Anak Muda dan Gerakan Ekologi


Oleh:Hanapi

Mahasiswa Magister Political Studies UGM dan Peneliti Gerakan Ekologi Kaum Muda

Empat hari yang lalu seluruh warga dunia memperingati Wordl CleanUpDay, yang selalu dirayakan setiap tanggal 15 September  sebagaihari untuk melakukan gerakan bersih-bersih secara global dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya lingkungan yang bersih dan sehat.Gerakan ini berawal dari negara Estonia di mana warga civil berusaha membuat gerakan untuk membersihkan sampah.

Gerakan ini kemudian semakin berkembang dan meluas hingga seluruh negara di dunia memperingatinya, dalam rangka menyelamatkan planet bumi dari kehancuran,yang mana pencemaran lingkungan hidup telah berada pada level yang memperihatinkan.

Data dari Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan bahwa 75% sungai di Indonesia tercemar oleh limba domestik(Republika,28/09/17).Ukuran75% itu bukan persoalan angka-angka saja melainkan betapa kompleksnya persoalan lingkungan hidup yang dihadapi oleh Indonesia. Ini hanya satu dari sekian banyak masalah ekologi,belum lagi masalah di sektor kapitalisme air, yang menguntungkan perusahaan raksasa air di Indonesia,yang menjadikan barang publikmenjadi barang komersial.

Perayaan hari WCD ini sebenarnya sebagaibagian untuk memperkuat komitmen peran semua bangsa dan anak muda untuk mencegah krisis lingkungan dan bencana lingkungan dimasa yang akan datang, karena menurut Prof.Emil Salim ratusan bangsa telah berkontribusi dalam mempercepat kerusakan di muka bumi.

Kalau hampir semua bangsa,yang dipimpin oleh generasi tua telah berkontribusi terhadap kehancuran planet ini,dengan kebijakan rezim mereka ketika memerintah,bagaimana generasi muda atau anak muda ini menjawabnya khususnya dalam konteks Indonesia saat ini. Kalau dilihat dari persoalan pencemaran dan pengelolaan sumberdaya alam, yangbelum dikelolasecarabaik maka anak muda sekaranglah, yang akan paling merasakan dampaknya di masa depan.

Perjuangan Ekologi Kaum Muda di Indonesia

Pasca reformasi gerakan ekologi kaum muda mengalami kebangkitan yang luar biasa di mana generasi milenial ini banyak dianggap sebagai generasi yang hidupnya hanya pada kesenangan dan lebih interaktif dalam dunia virtual ternyata tidaklah tepat.Malahan kaum muda ini mengambil perandalam menyelamatkan hutan dari ekploitasi untuk kepentingan komersial.

Meredian Alam danPamela Nilan(2018:6-14)mengatakan gerakan anak muda di Bandung yang sebelumnya tidak dilibatkan oleh forum warga dalam pengambilan keputusan strategis dalam penyelamatan hutan kota Bandung dari rencana komersial pemerintah dan PT Esa Gemilang Indah.Ternyata malah melahirkan gerakan anak muda, yang memiliki kesadaran dan skil perjuangan ekologis untuk melawan komersialisasi hutan kota ini, yang menggerakkan kaum muda ini berhasil dalam menarik perhatian publik dengan strategi gerakan yang kreatif. Misalnya mereka menggunakan seni pertunjukkan dengan menggunakan baju dan cese bagai upaya untuk menggambarkan bagaimana pertarungan individu terhadapancaman perusakan lingkungan dan juga anak muda ini menggunakan politik pengetahuan dengan cara membagikan hasil research dan data bahwa pembangunan ini telah menyimpang.

Gerakan ekologis kaum muda ini bukan hanya menguat di kota-kota saja tetapi advokasi lingkungan dalam modelkomunitassedangmengalamipenguatandi masyarakatpinggiran atau pesisir. Salah satunya di pesisir pantai Surabaya, KecamatanSukolilodimanakaum muda berusahameng organisirsum berdaya organisasi mereka untuk melakukan aksibersih-bersih pantai dan memberikan pendidikan lingkungan kepadaanak,dalam corak yang menyenangkandan membahagiakan.

Komunitas anak muda surabaya dalam gerakan ekologis ini, tergabung dalam komunitaspelajarmengajardanliterasiramahanak.Dikomunitaspelajarmengajar advokasilingkungan 100 % digerakkan oleh kaum m uda,yang berlandaskan pada pemikiranteoritiknyaGramscitentangintelectualorganik.Artinya.Seorangkaum terpelajar hendaklah m engakar dan berkontribusi secara aktif untuk m endorong perubahandalam masyarakat.

Gerakan kom unitas pelajar m engajar dengan ikon gerakan pelajar organiknya menggunakanmetodekreatifdalam memberikanpendidikanlingkungan,misalnya menggunakan metode puzle,dengan menyusun gambarorang yang sedang merusakalam danwayanguntukmembuatpendidikanlingkungansemakinbersifat transformatifdanliberatif(HandanPrakoso,2018:16).

Menguatnyagerakanekologiskaum mudainisetidaknyadisebabkanoleh beberapa faktoryaitu:Pertama,lemahnya peran negara dalam memberikan pendidikan lingkungan secara merata ke seluruh daerah diIndonesia,dimana kebijakansekolahAdiwiyatamasihbanyakberpusatdikota-kotabesarterutama PulauJawa.GerakanHijauberbasissekolahinibelum meratadipelosok-pelosok;

Kedua,peran organisasilingkungan nasionaldan globalyang membentuk organisasianakmudahijaudibawahnaunganmereka,organisasiinimisalnya,Earth OurIndonesia yang berada dibawah naungan World Wildlife Fund,yang mana organisasianak muda iniberusaha untuk melakukan gerakan kolektifuntuk mematikanlampuselamasatujam dalam rangkapenguranganpenggunaanenergi

listrik (Suharko dan dkk,2014:53-60).Kalau gerakan ekologis anak muda yang berafiliasidengangerakanNGOnasionalyakni,WALHI(WahanaLingkunganHidup Indonesia,yangmembentukbanyakorganisasimuda.DiYogyakartaadaSahabat LingkunganyangdiprakarsaiolehWALHIYogyakartauntukmemperkuatkesadaran dankampanyelingkungankepadamasyarakat(Ibid,.2014:71-77).

Ketiga, munculnya gelombang gerakan literasi berbasis komunitas yang ikut mendorong kesadaran kaum muda bahwa pendidikan dan visi lingkungan untuk tidak terpisahkan. Contoh gerakan berbasis komunitas ini Rumah Baca Komunitasdi Yogyakarta, yang berusaha menyediakanbuku 24 Jam dan memberikan pendidikan lingkungan kepada mahasiswa dan pemberian bibit tanaman diruang publik, biasanya dilakukan setiap minggu di Alun-Alun Kidul Yogyakarta. Keempat, persoalan lingkungan hidup yang semakin mendesak dan bencana lingkungan seperti krisis air dan masalah sampah telah memenuhi lautan telah menyadarkan kaum muda bahwa mereka harus bergerak dalam mendorong perubahan sosial (transformasi sosial).

Politik Sehari-hari Kaum Muda dan Masyarakat Ekologis

Kehadiran gerakan ekologis yang dinisiasi kaum muda ini sebagai bentuk perlawanan terhadap wacana politik dominan selama ini, yang manapolitik selalu identik dengan perebutan kekuasaan, kepentingan material dan penguatan jaringan oligarki.

Kaum muda milenial di Indonesia banyak merasakan bahwa generasi aktivis banyak terjebak dalam politik berjangka pendek dari pada membangun masyarakat ekologis ataupun masyarakat civil yang kuat.Paradigma politik untut kepentingan pragmatis telah memperkeruh pembangunan pendidikan politik untuk warganegara.

Gerakan ekologis kaum muda yang ada di setiap daerah Indonesia telah menghadirkan wacana baru dalam politik Indonesia di mana politik tidak hanya berkutat pada kaum elit tetapi kepada hal yang sehari-hari dihadapi oleh warga negara (everyday politics).Misalnya,soalcara mendapatkan makanan gratis, memperkuat ketahanan ekologis keluarga melalui sumber daya alam seperti air yang gratis untuk kebutuhan keluarga dan produksi makanan lokal untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Gerakan ini hadir untuk menghidupkan wacana politik lingkungan (green politics) agar pembangunan yang diselenggarakan negara, harus memikirkan kaum perempuan dan masa depan mereka.

Visi gerakan kaum muda adalah untuk mewujudkan masyarakat ekologis,yang ditandai kesadaran lingkungan dan aksiyang kuat dari semua kalangan untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan dan memperkuat peran masyarakat dalam pembuatan keputusan publik dan dilibatkannya kaum muda dalam agenda- agenda pembangunan karena selama ini kebijakan pembangunan diIndonesia memilik implikasi yang besar terhadap kerusakan lingkungan.Dengan adanya narasi gerakan ekologis kaum muda ingin menyampaikan kepada seluruh partai politik bahwa tawaran mereka dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan sangatlah

minim.

Protes sosial dan kemenangan gerakan kaum muda dalam menyelamatkan lingkungan sepertiyang terjadi di Kota Bandung, hanya salah satu bentuk perwujudan idealisme kaum muda untuk mewujudkan tegaknya kedaulatan ekologis bangsa sebagaimana termaktub dalam green konstitusi bangsa, dimana pembangunan tidak boleh merusak lingkungan dan merugikan generasi masa yang akan datang.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *