Aktualisasi Gerakan Jihad Literasi


Oleh : Agung Hidayat Mansur

“..siapa saja dapat menjadi penggerak literasi..”
~ Dauzan Farook ~

Literasi secara umum adalah kemampuan individu mengelolah dan memahami informasi saat menbaca dan menulis. Literasi lebih dari sekedar kemampuan baca tulis, oleh karena itu, literasi tidak lepas dari keterampilan berbahasa yaitu pengetahuan baca tulis dan lisan yang  memelukan serangkaian kemampuan kognitif, pengetahuan terhadap gender dan kultural.

Sedangkan jihad literasi adalah suatu kesungguhan kepada masyarakat untuk membudayakan literasi pada diri masing-masing, dimana setiap masyarakat harus dapat mengelolah informasi secara baik dan benar dalam membaca dan menulis.

Aktualisasi Gerakan Jihad Literasi

Menurut Maslow bahwa aktualisasi diri merupakan tingkat kebutuhan yang paling utama yang dimiliki seseorang. Pribadi yang teraktualisasikan secara bebas adalah penggunaan atau panfaatan secara penuh bakat, kapasitas-kapasitas, potensi-potensi, dan sebagainnya.  Orang semacam itu memenuhi dirinya dengan melakukan yang terbaik yang dapat dilakukan.

Pengaktualisasian dalam gerakan literasi ada pada dua aspek yaitu aktualisasi diri pegiat dan aktualisasi lewat komunitas.

Pertama, aktualisasi diri dari pegiat literasi, dimana pada gerakan literasi ini digerakkan oleh para pegiat sebagai pelaku utama dalam gerakan ini, sebagai seorang pegiat literasi harus mampu mengaktualisasikan dirinya pada gerakan literasi ini dengan memanfaatkan segala bakat, kapasitas-kapasitas, potensi-potensi dan sebagainya dari masing – masing pegiat yang ada.

Misalnya pegiat yang memiliki bakat pada dunia menggambar atau desain grafis, pegiat dapat mengaktualisasikan gerakan literasi lewat gambar-gambar yang mengandung unsur-unsur literasi, serta pegiat yang memiliki bakat dan kapasitas dalam tulis menulis tentunya agar gerakan literasi ini dapat di gerakan secara massif pegiat harus mampu mendorong minat baca masyarakat telawat tulisan yang ditulis oleh pegiat literasi.

Kedua, aktualisasi gerakan literasi lewat komunitas, komunitas literasi perlu mengaktualisasikan dirinya kepada masyarakat dalam mewujudkan cita-cita komunitasnya lewat program-program penguatan gerakan literasi. Misalnya, komunitas yang memiliki perpustakaan publik di suatu tempat dapat mengaktualisasikan diri secara lebih besar lagi dengan cara membuka perpustakaan yang paling mudah di jangkau oleh masyarakat.

Sebagai contoh lainnya, buku yang ada di perpustakaan dapat dibagi-bagi atau disebar keberbagai tempat. seperti, pangkalan ojek, rumah makan/kafe, tempat ibadah, fasilitas publik atau tempat wisata bahkan sampai ke tempat-tempat terpencil atau perkampungan yang jauh dari akses bacaan.

Hal inilah yang harus dapat dilakukan oleh komunitas literasi dalam melakukan jihad gerakan literasi, salah satu komunitas literasi di Sulawesi Barat Rumah Baca Mentari dalam melaksanakan program-program literasinya. seperti, Gelar Buku buku di Alun-alun Wonomulyo, pendirian perpustakaan di Desa Makkombong Kecamatan Matakali, dan donasi buku kebeberapa komunitas literasi.

Seperti yang dikatakan oleh Dauzan Farook bahwa ” siapa saja dapat jadi penggerak literasi”, hal inilah yang benar terjadi di Komunitas Rumah Baca Mentari yang di gerakkan oleh pegiat/relawan yang masih duduk dibangku sekolah atau perguruan tinggi diantaranya, SMK Muhammadiyah Wonomulyo, SMA N 1 Wonomulyo, SMA N 1 Polewali,  AKPER YPPP dan UNSULBAR.

Gerakan literasi yang hari ini dilakukan oleh berbagai komunitas diyakini dapat membawa bangsa kita menjadi bangsa yang lebih baik dan maju dalam peradaban, serta akan meningkatkan kualitas kehidupan yang lebih baik dan bermakna untuk generasi yang akan datang


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *