Berbahagia Menyambut Ramadhan


Oleh : Fikri Fadh*

Bertahun-tahun jadi perantauan – meski tidak jauh – saya bisa melihat berbagai jenis persiapan menyambut bulan Ramadhan.

Dari kota sampai desa, semua bersuka cita menyambut bulan Ramadhan. Bahkan kebahagiaan juga bisa kita lihat di televisi. Semua promosi jenis barang bisa menggunakan “promo edisi Ramadhan”. Tidak hanya di televisi, toko-toko juga membajiri dengan diskon “spesial Ramadhan”.
Sebagai pejuang perantauan, tentunya akan menemukan cara-cara yang membahagiakan dalam menyambut bulan Ramadhan.

Membeli tiket arus mudik dan arus balik.

Mudik merupayak kebudayaan dan pemandangan indah khas lebaran di Indonesia. Kalau kita cek web KAI, tiket untuk mudik dan arus balik bisa sudah ludes terjual jauh-jauh hari. Pihak KAI juga sudah menambah gerbong untuk menampung jumlah penumpang, yang berjuang menebus rindu dengan kampung halaman. Armada bus saat mudik juga ditambah. Yang sudah beroperasi di service lagi supaya tambah prima. Sopir pun di cek kesehatannya.

Berbeda halnya jika akan mudik menggunakan transportasi pribadi. Sepeda motor misalnya. Tidak begitu risau dengan ludesnya tiket kereta api, atau kapal laut. Cenderung lebih santai, menikmati Ramadhan di tanah rantau, dan pulang menjelang hari lebaran.

Ada juga yang memutuskan untuk tidak mudik. Banyak pertimbangan yang di lakukan. Baru masuk kerja atau memang belum lama meninggalkan kampung halaman. Mudik ke kampung halaman soal pilihan. Saat lebaran, mau melepas rindu berkumpul bersama keluarga, atau menahan rindu dengan mengambil sift kerja. Ini semua aku laukan demi kamu, de’. Hiks. . .

Giat bekerja, menanti THR.

Tunjangan Hari Raya. Siapa yang tidak menantikannya? Bahkan yang pengangguran pun berharap turunnya THR dari langit. Tunjangan hari raya bisanya diberikan menjelang hari lebaran. Bagi yang menjadi karyawan pasti harap-harap cemas. Apakah akan ada THR tahun ini? Semoga ada. Itu adalah rezeki setelah lelah bekerja. Giatkan bekerja, Insya Allah upah akan mengiringi. Kecuali juragan mu kecu. . .

Berjualan makanan untuk takjil.

Tidak hanya toko yang membanjiri dengan diskon saat Ramadhan dan menjelang lebaran. Di pinggir-pinggir jalan, akan berjejer meja-meja sederhana. Diatasnya berjajar kolak pisang, kolak biji salak, sup buah, gorengan, arem-arem, tahu bakso, dan beraneka macam menu takjil khas Indonesia.

Beberapa ruas jalanan juga mendeklarasikan diri sebagai kampung Ramadhan. Akan terjadi kemacetan di jalan tersebut menjelang buka puasa. Jangan sesekali melwati jalur tersebut jika buru-buru. Orang yang berjubel disitu mau beli makanan untuk takjil, jadi harap maklum jika tidak kondusif. Silakan cari jalur lain. SAG lurrr. . .

Red : di kota Jogja kita akan menjumpai itu di Jalan Nitikan, Jalur Gaza (Masjid Jogokaryan) dll.

Takjil hunter.

Sebuah misi mulia yang hanya bisa di jalankan saat bulan Puasa. Misi itu adalah menjadi seorang takjil hunter. Waktu dan kostum untuk beroperasi pun khusus. Tidak sembarangan bisa dilakukan, harus mengetahui juga lokasi target operasi. Perlu diketahui juga, point yang didapatkan banyak atau tidak di lokasi tersebut.

Waktunya dimulai saat mata terbuka setelah terlelap dalam keadaan perut kosong. Saat mata terbuka, pastikan itu setelah adzan ashar. Jika masih setelah adzan duhur. Lanjut lagi. Setelah itu mandi. Ingat ya, mandi. Kemudian pakailah pakaian yang pantas atau menyerupai orang yang hendak pergi mengaji. Pakailah peci. Kalau tidak, itu rambut yang gondrong dikucir rapi.

Berangkatlah menuju lokasi yang sudah di cek pointnya. Lokasinya tidak lain dan tidak bukan adalah masjid. Saat ini sudah banyak masjid yang menyebar jadwal takjil. Nah, tu. . . cek aja hari itu menu takjilnya apa. Ajaklah teman, meskipun kalian seorang takjil hunter, pergi sendirian itu berat. Selamat berjuang wahai takjil hunter. Semoga puasamu tidak bolong. . .

Memanjatkan do’a yang sulit-sulit.

Ini yang berat. Bagi jomblo yang menjelang menyempurnakan separuh agama setelah Ramadhan. Do’a yang di panjatkan lebih sulit dari biasanya. Tarawihnya pun tidak pernah absen. Bahkan sholat subuh berjamaah tidak pernah ditinggalkan. Setelah melaksanakan sholat-sholat wajib, berdo’anya lebih lama dari biasanya. Biar tidak usah menghafal, buat catatan kecil daftar do’a, harapan apa yang kamu harapkan setelah lebaran nanti.

Selain memenjatkan do’a yang sulit-sulit. Siangnya pun giat dalam bekerja. Semoga sebongkah berlian, engkau dapatkan. Selamat Ramadhan kawan.
———————————
*Penulis adalah Kepala Suku Janasoe


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *