Advokasi Apresiatif


Oleh: David Efendi*)

Apa itu advokasi dan mengapa perlu pelajar punya basis dan tradisi advokasi yang lebih kuat dan efektif? Beberapa penjelasan bisa sedikit kita urai. Pada umumnya, dalam konteks negara pembelaan adalah dikarenakan negara itu menganut sistem hukum. Hukum yang adil bagi semua orang. Upaya Pembelaan sebaya atau tidak merupakan (1) Upaya persuasi yang mencakup kegiatan penyadaran, rasionalisasi, argumentasi, serta rekomendasi tindak lanjut mengenai suatu hal atau kejadian; (2) Suatu bentuk upaya sistematis dan teroganisir untuk mempengaruhi kebijakan publik sebagaimana yang diinginkan pihak yang mendesak terutama dan utama adalah soal rasa dan praktik keadilan (Roem Topatimasang, 2000); dan terakhir merupakan Bentuk pertolongan terhadap ‘korban’ sebagai ekspresi politik pembebasan (liberacy) atau politik perlawanan (politics of resistance) dan di dalam percampurannya sejatinya adalah melekat politik harapan (politics of hopes).

IPM punya tradisi Freirian yang kuat dan juga Gandhian dalam konteks melawan kekerasan tanpa kekerasan misalkan yang pernah didesain IPM adalah GATK (Gerakan Aktif Tanpa Kekerasan), pembelaan sebaya, dan juga dalam revolusi yang futuristic dikenal revolusi semut—untuk mendorong transformasi sosial. Gerakan-gerakan ini didukung oleh penguatan tradisi literasi yang kuat seperti Majalah Kuntum dan pamphlet-pamflet lainnya. Ideologi advokasi di IPM setidaknya dikerangkai oleh tiga motiv utama yaitu sebagai manifesto Teologi al-Maun, keberpihakan pada mustadafin; kedua sebagai praktik Pembelaan kepada kelompok rentan : difabel, perempuan, anak-anak, lansia, dll dan juga sebagai upaya berkesinambungan untuk menjaga dan memastikan agar kekuasaan tidak sewenang-wenang (abuse of power).

Sebelum lebih jauh, penggunaan terminologi advokasi apresiatif adalah terjemahan dari “advocacy appreciative” yang juga bisa diterjemahkan menjadi apresiatif advokasi karena kedua kata ini saling menerangkan satu sama lain sehingga urutan-urutannya tidak begitu problematic bagi saya—alirannya fungsional bukan soal kebahasaan. Inilah pembelaan saya karena rada malas membuka kamus. Kedua, tulisan singkat ini adalah oleh-oleh menadi fasilitator singkat sekolaha dvokais yang diselenggarakan PP IPM di Jakarta beberapa pekan lalu. Karena advokasi adalah praktik sosial gerakan pelajar Muhamamdiyah, maka gerakan ini haruslah diperkuat dengan mendayagunakan beragam strategi dan paradigma yang memungkinkan bekerjanya organisasi secara efektif dan emansipatif.  

Advokasi atau pembelaan secara sistematik sebagai praktik sosial merupakan salah satu urusan sangat penting selama ini di tubuh gerakan pelajar Muhamamdiyah. Sudah banyak perangkat pengetahuan yang didayagunakan untuk menemukenali persoalan dan jawaban atas masalah aktual yang dihadapi masyarakat pelajar (basis gerakan) sejak tahun-tahun awal berdirinya organisasi ini. Sebagai sebuah gerakan, advokasi adalah nafas keberpihakan yang dapat diupayakan secara terus menerus tanpa Lelah untuk mendorong keadilan, keterlindungan, dan kemajuan pelajar Indonesia. Di IPM dikenal metode problem solving, Analisa sosial, Analisa stakeholder, dan appreciative inquiry atau disingkat AI—dikenalkan sejak tahun 2013-an yang didesain untuk lebih manusiawi di dalam mengupayakan penguatan organisasi dan pembelaan kepada kepentingan pelajar. Misal beberapa persoalan yang lazim didiskusikan bagaimana mengurangi tawuran, bagaimana mengurangi kekerasan di sekolah, kekersan seksual, kerusakan lingkungan hidup, dan kaderisasi yang mendeg. Dalam AI bukan sumber persoalan yang dicari cari dan asumsi-asumsikan tetapi lebih kepada penguatan pada hal apa yang selama ini telah berjalan dengan baik. Dengan memperkuat yang sudah baik pelan tetapi pasti adalah sedang menyelesiakan banyak persoalan. Pun begitu, bagaimana apresiatif advokasi. 

Menurut Larry Martin Davis bahwa Appreciative advocacy merupakan  a strengths-based approach to intervention. Artinya, pembelaan sistematis dan terukur ini didasarkan pada pendekatan intervensi berbasis kekuatan utama. Misal, pelajar yang mengidap korban hoax dan kekerasan seksual didedekatkan dengan penguatan literasi karena pelajar sejatinya punya ruang yang memadai akan tradisi baca-tulis-riset. Sangat pas dengan selama ini yang telah dipraktikkan oleh IPM, bahwa the problem solving technique, Appreciative Inquiry, as the foundation for his model of Appreciative Advocacy—fondasi dari apresiatif advokasi adalah pendekatan hadap masalah dan AI. 

Jalan advokasi pelajarada banyak diantaranya adalah jalan Literasi. Jalur ini lebih terpusat pada pendidikan, pendalaman prngetahuan, kekuatan memahani secara kritis tentang selutuh tata surya kehidupan: budaya, ekonomi, gender, lembaga pendidikan, ekologi, dll. Kedua, jalan Politik yaitu sebagai presure group, evidance based policy and advocacy sebagai pilar demokrasi utama (CSO), oposisi dan kolaborasi. Dan terakhir adalah jalan hukum, in case, jalur peradilan harus ditempuh. Ini tidak baku, tetapi idealnya sebuah advokasi adalah kehendak untuk berubah sehingga terhubung sangat kuat mengenai apa yang paling diperlukan, siapa targetnya yang paling utama : jaringan sipil, keluarga, pemerintah, memikirkan apa yang kita punya, dan kesempatan yang ada demi keberlanjutan aktifitas advokasi ini.

Ada dua jenis advokasi yang coba didiskusikan yaitu advokasi konvensional dan advokasi baru (new advocacy) atau appreciative advocacy. Untuk advokasi pertama pada umumnya dimulai dari pertanyaan Siapakah kelompok lemah? Mengapa dan bagaimna pelajar menjadi lemah, takberdaya, jadi korban, jadi obyek exsperiment, ? lalu kita akan menganalisis secara kritis baik dengan problem solving atau ansos dan berakhir dengan sederetan daftar persoalan dan aktor yang terlibat. Proses ini membutuhkan waktu dan energi yang besar. Untuk masuk ke ranah peradilan, juga membutuhkan biaya yang tidak murah. Makna solidaritas dalam hal ini sangatlah vital dan sentral. Pada umumnya terdapat dua bentuk solidaritas: (1) solidaritas insani atau solidaritas kemanusiaan; (2) solidaritas non-manusia (lingkungan kehidupan yang lebih luas). Dari dua jenis atau bentuk solidaritas ini identifikasi praktik advokasinya: siapa, apa, mengapa, dan bagaimana-nya bisa mulai diurai. Satu lagi, praktik advokasi model ini dapat dimulai dari pembaaan dan pencermatan kasus, lalu menIdentifikasi siapa kawan dan lawan, dan roadmap yang dikerjakan sesuai tahapan rencana yang sudah dibuat, dan yang diperlukan konsistensi dan fokus pada masalah..

Advokasi non konvensional atau Apresiative Advocacy (AA) akan dimulai dari identifikasi dari praktik praktik beroganisasi dan pembelaan yang sudah berjalan (yang baik, baik sekali, yang berkelanjutan, yang rutin, yang unik, dan seterusnya). Dari sana kekuatan ini ditransformasikan untuk memperkuat daya kreatif, daya transformasi, daya ubah, dan daya tahan untuk agenda atau visi yang lebih luas dan jauh ke depan. Betul sekali, cara kerja AA ini sangat berkelindan dengan tradisi AI. Dengan sudah terbiasanya AI sebagai cara pandang, metode riset, IPM mempunyai peluang sangat kuat untuk mengembangkan model advokasi baru ini. Saya akan berikan contoh begini:

Dampak dari liberalisasi Pendidikan menjadikan proses peminggiran secara serius dan sistemik akan akses terhadap pengetahuan. Muncul juga kekerasan kekerasan baru di ruang-ruang Pendidikan formal. Ada standarisasi yang menjadikan posisi peljaar dan keluarga tidak setara. Ada juga muncul putus sekolah, kekerasan, criminal yang dipraktikkan pelajar. Bentuk advokasi yang sangat damai adalah dengan mengembangkan literasi inklusif, pembelajaran berbasis Komunitas, akses buku secara gratis (books for all), semua orang berhak maju, dan digelarnya beragam praktik perpustakaan jalanan, rangsel pustaka, dan seterusnya. Ini adalah bentuk advokasi apresiatif berdurasi Panjang. Karenanya, butuh ketahanan mental, butuh ideaolgisasi, butuh kesadaran teologis untuk memastikan semua itu berjalan tidak hanya seumur periode permusyawaratan organisasi—seumur jagung. 

Level perubahan yang diharapkan advokasi apresiatif adalah merubah perilaku publik secara lebih luas tentang isu yang diadvokasi(sebagai contoh: melalui media, group keagamaan, dengan petisi. Kedua, mendayuganakan sumberdaya yang ada, dan terakhirmewujudkan Jaringan sipil yang kuat bagi pengawasan terhadap kebijakan pemerintahan (contoh: mengevaluasi implementasi dari undang-undang): kelompok aliansi, dll. Karena visi ini  sangatlah perlu penguatan dan penekanan bahwa kolaborasi itu bukan nol syarat, misalnya kolaborasi untuk keadilan, kolaborasi untuk keamanan ekologis, atau semakhluk kolaborasi kritis.

Saya juga ingin memberikan pengalaman mengikuti proses sekolah advokasi yang belum lama diadakan oleh PP IPM di Jakarta. Terlihat sekali nalar ansos dan AI sedang berkelindan dan bersyukurlah muncul beragam persoalan yang tak terhindarkan barulah peserta memproses untuk memasukkan AI ke dalam cara pandang terhadap kekuatan (ketimbang permasalah) hanya saja ini membutuhkan ikhtiar yang kuat dan nafas Panjang untuk memulai memandang kekuatan terlebih dahulu ketimbang persoalan. Misalkan, bagaimana potensi penggunaan social media di kalangan pelajar Muhammadiyah dapat membantu kampanye kesadaran lingkungan dan penyelamatan bumi, juga untuk kampanye menolak kekerasan dan perkelaihan pelajar dana tau Narkoba. Ini lah yang menarik jika potensi dipandang sebagai pintu masuk melakukan perubahan. 

Soal perbedaan tidak perlu dirangkum lagi karena masing-masing tentu saja punya kekuatan dan daya terap dalam konteks yang ada. Adapun kesamaan dari kedua model advokasi adalah sama-sama memerlukan sumber daya dan mobiliasi kekuatan Ilmu pengetahuan, Keahlian (pengalaman), Struktur/Lembaga, koalisi (Lembaga lain yang simpati dengan gerakan kita, Budaya, dan finansial.

 *PP IRM 2006-2008, Ketua serikat Taman Pustaka Muhammadiyah


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *