Tadarus Literasi Bangkitkan Minat Menulis Sejarah Lokal

Yogyakarta,  Kauman (22/3). Perpustakaan masjid gede Kauman bekerjasama dengan serikat taman pustaka menyelenggarakan diskusi bulanan dengan tajuk tadarus literasi dengan judul penulisan sejarah taman pustaka berbasia sejarah lokal. Narasumber ahli dihadirkan dalam kegiatan ini Ghifari Yuristiadhi (UGM)  dan Ibu Widiyastuti dari Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah.

 

Tanggal 17 Juni 1920, KH Ahmad Dahlan memberi amanat untuk merintis dan mengembangkan Bahagian Penoeloeng Kesengsaraan Oemoem (PKO). Kepada Haji Fachrodin, khatib amin memberi amanat untuk merintis dan menyebarkan Muhammadiyah lewat Bahagian Tabligh. Kepada Haji Hisyam, pendiri Muhammadiyah mengamanatkan untuk mengembangkan Bahagian Sekolahan. Dan kepada Haji Mochtar, kiyai modernis dari Kauman itu memberi amanat untuk merintis penerbitan majalah dan buku-buku serta mendirikan bibliotheek (Mu’arif, 2017)
“Jadi, kita sedang melacak kepastian bibliotheek atau perpustakaan “taman pustaka” ini tanggal dna tahun kapan berdirinya.”, ujar David Efendi mengomentari arah pembicaraan.

Sementara bu Wiwid menytakan bahwa peprustakaan diinisiasi karena local wisdom kaum terdidik Muhammadiyah tahun 1921-an atau sebelumnya sebagai upaya dakwah ilmu pengetahuan dan islam itu sendiri. Kekuatan local wisdon berikutnya digerakkan oleh personal seperti Dauzan Farook dan siapa saja pada periode berikutnya.

Ada kedermawanan dalam urusan pengetahuan, sama persis sejalan dengan kemauan berderma dalam bentuk lainnya: uang, hasil panen, dan sebagainya. Di kauman, taman pustaka atau pada penggalan berikutnya, mabulir menjadi pusat pertemuan dan kolaborasi dan pertemuan kegiatan bareng antara anak remaja kauman asli (KK, baca:kaka) dengan kelompok pendatang (disebut PD(baca:pede)

Diskusi ini dikhususkan tentang bagaimana menulis sejarah lokal, lebih khusus perjalanan gerakan literasi di Kampung Kauman. Sejak hadirnya Bagian Pustaka Hoofdbestuur Muhammadiyah pada 1920 yang membangun bibliotek Muhammadiyah di beberapa titik, munculnya Perpustakaan Mabulir pada 1950an hingga hadirnya Perpustakaan Masjid Gedhe pada 1990an.

Menarik sekali membincangkan gerakan intelektual yang dilakukan non-state actor di awal hingga akhir abad XX di ruang yang bernama Kauman, ujar Ghifari dalam pemaparannya.