Bangkitnya Gerakan Literasi Muhammadiyah


Ada kata-kata yang dijadikan pegangan di kalangan orang Muhammadiyah saat Haedar Nasir berkomentar tentang reuni 212. “ Mengumpulkan orang untuk berdemo lebih mudah daripada mengajak orang untuk membaca di perpustakaan”. Apa yang ditangkap oleh Ketua umum Muhammadiyah Haedar Nasir kemudian diejawantahkan oleh sekalangan anak muda untuk berinisiasi menyelenggarakan KOPDARNAS Penggiat Literasi. Acara dihadiri dari ratusan orang dari anak muda di kalangan Muhammadiyah, organisasi MPI (Majelis Pustaka dan Informasi) hingga pegiat literasi di berbagai kalangan di seluruh Indonesia.

Ada berbagai sesi di acara ini, dimulai semenjak tanggal 8-10 Desember 2017. Di berbagai sesi itulah dibahas persoalan literasi, dinamika literasi komunitas, sampai dengan problem literasi yang bisa diselesaikan bersama-sama. Ada geliat di kalangan Muhammadiyah untuk menepis bahwa literasi di kalangan Muhammadiyah kurang ramai, atau menurun.

Anggapan ini hendak ditepis oleh anak-anak muda Muhammadiyah melalui payung Majelis Pustaka dan Informasi untuk terus menggerakkan literasi. Ada upaya untuk mendekatkan buku kepada lebih banyak pembaca. Salah satu hal yang hendak diupayakan adalah menggiatkan seribu taman pustaka di setiap cabang, bahkan ranting di seluruh organisasi Muhammadiyah.

Sebagai organisasi besar, tentu saja Muhammadiyah tak bisa bergerak sendiri. Karena itulah, di Kopdarnas yang diisi oleh berbagai sesi diskusi itu, Kopdarnas menghadirkan tokoh atau pegiat, serta lembaga yang bisa digandeng bersama bergerak. Mengusung tiga kalimat pendek berkumpul, berbagi dan bergerak bersama Kopdarnas menghadirkan Nirwan Ahmad Arsuka dari Pustaka bergerak, dari Lazismu, hingga pihak dari Perpustakaan Nasional.

Ada tiga elemen penting dalam Kopdarnas literasi yang saya rasa cukup untuk mewadahi dan bergerak bersama dalam misi literet itu. Diantaranya adalah dari kalangan perguruan tinggi dan perpustakaan kampus, dari pegiat literer di sekolah dan perpustakaan sekolah, serta komunitas literasi. Muhammadiyah melalui forum Kopdarnas Literasi itu menghasilkan keputusan untuk bergerak bersama di bidang literasi dengan mendirikan organisasi dibawah koordinasi Majelis Pustaka dan Informasi bernama “Sarekat Taman Pustaka”. Ada harapan besar, ketika nanti Muktamar Muhammadiyah yang rencananya akan diadakan di Solo, akan menjadi pesta buku dan rasa syukur bersama dalam menggembirakan gerakan literasi. Para tokoh, para aktifis, hingga elemen yang ada di Kopdarnas Literasi memiliki komitmen bahwa literasi bisa digerakkan oleh siapa saja. Dan kopdarnas literasi tak sekadar menjadi forum kumpul bersama semata.

Pertemuan gagasan, ide, serta langkah untuk bergerak bersama itulah yang setidaknya bisa kita sulut dari acara Kopdarnas Literasi. Ada banyak pengalaman dan tukar gagasan dari Kopdarnas Literasi. Di Jember misalnya, ada sekelompok anak muda yang bergerak untuk memutus rantai buta huruf di kota itu yang paling buruk di Indonesia. Di Yogyakarta, ada Rumah Baca Komunitas (RBK), di Lampung ada taman baca yang bahkan punya usaha ekonomi.  Dari pengalaman-pengalaman pegiat literasi itulah, Kopdarnas bisa saling membagi ide, saling bekerja bersama dan bergerak bersama demi memupus anggapan atau mitos literasi Indonesia yang masih rendah.

Di Solo sendiri, ada Bilik Literasi Solo, ada Koperjas (Komunitas Perpustakaan Jalanan), ada juga Rumah Baca Srawung, hingga Pondok Filsafat Solo. Komunitas ini memang tak hanya menerbitkan bulletin, mendekatkan buku pada semua, dan juga berharap literasi menjadi milik semua.

Diserap dari gagasan Dauzan Faruuk seorang bapak tua yang menjadi penggerak literasi di Yogyakarta, Kopdarnas Literasi mengusung misi bahwa semua orang bisa menjadi penggerak literasi. Ada harapan pula, setelah acara Kopdarnas literasi, selain dibentuk per-rumpun untuk saling bergerak bersama. Ada wadah melalui web yang sedang di garap MPI (Majelis Pustaka dan Informasi) untuk mewadahi tulisan, dan menggerakkan peserta Kopdarnas pada khususnya untuk bersama membaca dan menulis.

Teknologi dan Ruang Bertemu Gagasan

 

Kita memang sadar, kini, melalui teknologi, ada jalan untuk saling berkomunikasi, serta membagi gagasan. Melalui Whatss app  saja misalnya, kita bisa mempertemukan ratusan orang pegiat literasi di seluruh Indonesia untuk berkumpul di Kopdarnas. Sarekat Taman Pustaka pun demikian halnya. Setelah acara Kopdarnas Literasi para peserta bisa saling berkabar serta membagi kegiatan literer di komunitas, sekolah, hingga kampus.

Dari komunitas, sekolah, serta pegiat literasi di perguruan tinggi bila terjadi sinergi tentu akan menjadi kekuatan besar dalam bergerak bersama di kalangan pegiat literasi. Cara Kopdarnas Literasi untuk berkumpul bersama serta saling membicarakan agenda bersama meski melalui jalan teknologi tak bisa dinafikkan. Teknologi disini, hanya sebagai jalan untuk bertemu di ruang nyata untuk saling membicarakan agenda literer. Disini, teknologi tak dipandang sebagai suatu masalah sebagai sarana penghubung dan menggerakkan.

Melalui WA group misalnya, kita bisa saling mengingatkan dan menangkal untuk berhenti dan melawan bersama penyebaran hoax atau berita bohong. Disinilah kiranya pentingnya komunikasi di kalangan sesame pegiat literer.

Ada misi dan jalan panjang setelah Kopdarnas Literasi, berbagai kelompok dari kalangan sekolah, perguran tinggi dan komunitas itu saling berharap bisa meramaikan gerakan literasi melalui buku yang bisa dibaca dan dibagi bersama dibawah payung Muhammadiyah.

Tentu saja kelak kita bisa membuat media atau sarana alternatif bersama sebagai wadah untuk menulis dan membaca bersama selain dari media yang sudah ada seperti Suara Muhammadiyah, Majalah Tabligh, Majalah Kuntum, atau majalah dari sekolah-sekolah Muhammadiyah.

Ada suara yang lain dari cara Muhammadiyah bergerak, yang selama ini dipandang cukup mumpuni di mimbar dan khotbah, Kopdarnas Literasi adalah muadzin untuk bersama bergerak dan saling berbagi di kalangan pegiat literasi. Cara ini barang kali lebih radikal dari gerakan teroris yang identik dengan mengalahkan musuh dengan bom. Kopdarnas Literasi mencoba untuk menembak krisis literer dengan bersama melawan musuh utamanya yakni “kemalasan”. Ada berbagai model gerakan literasi yang tak hanya mendekatkan buku, menulis bersama, tapi juga menjembatani menyelesaikan persoalan literasi yakni membentuk kesadaran bersama.

 

ARIF SAIFUDIN YUDISTIRA .

Adalah Alumnus UMS, Pengasuh MIM PK KARTASURA,  Lahir 30 juni 1988, bermukim Kartasura, Essainya termuat di beberapa media massa seperti : Jawa Pos, Koran Tempo,  Radar surabaya, Suara Merdeka,Koran wawasan,  Koran Jakarta, Harian joglosemar, Solo  pos, Media Indonesia, Lampung post, Kendari pos, Majalah bhinneka, Majalah papyrus, Bulletin sastra  pawon,  Koran  opini.com, gema nurani-com,Suara muhamamdiyah dan  lain-lain. Ikut menulis dalam buku Manusia = puisi(2011) dan ”Aku dan buku” pawon (2012) .Buku puisinya Hujan ditepian tubuhditerbitkan di greenta jakarta(2012) buku terbarunya Mendidik Anak-Anak Berbahaya (2014) dan Penjara Perempuan (2014) Aktif di kegiatan sastra komunitas sastra pawon solo, pengajian jum’at petang, Presidium kawah institute Indonesia dan Pegiat di Bilik literasi Solo