Berkenalan dengan Komunitas Literasi Janasoe (1)


Komunitas Literasi Janasoe, adalah sekumpulan orang yang suka membaca, ingin suka membaca dan mengajak kepada yang lainnya untuk suka membaca. Setelah bergerak secara sporadis, akhirnya komunitas ini menatata diri, supaya bisa lebih bermanfaat untuk masyarakat. Sederhana saja sebenarnya, mengajak untuk suka membaca. Sekumpulan orang tadi memilih untuk berjuang dalam sunyi, dalam menggerakkan buku, meskipun sederhana namun tidak sepi cita-cita.

Apa yang terlintas di fikiran saudara mendengar kata Janasoe? Pisuhan bukan? Kata-kata kasar, kata-kata jalanan? Kata-kata orang yang tidak berpendidikan mungkin, atau nga bermoral? Sudah-sudah, kami sudah terbiasa mendapatkan kritikan terhadap nama komunitas yang kami pilih. Kami bukannya anti terhadap kritik, lebih baik energi saudara untuk mengritik, dialihkan untuk bergerak bersama kami, dalam menghadirkan buku ditengah masyarakat. Itu lebih asyik dari pada mendebatkan sebuah kata. Hehehe.

Jalan nalar soeka-soeka, adalah kepanjangan dari Janasoe. “Berarti berfikir dan berpendapat bebas dong?”. “Ngawur ini namanya”. “Sudah nama yang dipakai adalah pisuhan, kepanjangannya pun sangatlah ngawur, nalar kok soeka-soeka”. “Blas nga mencerminkan kepribadian seseorang literat atau berpendidikan”. Hmmm. . . matur nuwun atas komentarnya saudara-saudara, hehehe.

Kami bukannya tidak mau menjelaskan atau mengklarifikasi nama Janasoe. Monggo-monggo saja saudaraku sekalian mau berkomentar seperti apa tentang Janasoe. Toh, kami tidak begitu soeka menjelaskan tentang tujuan dan diri kita yang baik, biarlah orang lain yang melihat apa yang kita lakukan. Kita lebih soeka bergerak, menggerakkan dan bergerak bersama. Kita mengurangi terlalu lama mendebat sesuatu diatas meja, namun setelah itu hilang begitu saja.

Pada tanggal 8-10 Desember 2017, salah satu penggiat literasi dari Janasoe mengikuti Kopdarnas Penggiat Literasi di Solo, Jawa Tengah. Kopdarnas Penggiat Literasi tersebut diselenggarakan oleh Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Saat itulah titik awal penataan terhadap Komunitas Literasi Janasoe.

Banyak pembahasan tentang gerakan literasi dan rencana kegiatan tindak lanjut yang digerakkan secara bersama-sama oleh alumni Kopdarnas tersebut. Salah satunya adalah Taman Pustaka. Secara eksponen, beberapa penggiat Janasoe adalah kader-kader Muhammadiyah, namun tidak menutup diri pada latar belakang organisasi yang lain. Karena pada prinsipnya, Janasoe duduk bersama semua golongan.

Komunitas Literasi Janasoe memang belum memiliki tempat tersendiri untuk menggerakkan gerakan ini, namun bukan berarti harus menunggu adanya tempat (sekretariat) kemudian baru bergerak. Justru sekretariat Janasoe adalah saat dimana kamu berada, dan disitu kamu mengajak orang untuk membaca dan meminjami mereka buku.

“Sekretariat itu penting, apalagi untuk menata buku-buku dan tempat untuk koordinasi”. Ya, sementara ini Komunitas Literasi Janasoe menggunakan salah satu sudut rumah kontrakan milik penggiat. Rumah tersebut beralamat di Somenggalan, Jambidan Banguntapan Bantul Yogyakarta. Rencana tindak lanjut dari Kopdarnas Penggiat Literasi adalah berjejaringnya taman pustaka binaan MPI PP Muhammadiyah, oleh karena itu, Komunitas Literasi Janasoe memiliki Janasoe Corner, sebagai pojok baca sebagai wujud nyata dalam pedulinya akan akses buku bacaan.

Sementara sampai disini dahulu perkenalan kita. Akan ada perkenalan selanjutnya melalui tulisan part 2 tentang “Janasoe dan pelaksanaan kata-kata” serta part 3 tentang “Janasoe antara harapan dan cita-cita”.

Sebagai penutup, mengutip syair Rendra,

“Kesadaran adalah matahari”
“Kesabaran adalah bumi”
“Kebenaran adalah cakrawala”
“Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata”.

Kami sadar, banyak orang yang belum bisa beruntung mendapatkan akses buku.
Kami sadar, orang yang mendapatkan akses buku dengan mudah, belum tentu mau membacanya.
Kami sadar, orang yang membaca belum tentu paham akan inti atau ide pokok yang dituliskan.

Kami sadar, dengan bergerak bersama, akan menjadikan buku bisa bermanfaat, bukan sekedar lembaran kertas yang tersusun.
Kami sadar, kami hidup ditengah-tengah masyarakat, oleh karena itu kami berusaha mengeluarkan cakrawala ilmu pengetahuan dari dalam buku, sehingga masyarakat bisa menjadi tahu dan mengerti.

Dan Komunitas Literasi Janasoe, adalah salah satu dari perjuangan pelaksanaan kata-kata.

Kehadirannya memang tidak menyerupai halilintar. Tapi lebih menyerupai suara katak yang lemah namun dapat memberikan harmonisasi alam semesta. Izinkanlah kami, Janasoe untuk menjadi bagian dari harmonisasi gerakan literasi di negeri ini.