6 menit waktu baca

Berjumpa dengan Dunia Buku

Oleh: Masmulyadi

Saya tidak tau persis sejak kapan menyukai dunia buku. Tapi setidaknya terdapat tiga fase dalam kehidupan saya yang merupakan momentum bagi tumbuhnya kecintaan pada dunia buku.

Pertama, fase di keluarga. Bapak saya seorang guru sekolah dasar. Suka dengan buku cerita dan roman. Setiap kali ia membaca buku cerita di sekolah. Ia kerap kali menceritakannya kepada saya dan adik. Saat itu, Bapak tugas di SD Inpres 9 Bonerate (6 jam ke Flores, dan 20 jam ke Ibu Kota Kabupaten kami di Selayar). Ia banyak waktu luang. Sehingga ketika pulang dari mengajar, ia acap kali membawa buku dari perpustakaan di sekolah. Sesekali saya melihat-lihat. Mula-mula pada gambar. Lalu beranjak pada cerita.

Kedua, fase sekolah di Benteng dan Makassar. Saat mau beranjak kelas dua SMA, saya mulai aktif di organisasi sayap Muhammadiyah; ketika itu, namanya Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM). Sebagai anak baru, saya sering melihat senior-senior saya membawa bacaan. Ada kalanya buku dan majalah. Seorang teman saya sering membawa majalah Kuntum. Majalah pelajar yang diterbitan oleh organisasi otonom Muhammadiyah itu.

Sementara aktivisme saya semakin intens, perkenalan dengan buku pun semakin menyala. Bahkan juga, ketika masuk kuliah. Sedikit demi sedikit, terpaksa membaca buku. Apakah karena kebutuhan tugas atau pekerjaan-pekerjaan lainnya yang menuntut untuk membaca buku, laporan dan jurnal.

Suatu waktu, saya mengunjungi sekretariat organisasi saya itu di jalan Gunung Lompobattang. Di Lombat – kami menyebutnya demikian – saya lihat senior-senior saya lagi asyik diskusi buku. Seorang yang saya kenal betul berbicara diantara mereka. Namanya kak Anca. Lengkapnya Hamzah Fanshuri. Waktu itu, kalau tidak salah yang sedang dibahas adalah buku tentang pembelajaran yang sedang trendy, yaitu “Quantum Learning”.

Buku yang ditulis oleh Bobbi Deporter dan Mike Hernacki itu mengajak pembacanya untuk menemukan formula yang tepat dalam belajar. Termasuk modalitas manusia yang memiliki beragam kecerdasan seperti visual, auditorial, kinestetik dan sebagainya.

Baca juga:  Elegi Sarjana Sandal Jepit

Di fase ini, saya kemudian mulai belanja buku. Area pergaulannya tidak banyak. Paling ke gramedia, toko toha putra, toko buku paradigma di mannuruki, dan toko buku di Pusdam, jalan perintis kemerdekaan.

Saya juga menjadi anggota dibeberapa perpustakaan. Di antara perpustakaan yang saya ikuti keanggotaannya ialah perpustakaan Provinsi di jalan sultan alauddin, perpustakaan Masjid al-Markaz dan tentu di kampus. Jadi anggota perpustakaan bisa menghemat. Cukup menyetor foto 2×3 dan mengisi formulir dan bisa pinjam 2 (dua) buku dalam seminggu atau dua minggu.

Buku-buku yang saya koleksi saya simpan di kostnya saudara Fajlurrahman Jurdi. Waktu itu, kami mau membuat semacam perpustakaan, biar bisa saling melengkapi. Ia yang suka bacaan filsafat dan hukum. Sementara saya mengoleksi buku-buku ilmu sosial dan politik.

Kitika pergi ke Yogyakarta buku itu tetap di kost. Hingga suatu ketika, banjir membuat buyar semua. Merusak buku-buku koleksi yang tidak seberapa itu.


Sastra, Politik, dan Feminisme

Ketiga, fase menjadi mahasiswa dan peneliti di Yogyakarta. Suatu keberuntungan bahwa saya diterima kuliah di Fakultas Pertanian UGM. Saya bisa menikmati menjadi aktivis di kota pelajar itu. Bisa mengakses buku dalam setiap pameran-pameran buku yang rutin di helat.

Setiap kali berkunjung ke kost teman-teman di Jogja. Selalu saya menemukan tumpukan-tumpukan buku dalam bentuk perpustakaan mini di kamar-kamar mahasiswa Jogja, kala itu. Dalam setiap kesempatan diskusi, mahasiswa dengan fasih menyetir teori-teori besar. Mulai dari agama jawa (abangan, santri dan priyayi) hingga teologi kiri.

Mula-mula saya melakukan apa yang pernah saya lakukan di Makassar; jadi anggota perpustakaan. Di UGM saya jadi anggota mulai dari perpustakaan jurusan, fakultas, pusat studi hingga tingkat universitas di jalan sekip.

Di luar, saya pun aktif jadi anggota perpustakaan Pemrov. Saya juga aktif jadi member di perpustakaan Karsa, disana saya bisa mengakses bacaan dengan topik desa dan agraria. Perpustakaannya terletak di Jambon, Sleman. Di situ saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam membaca buku bertema agraria dan desa. Berikutnya di perpustakaan Pusham UII di Gang Nakulo, Banguntapan, Bantul. Di perpustakaan ini banyak buku-buku Hukum, HAM dan ilmu sosial. Tidak ada batasan, berapa pun buku yang saya butuhkan boleh dibawah pulang. Asal dicatat. Ya memang saya jadi asisten peneliti di lembaga itu untuk isu-isu hak ekosob. Jadi leluasa pinjam buku. Apalagi pas klo ada kajian atau program penulisan.

Baca juga:  Kalau Saja Aini Jadi Dokter

***

Ekonomi, Biografi, Filsafat dan Hukum

Setelah mendapat uang, saya sedikit demi sedikit membeli buku. Mengumpulkan dalam tema-tema yang menjadi minat saya, yaitu: antropologi, sejarah, hukum, politik/pemilu, ekonomi dan tentu berkait dengan sosiologi pertanian dan desa.

Saya terinspirasi oleh pengalaman saya dengan kawan-kawan di Jogja, dulu. Pelan-pelan jumlah buku saya bertambah dari waktu ke waktu. Saya pun membuat semacam mini perpustakaan. Begitu juga teman saya, Nugi, Hendra atau David. Nugi menyebut mini perpustakaannya dengan markaz. Hendra juga demikian, koleksinya mungkin paling banyak diantara kami. David menyimpan bukunya di lembaga yang ia dirikan; Rumah Baca Komunitas. Saat ini mungkin koleksi buku saya ada 1000-an judul.

Saya percaya, peradaban dimana pun selalu berangkat dari buku. Di masa lalu, perpustakaan merupakan trendy dan kebanggaan bagi penguasa muslim. Kota-kota seperti Baghdad, Kairo, Damaskus, Cordova dan sebagainya adalah kota-kota yang kaya dengan gizi pengetahuan melalui penyediaan buku di perpustakaan-perpustakaan terbaik.

Coba kita lihat Bait al-Hikmah. Perpustakaan yang didirikan oleh Harun Al-Rasyid, khalifah ke-5 Dinasti ‘Abbasiyyah. Perpustakaan itu merupakan gabungan lembaga riset, koleksi buku, dan biro penerjemahan yang pertama-tama didirikan dalam peradaban dunia Islam. Lembaga ini didirikan tahun 216 H/830 M. Tetapi pasukan Mongol yang memasuki Baghdad pada tahun 656 H/1258 M membumi hanguskan kota itu. Khalifah Al-Mu’tashim, pun ikut dibunuh oleh Hulagu Khan. Bukan hanya merusak kota dan manusianya, tetapi Raja Mongol itu membakar dapur pengetahuan itu. Sakin banyaknya kitab yang terbakar sehingga sungai Euphrat di Irak berubah warna menjadi hitam karena arang kitab-kitab yang gosong terbakar di Bait Al-Hikmah.

Di Andalusia, Khazanah Qurthuba merupakan perpustakaan terbesar di zamannya. Koleksi bukunya mencapai 600.000 jilid. Al-Mustanshir yang memerintah (350-366 H) menugaskan staf-staf dan perwakilan di berbagai Kawasan negeri-negeri muslim di seluruh dunia untuk memantau setiap karya baru dari ilmuan-ilmuan muslim dalam semua disiplin ilmu.

Baca juga:  Musafir Pena dan Surat Kecil Titipan Tuhan

Demikian juga ketika al-Hakim di Mesir mendirikan Dar al-‘Ilm. Sejak awal, para sultan dari Dinasti Fathimiyyah mendirikan dalam konteks “bersaing” dengan dinasti Abbasiyah. Jika Baghdad punya Bait al-Hikmah, maka Mesir punya Dar al-‘Ilm. Dar al-’Ilm mengoleksi sebanyak 6.500 buku bertema astronomi, arsitektur, dan filsafat.

Di Eropa, perjumpaanya dengan Islam di abad ke 14 mengantar negara-negara di benua biru memasuki masa renaisans. Era yang menandai zaman baru pencerahan setelah keluar dari kabut kegelapannya. Semuanya juga dimulai dari perpustakaan dan perjumpaan dengan buku-buku. Era renaisans yang dimulai di Italia yang tidak bisa dilepaskan dari hubungan Sisilia dengan dunia Islam diabad pertengahan.

Apa makna semua itu, bagi saya tidak mungkin kita membangun peradaban tanpa kita berkenalan dengan dunia buku. Dunia bukulah kunci perjumpaan dengan pengetahuan. Apa pun itu. Jadi, memulai dengan mencoba mengembangkan mini perpustakaan untuk menyebarkan pengetahuan adalah titik awal menuju peradaban yang lebih baik.

Nun Walqalami Wama Yasthuruun


Koleksi Buku-buku Islam dan Sejarah (Kuasa Ramalan)


Situasi Klo lagi kerja


Koleksi Buku-buku Antropologi, HAM, Sosiologi (Pedesaan) dan Perikanan

Komentar Facebook Sobat Taman Pustaka
Kuy, berbagi...