Awal Permulaan Kecintaan Membaca


Oleh Roynaldy Saputro

Beberapa hari yang lalu, ada remaja yang mengunjungi TBM Mengarang, mereka bilang mau membaca beberapa buku. Saya persilahkan mereka untuk membaca sesuka hati, dan mencari buku yang disukai.

Berhubung kami belum memilah buku-buku dengan jenis genre tertentu. Kami menyediakan buku masih jadi satu di suatu meja. Memang kami memang belum mengkualifikasikan buku karena rata2 buku kami masih satu genre yaitu wacana-wacana sosial.

Akhirnya remaja tersebut bertanya, “mas novel ada gk ?”. Pertanyaan yang membuat saya cukup terkejut karena memang saya belum banyak menyediakan novel, walaupun sudah ada 3 novel, yaitu adzan subuh karya makmun afanny, geni jora, dan rubuhnya surau kami, buku2 karya pramodya. Tapi mungkin mereka belum mengenal novel-novel tersebut. Saya kemudian menjawab ” adanya baru judul itu, dicoba saja dibaca, insyaa Allah seru”. Remaja perempuan trsebut akhirnya memilih novel berjudul adzan subuh, dia bawa pulang.

Masih ingat dalam benakku beberapa hari kemarin juga seorang ibu-ibu bertanya, ” mas ada buku masak ?”. Saya jawab, ” belum ada buk, ngapunten(maaf). Besok2 tak carikan nggeh”. Seorang anak kecil juga bertanya ” mas ada buku yang bergambar warna warni ?” saya jawab juga ” belum dek. Besok2 coba tak carikan”

Dari kejadian-kejadian tersebut akhirnya saya berfikir keras. Membuat minat baca masyarakat supaya tinggi, tidak bisa kita menghadirkan sesuatu bacaan yang tidak mereka sukai dan tidak mereka butuhkan. Awal perubahan dan awal permulaan minat baca ditentukan dengan menyediakan buku2 yang sesuai kebutuhan cara berfikirnya. Apalagi ini ditinjukkan dg progress membaca seorang remaja yang mengunjungi TBM tadi, dalam waktu dua hari, dia sudah selesai membaca buku yang tebalnya kurang lebih 250an halaman. Tentu ini menjadi suatu refleksi bagi kita pegiat literasi. Bahwa memaksa masyarakat untuk memakan makanan yang kita buatkan tidak selalu akan dimakan. Akan tetapi menyediakan makanan yang mereka minta jauh lebih mudah dapat mereka makan.

Dan akan menjadi kebahagiaan sendiri bagi kami pegiat literasi melihat, bagaimana buku dapat menmukan pembacanya. Seperti yang selalu dikatakan ketua serikat taman pustaka, David Effendi “Kegembiraan adalah pada saat dapat mengirimkan buku buku kepada orang tua asuhnya, kepada pembacanya. Dan itulah amalan yang akan menyelamatkan kita. ”

Dengan ber-refleksi seperti itu, maka ketika saya kerumah mertua pada hari sabtu, 10 Maret kemarin. Ber inisiatif meminjam buku novel dari mertua. Maklum mertua saya guru bahasa Indonesia dan tahun kemarib sudah menyelesaikan s2 nya. Akhirnya 6 novel saya bawa dari temanggung ke jepara. Ada laskar pelangi, kupu-kupu malam, dll.

Selagi saya mampu mencarikan buku untuk masyarakat, disiitulah kegembiraan saya sebagai penghubung dari karya tulisan ide2 orang lain ke masyarakat umum.