Ayat-Ayat Pustaka Bergerak


Perlu sekiranya kita arisan ayat ayat dan Hadis yang menjadi penguat hati dikala tergoda kegundahan dan involusi atau stagnasi di dalam mengupayakan kerja kerja literasi. Saya ingin sekali memberikan satu judul buku jika sudah terkumpul seribuan ayat dengan judul: “Ayat Ayat Pustaka Bergerak, Panduan Mati Husnul Khotimah ala Pegiat literasi

Sebagai draft satu bentuk esai, saya beranikan diri inilah pemandu kita, ayat ayat pustaka bergerak:

1. Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang rutin dilakukan meskipun sedikit.” (HR. Muslim). Dari sinilah semangat donasi dan melapakkan buku buku sebagai bentuk ibadah kaum beriman yang sangat kontemporer.

2. “…Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah… ” Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhâri (no. 1427) dan Muslim no.1053 (124). Hal ini memberi pijakan amalan bahwa donatur buku dan penyedia lapak bacaan buku gratis adalah golongan tangan di atas. Sementara pembaca adalah pembelajar. Allah akan mengankat derajat para pengguna peminjam buku di perpustakaan informal yang disediakan.

Paling susah itu, orang bicara minat baca rendah tapi tak melakukan apa pun. Sementara kita diharapkan lebih baik menyalakan api ketimbang mengucap sumpah serapa atau kabar angin yang menjadikan orang lemes atau orang tak punya harapan akan kehidupan yang lebih baik. Buta huruf, minat baca rendah, dan perengkingan lain kerap kali hanya sebagai hukuman ketimbang apresiasi, lebih sebagai manipulasi dan generalisasi ketimbang rencana transformasi.

3. Sebaik-baik teman duduk pada setiap waktu adalah buku (pepatah arab). Jadi seorang pegiat literasi setidaknya selalu punya banyak teman teman terbaik dalam hidupnya yang kelak akan memuliakan hidup di dunia fana dann di tahap hidup berikutnya. Orang orang yang menjadikan pengetahuan sebagai teman terbaik adalah wajah-wajah yang penuh cahaya.

“Kalau anak indonesia tidak suka baca iku bohong cak, hoax paling nyata.” Selama kalimat ini membuat kita tekun bergerak, shahih. Ini salah satu dari banyak pandangan pegiat literasi tentang tuduhan minat baca rendah. Banyak pelaku di lapangan mengatakan tidak pada hukuman minat baca rendah oleh UNESCO yang diviralkan kemana-mana yang menjadi konten disinformasi. Seorang pegiat literasi teman saya di Ponorogo Jawa Timur menyatakan testimoninya: “salah satu bukti bantahan bahwa indonesia minat baca rendah itu hoax… ponorogo pesta sejuta buku selama 5 hari digelar mulai hari pertama sampai saat ini masih sangat ramai berjubel melebihi ramainya penjual sayur.” Juga, saya saksikan sendiri banyak sekali lapak bacaan gratis dikerbungi orang. Salah satunya yang setiap pekan saya lihat di group WAG pustaka bergerak, serikat taman pustaka, dan sebagainya. Gempa literasi terjadi hampir setiap waktu.

Sampailah pada satu keyakinan aktual bahwa fonis indonesia punya minat baca rendah adalah hukuman ketimbang sebuah ajakan kerja transformatif. Lebih pada stereotip ketimbang obyektifikasi, lebih sebagai manipulasi statistik daripada karya ilmiah. Jangan bicara orang orang kota yang tak peduli buku dan pengetahuan, sampailah di sini keyakinan masih jutaan anak bangsa mengantri bacaan tanpa kepastian. Kitakah orangnya yang kerja sedikit memperpendek shof shof antrian dari sabang sampai merauke?

Fakta hari ini pergerakan buku pengetahuan telah menjadikan UNESCO kehilangan relevansi perengkingan minat baca. Pantura dan di banyak tempat, selalu terjadi gempa literasi saban hari. Kukira, seismograf unesco sudah aus dan tak bisa dipakai lagi.