5 menit waktu baca

Belajar “Puasa” dari Cak Nun

Catatan untuk Milad ke-67 Emha Ainun Nadjib

Hendra Darmawan*)

 

(Speech is Silver, silence is golden) 

Dalam Tradisi Islam, diam juga sangat dianjurkan untuk dilakukan “Man kaana yu’minu billahi wal yaumil aaakhir, fal yaqul khoiron au liyashmut– barang siapa yang yang beriman kepada Alloh dan hari akhir hendaklah ia berkata yang baik, jika tidak maka diamlah”, tercatat dalam sebuah tradisi profetik. Dalam Sebuah ayat “…alla tukallimannaasa tsalatsata ayyamin illa romzaa (Q.S Ali Imran 41) Dan janganlah sekali-kali engkau berkata pada manusia selama tiga hari kecuali dengan diam”, sebuah tirakat yang dilakukan jelang bermunajat kepada Alloh untuk meminta sesuatu yang sudah lama diidam-idamkan. Diam yang penuh makna, diam dalam dzikir dan pikir.

Dalam tradisi Islam, jika seorang wanita telah dikhitbah, lalu wanita tersebut terdiam, itu menandakan bahwa diamnya adalah jawabannya “..sukutuha jawaabuha”. Dari sisi pembelajaran Bahasa, Bao (20150 menulis sebuah buku yang diterbitkan Bloombury. Belia mengelabora dan melakukan penelitian tentang “Diam” sebagai bagian dari proses pembelajaran Bahasa, khususnya terkait dengan latar belakang kebudayaan seseorang, beliau meneliti orang Australia, China, Jepang, korea dan Vietnam. Sungguh dari beberapa catatan diatas perlu digali kembali kedudukan diam dalam budaya kita, ada keunikan-keunikan yang bisa kita ungkap.

Emha dan Jalanan Malioboro

Pada saat tahun 70-an, Jalan Malioboro merupakan tempat banyak seniman berkumpul, beraktualisasi diri, berproses kreatif, mencari inspirasi, menulis puisi, cerpen,, pementasan dan lain-lain. Emha juga bergumul didalamnya menjadi bagian dari insan kreatif di jalan malioboro.

Saat proses kreatif itulah, Seorang Umbu Landu Paranggi sudah tenar, dengan puisinya dan kepiawaiannya. Umbu sudah memiliki nama besar sebagai penyair. Sebagai pendatang baru, Emhapun ingin menimba ilmu, belajar berproses kreatif mencipta karya, puisi salah satunya.

Baca juga:  Cerita Semangkuk Manyung di Blimbing

Soal “Puasa” khususnya puasa Bicara. Sikap Emha terhadap Umbu yang sudah beken kala itu, Emha mengedepankan ketakdzimannya terhadap umbu, mendekat, belajar dan ingin dianggap sebagai muridnya, seperti relasi Murid dan Suhunya dalam bidang Kesusastraan.

Seperti yang penulis dengar dalam sebuah forum, Emha sejak sore hari jam 5 mulailah ia bersama Umbu nongkrong di sebuah warung  kecil, anggap saja sebuah angkringan. Disitu Emha duduk berjejeran dengan pembeli-pembeli yang lain, sedangkan Umbu disebrangnya. Layaknya orang yang akan berkomunikasi dan berbicara dua arah. Tetapi apa yang terjadi, emha yang kala itu menikmati waktu, menikmati kebersamaan itu, disambi makan alakadarnya, menghisap rokok (udad-udud) dan lian-lain. Sungguh yang Emha tunggu adalah kata-kata Umbu, dawuh, arahan, atau petuah atau apapun yang Emha siap mendengar dan melaksanakannya. Ternyata tidak ada kata-kata yang keluar dari lisan Umbu sejak jam 5 sore sampai jam, 12 malam. Jadilah Emha “puasa” bicara, termenung, membatin, entah apa yang beliau pikirkan. Mungkin itu bagian dari proses kreatif agar seorang seniman tidak banyak bicara dan banyak merenung untuk menghasilkan sebuah karya yang otentik dan menggugah.

Setelah pukul 24.00 lewat, muncullah Mobil entah dari mana, enatah mobil itulah yang Umbu tunggu sejak lama atau apa. Umbu berkata “Nun kuwi mobile wes teko, ayoo”. Hanya kalimat pendek itu yang diucapkan Umbu pada Emha dengan durasi waktu tujuh jam menunggu dan membersamainya. Emhapun termenung, sopo wonge sek kuat sinau kalian Mas Umbu. Lek kudu nyenyet, poso wicoro berjam-jam tanpa sebuah arahan, meski Emha sangat berupaya menjalani hal ini. Tetapi over all, Emha tetap takdzim pada gurunya tersebut, entah gurunya menganggapnya murid atau tidak.

Baca juga:  Toko Buku Lawas

Perkenalan dengan Emha

Saya mulai mendengar nama Emha Ainun Nadjib sejak di pesantren, kebetulan pesantren saya adalah pesantren alumni Gontor, dan saya tahu Emhapun pernah nyantri di Gontor. Bahkan komunitas seni dan teater di Pesantren saya sempat membuat grup Namanya “Santri Sultan”, semacam grup yang juga mengadaptasi grup “Kyai Kanjeng”. Saat saya menjadi santri, itulah masa jagat pemberitaan dihebohkan dengan berita proses pernikahan Emha Ainun Nadjib dengan Novia Kolovaking (Pemeran Siti Nurbaya dalam film populer zaman TVRI).

Setelah lulus pesantren, saya kuliah di UAD, say berjumpa dengan Pak Dekan Jabrohim, seorang pegiat seni sastra, sahabat Emha Ainun Nadjib, bhakan Emha juga menggawangi dan mengembangkan aktivitas satra di IKIP Muhammadiyah sampai melahirkan sastrawan-sastrawan handal kenamaan seperti Ahmadun Yosi Herpanda, Joni Ariadianta, Evi Idawati, Rina Ratih dan lain-lain. Hampir semua sastrawan kenamaan Indonesia pernah singgah ke UAD yang dulu IKIP Muhamamdiyah itu.

 

Pak Jab lah yang juga makin mengenalkan saya dengan karya  Caknun, dan berjumpa bebrapa kali dengan beliau, bertambahlah semangat saya dan kekaguman saya pada Emha.

Emha mempopulerkan hal-hal yang sacral untuk diprofankan, membahasan yang tabu dan melahirkan banyak istilah yang lebih mengena secara subsatntif bagi pemabaca dan pendengar.

Sebagai contoh, Emha mengenalkan istilah Kyai Talang, kyai Ceret dan kyai Gentong. Tipikal para guru yang memposisikan dirinya dengan diantara istilah tiga itu. Emha memposisikan diri tidak dengan tipikal tig aitu, agar si pembelajar, si pendengar dengan poal relasi antara guru dan murid.

Emha Kini

Ribuan tempat sudah beliau kunjungi bersama Kyai Kanjeng, mulai dari seantero Indonesia sampai luar negri, Eropa dan Australia, Mesir dll. Hadir sebagai sosok yang berupaya untuk lebih banyak mendengarkan audiencenya, mendengarkan pembicara yang lain, setelah itu beliau baru bicara, hadir untuk menggembirakan banyak orang (tabsyir), mengokohkan optimisme, mengakurkan pihak yang berkonflik dan lain-lain. Hidupnya dihabiskan untuk orang lain (…anfauhum linnaas), terlebih memberi nama ribuan bayi yang lahir kedunia.

Baca juga:  Muslim Tanpa Buku: Orasi Literasi Kebudayaan Fikri Fadhilah

Sungguh Emha dan Kyai Kanjeng juga telah menjadi inspirasi bagi banyak orang, inspirasi penelitian ilmiah untuk karya-karya mulai dari skripsi, tesis dan disertasi di banyak kampus baik dalam negeri maupun luar negeri.

Setahun yang lalu, penulis berkesempatan muhibah ke Belanda berjumpa Mas Kariem, seorang mahasiswa University van Amsterdam yang sedang menulis disertasinya tentang Emha Ainun Nadjib dan komunitas Maiyah se-Nusantara dan bahkan yang ada di luar negri. Bahkan juni 2020 ini beliau telah merencanakan International conference tentang Indonesia, Emha dan Kyai Kanjengpun sudah menyetujui dan bersedia hadir dalam acara tersebut. Namun taqdir berkata lain, karena pandemic Covid-19 rencana tersebut ditunda. Kita berharap penelitian terkait Emha dan Kyai Kanjeng segera kelar dan dapat kita baca hasilnya.

Ini menjadi bagian penanda kebermanfaatan dan capaian-capaian yang telah diupayakan beliau dengan penuh keistiqomahan. Melintasi Suku dan ras, melintasi agama dan terus berupaya mewujudkan visi Rahmatan Lil alamien yang berkemajuan.

Sanah Helwah Miilaadukum saeed, sugeng tanggap warso Mbah Nun yang ke 67.

 

*) Dosen PBI UAD, Pengampu mata kuliah Sastra, Alumni American Studies FIB UGM.

Komentar Facebook Sobat Taman Pustaka
Kuy, berbagi...