Berbagi Sampai Senja Lagi


Oleh: W. Yono (Pelapak Di Rumah Baca Cahaya Lamongan)

Dunia ini memang sudah berusia senja. Sudah renta. Sehingga banyak prediksi-prediksi yang bermunculan terkait dengan the end of the world. Mulai dari suku Maya di belantara Amerika sampai Ponorogo di pelosok Jawa Timur. Namun tidak demikian yang berkecamuk di benak kawan-kawan dari Lazismu PDM Lamongan. Meski dunia sudah berusia senja. Meski senja mulai rembang petang, mereka justru membentangkan terpal panjang yang diniatkan sebagai wakaf peradaban –begitu istilah mas Irvan Shaifullah- karena memang terpal itulah yang akan dipakai Rumah Baca Cahaya sebagai layar untuk melajukan perahu pustaka menggerakkan pengetahuan, menebarkan kegembiraan dan merumbai kebaikan.

                          000

Irvan Shaifullah –sosok pemuda pilih tanding- yang mengabaikan ‘virus Dilan’ untuk bersikukuh di jalan sunyi. Jalan filantropi. Bersama kawan-kawannya menggerakkan Lazismu (Lembaga Amil Zakat, Infaq, Shadaqah Muhammadiyah) . Mengkreasi kegiatannya sehingga manfaat yang diakibatkannyapun bisa beranak pinak dan berjuntai-juntai. Sore itu, dengan berbekal buntalan-buntalan kegembiraan disertai dengan semangat Iqra’ dan Ghirah Al-Ma’un, mereka mengumpulkan anak-anak untuk ditularkan semangat belajar, semangat menatap masa depan dan semangat berbagi.

                          000

Di Lapak Rumah Baca Cahaya sore itu sangat ramai. Seperti biasa. Setiap Jum’at dan Minggu sore selalu diselenggarakan perayaan pengetahuan. Apapun profesi, status sosial dan afiliasi politiknya semua tumpah ruah berkumpul dan bergembira bersama. Namun sore itu tampak lain. Disamping aktifitas membaca dan mewarnai gambar, ada sekelompok anak-anak yang sudah duduk melingkar menunggu diberi santunan. Namun sebelumnya masing-masing ditanya oleh mas Irvan tentang cita-citanya. Sebagian menjawab ingin jadi dokter, pilot, guru, pemain sepakbola. Ada yang menjawab ingin jadi petugas pemadam kebakaran bahkan ada yang ingin jadi seperti tiang lampu jalan raya yang kokoh memberikan penerangan bagi pejalan raya. Cita-cita yang luar biasa. Sungguh !

                          000

Ada tiga simbol yang dibawa kawan-kawan Lazismu Lamongan sabagai santunan. Pertama, mereka-anak-anak yatim dan miskin- itu diberikan tas sekolah sebagai simbol bahwa pendidikan adalah salah satu ikhtiar untuk memutus mata rantai kemiskinan sekaligus sebagai senjata untuk memberdayakan diri dan sesamanya. Kedua, celengan. Masa depan itu harus dipersiapkan. Dengan diberikan celengan harapannya anak-anak itu gemar menabung sekaligus menggerus kebiasaan konsumtif. Dan dengan berlatar di Rumah Baca Cahaya, bahwa kebiasaan membaca adalah tabungan untuk meraih pengetahuan. Ketiga, amplop yang berisi rupiah. Bukan jumlah nominalnya yang utama –karena mungkin hanya cukup untuk jajan- tapi bahwa rupiah yang mereka terima itu adalah hasil yang dikumpulkan oleh Lazismu Lamongan dari umat Muslim yang wajib zakat dan gemar infak dan sedekah. Bahwa ketika kelak mereka ditakdirkan tumbuh sebagai orang-orang kaya maka mereka akan tergerak untuk berzakat, berinfak dan bersedekah dengan sesadar-sadarnya. Bahwa berbagi itu adalah kebutuhan.

                             000

“ Bu, besok RBC ada kegiatan bersama dengan Lazismu Lamongan, barangkali berkenan berpartisipasi memberikan hadiah kecil untuk anak-anak yang mewarnai ? “ kulempar tanya pada seorang ibu guru SMP Mutu Blimbing. “ Ya Allah…..kok baru ngomong sekarang. Ya sudah besok tak siapkan hadiah” sahut ibu itu diujung handphone rentanya. Uhuy….Pempek Bu Wida akhirnya ikut juga meramaikan. Dan betul esoknya beberapa hadiah sudah diantar ke rumah oleh bu Wida Idianingsih yang beberapa kali juga ikut menjadi relawan mengajarkan anak-anak bahasa Inggris. Disamping lomba cipta puisi yang hadiahnya disediakan oleh pihak Lazismu juga dipilih beberapa karya anak yang bagus mewarnainya yang hadiahnya sudah disiapkan oleh pemilik Pempek Bu Wida.

                               OOO

Acara semakin ramai dengan “turun gunungnya” owner Bumbu Rujak Cahaya ibu Eni Muha yang dibantu sebagian pengunjung untuk menyiapkan rujakan “ditakir” dan disantap bersama-sama. Beliau rela meninggalkan tugas rutinnya di rumah untuk ikut menyemarakkan acara.

                         000

Berbagi di senjakala selalu menggembirakan
Puisi-puisi kemanusiaan harus dideklamasikan ke segala penjuru mata angin
Kebaikan-kebaikan harus senantiasa ditebarkan
Biar baik itu betul-betul baik
Bukan dibaik-baikkan
Dan buruk benar-benar buruk
Bukan diburuk-burukkan.

Terima kasih mas Irvan Shaifullah dan kawan-kawan Lazismu Lamongan
Terima kasih bu Wida Idianingsih dengan pempeknya
Terima Kasih bu Eni Muha dengan Bumbu Rujak Cahayanya
Terima Kasih para donator buku yang terus mengalirkan pengetahuan sampai di ujung pantura
Terima Kasih Bang Nirwan Ahmad Arsuka I dengan Pustaka Bergeraknya
Terima Kasih Bung David Efendi dengan Serikat Taman Pustakanya
Terima kasih PT. POS dengan layanan kirim buku gratisnya
Terima kasih Kemdikbud dengan bea kirimnya.
Terima Kasih relawan atas jerih payahnya
Terima kasih para pengunjung yang rela menjadi Sahabat Rumah Baca Cahaya
Terima kasih Ya Allah atas kegembiraan dan kebahagiaan yang Engkau susupkan dalam sanubari kami.

Edisi Jum’at, 22 Maret 2019

Rumah Baca Cahaya

Rumahnya Ilmu Pengetahuan Baca dan Pinjam Buku Gratis Setiap Jumat dan Minggu Sore Di WBA


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *