Alat Permainan Edukatif


 

Oleh: SRI LESTARI LINAWATI
(Penggagas dan pendiri BirruNA, PAUD Berbasis Alam dan Komunitas)

Balok-balok berwarna-warni berukuran 6 cm itu saya buat untuk memenuhi kebutuhan siswa kami usia 0-6 tahun.

Para siswa kami yang dititipkan karena ibu bapaknya harus bekerja ini memiliki waktu panjang untuk bermain. Setidaknya sejak jam 8 hingga jam 4 sore. Bila ibu bapak harus mruput kerja, kadang anak sampai di sekolah jam 05.30. Belum lagi bila ibu ada tugas peningkatan keilmuan, maka anak akan menginap di sekolah yang notabene rumah Bu Guru.

Nah, dengan demikian, yang sangat memungkinkan bagi kami para pengelola, pendidik, dan pengasuh (baca: surrogate mother, ibu pendamping) adalah integrasi keilmuan. Ya main, ya belajar. Keseharian anak-anak itu digunakan sebagai media dan momentum pembelajaran.

Kembali ke hal balok pembelajaran bahasa Arab dan Alquran. Saat itu, saya terinspirasi dari kebutuhan pembelajaran. Anak-anak itu, meski seringkali menangis, rewel, ngompol, nyubit temen, tetap saja adalah jiwa yang haus belajar. Ini yang pertama. Kedua, anak-anak itu butuh media pembelajaran yang asyik untuk dimainkan kapan saja saat mereka suka dan menginginkannya.

Untuk hal kedua itu, fakta di lapangan adalah jam belajar anak seringkali nggak match dengan guru. Guru siap mengajari, e… anak baru butuh disuapi untuk makan pagi atau makan siang. Usai makan, maunya jalan-jalan keliling kampung dan mencari kupu-kupu atau capung. Hla giliran guru menidurkan adik bayi, sang kakak getol minta diajarin. Waduh..

Waktu itu sempat nyari rekan pembuat balok profesional yang bisa bantu menggandakan balok sebagaimana yang saya buat. Ada sih.. Cuma waktu itu kami nggak punya dana, haha.. kacian deh lu.. Semangat tak boleh padam. Kami terus kobarkan semangat para siswa dengan bermain balok yang kami buat. Seadanya. Luar biasa, keterbatasan tak menghalangi semangat belajar siswa. Anak-anak tetap saja antusias.

Balok itu memiliki 6 sisi. Tulisan di tiap sisi terdiri dari huruf Arab depan, tengah, belakang, sendiri dan huruf Indonesia/latin kapital dan kecil. Adapun warna, terbatas dengan cat biasa.

Ada juga peraga baca huruf Arab dengan kain. Hihi.. maklum, anak-anak kan tetap anak-anak, bukan manusia dewasa mini. Kalau main, kadang kain jadi lap ingus. Nah, guru nggak boleh marah nih. La taghdhab walakal jannah. Alhamdulillah anak tahu bahwa saat hidungnya mbeler punya akal untuk membersihkan. Soal kain peraga baca Arab yang kena mbeleran, ini adalah tugas bu guru untuk mencuci. Bukankah “berani kotor itu baik”? Hehe.. iklan nih ye…

Ibu, Bapak, Mbak, Mas, Tante, Om, Bude dan Pakde yang sedang mendidik si kecil, tetaplah semangat dan tebarkan senyum saat mendampingi belajar. Alat permainan edukatif berupa balok baca huruf Arab sangat diperalukan keberadaannya bagi anak didik kita. Nunggu mood anak memang tidak mudah. Menahan marah jelas perintah agama. Keterbatasan guru adalah soal klasik yang entah kapan akan terjawab. Karenanya, inovasi pembelajaran bahasa Arab, sejak anak usia dini, sangat urgen dan strategis bagi masa depan bangsa.

Siapa pun kita warga bangsa, marilah terus lakukan inovasi pembelajaran bahasa Arab bagi pemahaman Alquran yang lebih baik. Kata Pak Amien Rais, “Yang penting kita terus berkiprah menuju perubahan yang lebih baik.” []


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *