Sapiens yang menyebalkan. Para binatang lain tidak akan tertipu pencitraan kita hanya dengan memasukkan mereka ke dalam kebun binatang atau memotret mereka dan memasukkan foto indah itu dalam majalah satwa. Binatang lain tetap berharap manusia musnah, dan agaknya harapan mereka bukanlah harapan kosong.

Mungkin Thanos sudah tidak bisa mereka harapkan. Tapi ironisnya, bisa jadi kita sendiri yang menyebabkan kepunahan manusia. Jared Diamond dalam bukunya Collapse mengidentifikasi lima faktor mempengaruhi keruntuhan peradaban: kerusakan lingkungan, perubahan iklim, peradaban musuh, peradaban sahabat, dan respons terhadap persoalan lingkungan. Lihat di sekitar kita, mana di antara kelima faktor itu yang tidak mendukung kemusnahan kita?

Bayangkan tentang lubang ozon, berkurangnya air tanah, deforestasi, sampah, aneka badai, kenaikan tinggi laut, krisis energi, krisis pangan, dan pelbagai persoalan lingkungan akibat—meminjam judul buku Friedmann—bumi ini panas, tipis, dan sesak (the World is Hot, Flat, and Crowded). Dan bagaimana dengan kemungkinan lain? Hujan asteorid seperti yang memusnahkan dinosaurus dulu atau bahkan hujan nuklir akibat negara-negara berebut wilayah di zona ekuator? Bisa juga karena virus atau bateri yang dimutasi oleh perusahaan farmasi jahat yang mengejar untung seperti tukang tambal ban yang sengaja menyebar paku? Atau karena kesalahan algoritma yang membuat robot perang malah menyerang manusia?

Apa pun yang menjadi sebab kemusnahan, para binatang lain sudah membayangkan, bagaimana indahnya bumi tanpa manusia. Tentu tidak butuh waktu lama untuk munculnya kembali taman firdaus yang lama hilang sejak Nabi Adam di-DO karena nekat melanggar perintah. Bagaimana jika tiba-tiba manusia di bumi ini musnah, diuraikan secara apik oleh Alan Weisman dalam bukunya The World With Us. Weisman menguraikan bagaimana bangunan-bangunan besar akan retak, runtuh, dan alam kembali kepada keseimbangannya—sebagaimana visi Thanos.

Ketika tidak ada manusia, jalanan kota akan retak. Rumput dan lumut akan menyeruak di antara retakan. Saat ruang di sela-sela retakan diisi air yang membeku, retakan itu akan bertambah besar. Dalam beberapa tahun, benih tanaman yang terbawa angin atau aliran air akan tumbuh dalam retakan itu dan membuat jalanan yang mulus menjadi lahan hutan baru. Binatang lain yang awalnya hidup di pinggiran kota atau hidup bersembunyi akan menikmati lingkungan baru yang lebih nyaman.

Infrastruktur dari logam, seperti jembatan baja atau struktur bangunan tentu lebih bertahan lama. Tapi bagaimanapun korosi akan membuat mereka runtuh juga. Dalam tiga abad, struktur keras itu akan runtuh saling tindih dan timbun. Polimer malah bertahan lebih lama dari logam, meski polimer mungkin tahan lama dari degradasi biologis tapi dalam beberapa milenium tekanan geologis mungkin membuat mereka berubah menjadi barang lain.

Jika tiba-tiba semua manusia musnah maka bumi akan kembali pada kondisinya sebelum manusia merajalela. Suhu global makin sejuk yang memungkinkan berbagai jenis tumbuhan kembali hidup. Siklus rantai makanan kembali seimbang karena predator utama—kita—hilang dan membuat binatang lain meningkat populasinya. Secara singkat dapat dikatakan, jika semua manusia musnah maka semua makhluk lain bahagia. Bahagia karena makhluk yang mengklaim diri sebagai ‘khalifah’ padahal cenderung merusak—tidak hanya lingkungan, bahkan merusak dirinya sendiri—itu tidak lagi memproduksi segala sa

*satu diantara 7,5 miliar manusia


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *