Badai Perjuangan: Puisi-Puisi Nurhayati

Badai Perjuangan

Semangat merah jambu membuai langkah tegapmu
Menjilati tiap sudut kota dengan salam literasimu
kau kibaskan malam yang tempo hari menggerutu
Menjadikan sisa tenaganya sebagai abdi
Memberi ruh jihad dibalik sanubari
Meninggalkan bekas kebiadapan waktu
Menata dan mendaur ulang buku

Berminggu-minggu kau menghitung tiang pemerintah
Mencari sendi kemerdekaan yang terjarah
Begitulah fitrah cinta ksatria
Melahirkan sayap sayap wahyu Tuhannya

Naluri yang hidup
Bukanlah keheningan semata
Kiblat dan kalbu
Membentuk kumparan siang malam mu

Dalamnya amanah disaku
Dangkalnya simpul takut yang terancam
Tidak sejengkal pun mengurangi kekuatan
Atau menghapus
Irama darah juang.

Sidoarjo, 17 Desember 2018

 

Ada kerlip bintang bersembunyi
Dibalik aliran sungai yang deras
Dibawah bebatuan cadas
Menengok keatas langit
Dengan jari tergigit

Ada langkah langkah kerdil
Menghapus jarak meski menggigil
Menggenapkan arti kesunyian
Menitikkan ma’na kerinduan

Ada protes matahari
Juga demo dan perlawanan dikaki gunung
Ada bau keringat berlutut abdi
Mengais lunaknya hati
Menepiskan segenggam janji

Ini bukan kejahatan
Hanya saja belum bersatunya merah putih
Ditengah hutan dan lautan
Ditanganmu jalan keseimbangan

Anak anak itu menghayati sebuah kemungkinan
Diatas dedaunan kering yang mereka duduki
Mereka tulis ” sejarah itu kejam ”
Lihat air mata mereka
Berjongkok ditepian sungai
Tak hanya menjemput ratapan tapi menunggu kepastian

Lalu kau datang membuat rencana
Kebajikan itu bukanlah angan angan
Lesu letih menyapa
Kau pangku zaman dengan nyanyian
Cucu cucuku, kuhadiahkan padamu masa depan

Dan mereka memeluk kardus kardus lusuh
Bola bola kemajuan
Mengibarkan bendera pertahanan
Melawan kebodohan
Mengawini buku buku

Kau mulai sadar
” Ini memang tugasku”

Sidoarjo,16 Desember 2018

Categories Puisi

Leave a Comment