Berdamai dengan Waktu dan Buku


Oleh : Roynaldy Saputro
Guru dan Pegiat Literasi

Suatu ketika sebuah buku bersandar lemas di pojok meja. Ku pandangi dia dengan penuh imajinasiku. Ku lihat covernya cantik, seakan- akan menggodaku untuk membacanya. Tapi kayaknya aku sudah pernah membacanya. Walaupun belum selesai. Dia tetap menggodaku, seakan-akan memintaku untuk menyelesaikannya. “Ayo masih ada beberapa halaman lagi yang belum kau ketahui tentangku”, katanya. Dia berlanjut, ” apakah kamu tega membiarkanku disini sendirian tanpa ada seorang yang menyelesaikan bacaannya di aku?”. Dia terus berceloteh.

Ku lihat waktu, waktu pun menggodaku untuk segera melakukan aktivitas lainnya. Masih banyak hal yang perlu dikerjakan. Begitulah kira-kira saran dari waktu. Seakan-akan dia berbicara melalui detak jarumnya, detik demi detik. “Ayolah pergi, cari hiburan lain, manjakan badanmu” begitulah kata si waktu. “Apa kamu tidak mau merawat tubuhmu? Dengan sedikit bersantai, ngemil makanan ringan, dan minum-minuman manis yang dingin “. Kataku dalam hati, dasar waktu. Andai aku tak butuh dirimu untuk hidup. Sudah kubuang kamu.

Waktu dan buku, menghadirkan perdebatan yang cukup rumit di otakku. Apakah aku harus lekas menuju aktivitasku selanjutnya ? Atau sedikit mengisi pengetahuan dari membaca buku ?.

Mungkin sekarang ini, aku sudah jarang menjamah buku. Karena aku kalah dengan waktu. Waktu membuat perutku terisi. Membuat badanku juga berisi. Tapi sayang, dengan waktu otakku tidak terlalu penuh terisi dengan pengetahuan baru. Waktu membuat nalarku semakin tipis. Karena ku isi dengan kegiatan tanpa penalaran yang logis. Adanya hanya bagaimana aku bisa hidup secara realistis. Itulah godaan dari waktu. Sempat berfikir apakah waktu luang adalah sebuah kemunduran bagiku sebagai manusia?

Sedangkan buku, masih ku ingat jaman dahulu, jaman idealisme masih menggantung di otakku hanya membuat tubuhku kering meronta. Perut kosong tak terisi seperti tengkorak yang berjalan diatas jalan gersang. Jalan yang sunyi, tak ada gaung suara yang bisa dinikmati. Tapi nikmat pengetahuannya terasa dalam otakku. Jodohnya buku dengan otakku. Otakku berjodoh dengan tanganku. Dan tanganku berjodoh dengan penaku. Hingga akhirnya, ideku yang berasal dari buku bertransformasi menjadi tulisanku.

 

Akhirnya aku memilih ” waktunya sekarang membaca buku”. Selamat, berjodohlah waktu dengan buku. Buku tak kan bisa dibaca tanpa waktu.

Waktu seakan berhenti, memberikan kesempatan padaku untuk memutuskan. Lebih ku pilih mana, waktu atau buku ? Aku coba bijaksana dalam memilih. Seperti apa yang di ajarkan pendahuluku untuk selalu berfikir bijaksana. Dalam mencapai pemikiran bijaksana, selalu diajarkan filsafat sebagai jalan menuju kebijaksanaan. Akhirnya aku memilih ” waktunya sekarang membaca buku”. Selamat, berjodohlah waktu dengan buku. Buku tak kan bisa dibaca tanpa waktu. Begitupun waktu membutuhkan suatu kegiatan yang bermakna, salah satunya adalah membaca. Membaca buku yang disuatu waktu dapat menajamkan nalar pengetahuanku sebagai manusia.

Masih ku ingat bagaimana tokoh bangsa, Moh Hatta memilih rela dipenjara asalkan bersama buku. Memilih ikhlas dalam menghabiskan waktu dipenjara dengan bersama buku. Ku ingat pula tokoh yang lain, tan malaka yang tak pernah menghabiskan waktu luangnya tanpa membaca buku.

Seperti itulah panutanku dalam berolahmanusia. Mencoba menghadirkan buku disetiap waktu. Sehingga aku, waktu dan buku selalu bersama dalam menuju hakikat kehidupan.

Tidak cuma diriku dan pendahuluku sukses mendamaikan waktu, buku dan dirinya. Akan tetapi sekarang manusia-manusia yang sukses dalam mendamaikan waktu, buku dan dirimya mulai menjamir diberbagai tempat. Persebarannya tak terbendung. Bagaikan jaringan yang rapi teroraginisir. Maka dapat kupastikan kebodohan, kemunduran dan keterbelakangan sebab karena sulitnya beberapa manusia mendamaikan waktu, buku dan dirinya akan diterangi oleh terangnya manusia-manusia yang berdamai dengan waktunya, bukunya dan dirinya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *